Setiap orang pasti ingin hidup dengan keuangan yang stabil. Kita semua ingin bisa menabung, berinvestasi, memenuhi kebutuhan, dan tetap menikmati hidup tanpa harus pusing setiap akhir bulan. Tapi kenyataannya, banyak orang justru merasa hidupnya dikejar-kejar tagihan, gaji selalu habis sebelum tanggal tua, dan tabungan tak kunjung bertambah. Sering kali kita menyalahkan keadaan: harga barang naik, gaji kecil, kebutuhan banyak, atau ekonomi sedang lesu. Namun, pernahkah kita berpikir bahwa mungkin penyebab utamanya bukan di luar diri kita, tetapi justru di dalam diri sendiri?
Inilah yang disebut dengan kendali diri atau dalam istilah psikologi dikenal sebagai internal locus of control. Sederhananya, ini adalah keyakinan bahwa hidup kita — termasuk urusan keuangan — ditentukan oleh tindakan dan keputusan kita sendiri. Orang yang memiliki kendali diri tinggi percaya bahwa mereka punya peran besar dalam menentukan nasib keuangannya. Sebaliknya, orang yang memiliki external locus of control atau merasa kendali hidupnya ada di luar diri, cenderung berpikir bahwa keberhasilan finansial bergantung pada nasib, keberuntungan, atau situasi di luar dirinya.
Coba bayangkan dua orang yang hidup dengan kondisi hampir sama. Ani dan Budi, keduanya bekerja di tempat yang sama dan bergaji sama: lima juta rupiah per bulan. Setiap bulan, Ani selalu mengeluh bahwa uangnya tidak cukup. Ia sering berkata, “ya wajar saja, harga barang makin mahal, gaji segini mana bisa nabung.” Setiap kali gajian, ia langsung membeli barang-barang yang menurutnya “penting,” seperti baju baru, skincare, dan makan di kafe. Saat uang menipis, ia mulai memakai kartu kredit atau paylater untuk bertahan sampai akhir bulan.
Budi berbeda. Ia juga merasa harga-harga naik, tapi ia punya cara pandang lain. Ia percaya bahwa kalau tidak diatur, uang sebesar apa pun akan habis. Maka ia memutuskan untuk menabung 500 ribu rupiah setiap bulan, tidak peduli sekecil apa pun jumlahnya. Ia mencatat pengeluaran hariannya, menolak membeli hal yang tidak benar-benar perlu, dan lebih suka memasak di rumah daripada makan di luar. Enam bulan berlalu, Budi sudah punya tabungan darurat tiga juta rupiah dan mulai mencoba berinvestasi kecil-kecilan di reksa dana. Ani? Ia masih sibuk membayar tagihan paylater yang makin menumpuk.
Padahal, mereka berdua punya kondisi yang sama. Bedanya hanya satu: cara mereka memandang kendali hidup. Budi percaya bahwa dirinya mampu mengatur uang dan menentukan masa depannya. Sementara Ani merasa keadaannya sudah ditentukan oleh nasib. Perbedaan kecil dalam cara berpikir ini ternyata membawa hasil yang besar dalam kehidupan nyata.
Kendali diri bukan sekadar soal menahan diri dari berbelanja atau membuat anggaran. Lebih dari itu, kendali diri adalah kesadaran bahwa setiap keputusan kecil yang kita buat hari ini akan berdampak pada masa depan finansial kita. Ketika seseorang percaya bahwa nasib keuangannya bisa diubah melalui usaha dan keputusan pribadi, maka ia akan cenderung lebih bertanggung jawab terhadap uangnya. Ia akan belajar, mencari cara, dan beradaptasi. Tapi jika seseorang merasa tidak punya kendali, maka ia cenderung pasif, menyalahkan keadaan, dan jarang berusaha memperbaiki situasi.
Contohnya bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Ketika seseorang kehilangan pekerjaan, orang yang memiliki kendali diri tinggi tidak akan berlama-lama tenggelam dalam kesedihan. Ia akan segera mencari peluang baru, memperbaiki CV, belajar keterampilan tambahan, atau mencoba bisnis kecil. Sementara orang yang kendali dirinya lemah mungkin akan berkata, “saya memang apes,” lalu menyerah tanpa mencoba. Akibatnya, satu tetap bergerak maju, sementara yang lain tertinggal.
