Tidur merupakan salah satu kebutuhan dasar yang penting bagi manusia karena memengaruhi hampir semua aspek kesehatan, baik fisik maupun mental. Orang yang memiliki jadwal tidur teratur biasanya merasakan banyak manfaat, seperti tubuh yang terasa lebih segar dan pikiran yang lebih jernih untuk menjalani aktivitas. Fenomena menarik muncul ketika seseorang yang terbiasa bangun pagi pada hari kerja tetap terbangun pada jam yang sama saat hari libur, meskipun tidak ada alarm ataupun tuntutan tertentu. Hal ini sering menimbulkan pertanyaan, apakah tubuh bangun secara otomatis hanya karena sudah terbiasa, atau ada mekanisme biologis yang membuat hal itu terjadi? Tulisan ini membahas fenomena itu dari sudut pandang biologi dan psikologi, dengan melihat bagaimana ritme tubuh dan kebiasaan sehari-hari yang saling memengaruhi.
Salah satu konsep penting yang berkaitan dengan pola bangun pagi adalah ritme sirkadian. Ritme ini dapat artikan sebagai jam internal yang mengatur banyak fungsi tubuh dalam rentang waktu sekitar 24 jam. Ritme ini mengatur kapan kita merasa mengantuk, kapan kita merasa segar, perubahan suhu tubuh, hingga produksi hormon tertentu. Bagian otak yang bertanggung jawab terhadap pengaturan ritme ini adalah nukleus suprachiasmatik (SCN) yang terletak pada hipotalamus. SCN menerima sinyal dari cahaya yang ditangkap mata lalu memberi instruksi kepada tubuh agar menyesuaikan tingkat kewaspadaan ataupun rasa kantuk. Melatonin, hormon yang meningkatkan rasa kantuk, diproduksi saat malam hari dan berkurang ketika mulai terang. Ketika seseorang terbiasa bangun pada waktu yang sama setiap hari, tubuh akan secara otomatis menyesuaikan produksi hormon dan ritme biologisnya sehingga sinyal untuk bangun tetap muncul walaupun sedang hari libur.
Selain ritme sirkadian, ada faktor biologis lain yaitu homeostasis tidur. Homeostasis tidur mengatur seberapa besar tekanan tidur yang kita rasakan. Semakin lama kita terjaga, semakin besar tekanan tidur yang menumpuk, dan semakin kuat keinginan untuk tidur. Jika malam sebelumnya seseorang tidur cukup, tekanan tidur di pagi hari akan relatif rendah sehingga tubuh merasa sudah cukup istirahat dan tidak mendorong untuk tidur lebih lama. Hal ini dapat menjelaskan mengapa seseorang tetap bangun di jam yang sama meskipun memiliki kesempatan untuk tidur lebih lama di hari libur. Bahkan ketika seseorang tidur agak larut, ritme sirkadian kadang tetap membuat tubuh sulit memperpanjang waktu tidur secara signifikan.
Orang yang terbiasa bangun pagi dalam jangka waktu lama biasanya mengalami kesulitan untuk tidur lebih lama pada akhir pekan. Ada yang menyebut kondisi ini mirip dengan jet lag sosial, karena tubuh sudah terbiasa dengan pola tertentu dan tidak mudah berubah hanya dalam satu atau dua hari. Tubuh yang terbiasa bangun lebih awal akan menghasilkan hormon yang meningkatkan kewaspadaan pada waktu tersebut, sehingga seseorang tetap terjaga meski tidak ada kegiatan penting. Sebaliknya, orang yang lebih sering bangun siang mungkin akan mengalami kondisi berbeda karena ritme tubuh mereka terbentuk dengan pola yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa ritme biologis sangat dipengaruhi oleh kebiasaan sehari-hari.
Selain faktor biologis, kebiasaan atau habit juga memainkan peran besar dalam menentukan waktu bangun seseorang. Otak manusia memiliki kemampuan untuk membentuk pola tertentu berdasarkan perilaku yang dilakukan berulang. Jika seseorang telah terbiasa bangun pagi selama berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan, otak akan merekam pola tersebut. Akhirnya, tubuh bangun pagi tanpa harus disuruh atau diberi alarm. Kebiasaan bangun pagi sering terbentuk karena seseorang merasa mendapatkan manfaat tertentu, seperti memiliki waktu lebih panjang untuk mempersiapkan diri atau merasa lebih produktif. Kebiasaan ini dapat terus berlangsung meskipun situasinya sedang santai seperti saat hari libur.
Selain kebiasaan, faktor psikologis seperti motivasi juga dapat memengaruhi pola bangun pagi. Beberapa orang memiliki rutinitas pagi yang mereka sukai, seperti olahraga, memasak sarapan, atau menikmati waktu tenang sebelum aktivitas harian dimulai. Hal-hal seperti ini membuat seseorang lebih mudah bangun pagi karena memiliki tujuan yang menyenangkan. Lingkungan juga berperan penting, misalnya paparan cahaya matahari di pagi hari yang membantu tubuh mengenali waktu bangun, suhu ruangan yang nyaman, serta kebiasaan sebelum tidur seperti membatasi penggunaan gadget. Semua faktor ini membuat ritme tubuh menjadi lebih stabil dan konsisten.
Fenomena bangun pagi pada hari libur menunjukkan bahwa kebiasaan tidak hanya terbentuk secara psikologis, tetapi juga melibatkan mekanisme biologis yang cukup kompleks. Kebiasaan yang dilakukan berulang dapat menguatkan ritme tubuh hingga akhirnya menjadi pola otomatis. Sudut pandang ini menarik karena memperlihatkan bagaimana pengalaman sehari-hari, lingkungan, dan proses biologis