Dalam urusan keuangan, hal yang sama terjadi. Orang dengan kendali diri tinggi cenderung memiliki kebiasaan finansial yang sehat: mereka punya tujuan menabung, menghindari utang konsumtif, dan berpikir panjang sebelum membeli sesuatu. Mereka juga lebih sabar dalam berinvestasi karena sadar bahwa hasil besar datang dari proses panjang. Sebaliknya, orang dengan kendali diri lemah sering tergoda pada iming-iming “cepat kaya” atau “belanja demi kebahagiaan sesaat.” Mereka mudah panik ketika rugi sedikit dalam investasi, atau cepat menyerah ketika tabungannya habis karena godaan diskon.
Menumbuhkan kendali diri bukan hal mudah. Tapi bukan berarti mustahil. Semua bisa dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus. Misalnya, biasakan mencatat pengeluaran setiap hari agar tahu ke mana uang mengalir. Tetapkan target menabung walau kecil, seperti 5 atau 10 persen dari penghasilan. Buat daftar prioritas sebelum belanja agar tidak tergoda pada hal yang tidak perlu. Dan yang paling penting, ubah cara berpikir: dari “uang saya tidak cukup” menjadi “bagaimana saya bisa membuat uang ini cukup.”
Perubahan sederhana dalam pola pikir bisa berdampak besar. Ketika kita mulai percaya bahwa kita bisa mengendalikan uang, kita jadi lebih berani membuat keputusan finansial yang cerdas. Kita mulai mencari pengetahuan baru, membaca buku keuangan, atau menonton video edukatif tentang investasi. Dari situ muncul rasa percaya diri untuk mengelola uang sendiri tanpa tergantung pada nasib atau orang lain.
Kendali diri juga berhubungan erat dengan emosi. Banyak keputusan keuangan buruk terjadi karena emosi sesaat — rasa ingin diakui, takut ketinggalan tren, atau sekadar mencari pelarian dari stres. Dengan kendali diri yang kuat, seseorang mampu menunda keinginan sesaat demi tujuan jangka panjang. Ia belajar bahwa menahan diri sekarang bisa berarti kebebasan di masa depan. Seperti pepatah lama: orang sukses adalah mereka yang bisa menunda kesenangan demi hasil yang lebih besar nanti.
Dalam dunia modern yang serba cepat dan konsumtif, kemampuan mengendalikan diri menjadi semakin penting. Iklan, media sosial, dan gaya hidup teman-teman sering kali membuat kita merasa harus memiliki segalanya sekarang juga. Tapi kenyataannya, kebahagiaan sejati sering kali datang bukan dari berapa banyak yang kita punya, melainkan dari perasaan tenang karena kita tahu bagaimana mengelola yang kita miliki.
Kendali diri juga memberikan rasa damai batin. Ketika seseorang tahu bahwa keuangannya teratur, ia tidak mudah stres setiap kali ada pengeluaran mendadak. Ia tidak perlu khawatir berlebihan tentang masa depan karena tahu dirinya sudah punya arah. Ini bukan berarti hidupnya tanpa masalah, tapi ia punya keyakinan bahwa apa pun yang terjadi, ia bisa mengatasinya.
Pada akhirnya, uang bukan sekadar alat tukar, melainkan cermin dari cara kita mengatur hidup. Orang yang mampu mengendalikan uang biasanya juga mampu mengendalikan diri. Mereka tahu kapan harus berhemat, kapan harus menikmati hasil kerja, dan kapan harus mengambil risiko dengan perhitungan matang. Sementara orang yang tidak punya kendali diri sering kali hidup dalam pola yang sama: bekerja keras, habis gajian langsung habis, lalu menunggu gajian berikutnya.
Membangun kendali diri dalam keuangan bukan soal menjadi orang pelit atau terlalu hati-hati, melainkan soal kesadaran dan tanggung jawab. Dengan mengatur uang secara sadar, kita sebenarnya sedang melatih diri untuk lebih bijak, sabar, dan konsisten. Dari situlah muncul kebebasan finansial yang sejati — bukan karena punya uang banyak, tapi karena tidak lagi diperbudak oleh uang.
Jadi, ketika kita bertanya “mengapa hidup saya belum mapan secara finansial?”, mungkin jawabannya bukan karena gaji kecil atau nasib buruk. Mungkin karena kita belum sungguh-sungguh mengambil kendali atas diri sendiri. Sebab pada akhirnya, uang tidak akan pernah bisa dikendalikan oleh orang yang belum bisa mengendalikan dirinya. Dan ketika kita berhasil menguasai diri, kita akan menemukan bahwa nasib keuangan kita memang ada di tangan sendiri.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”








































































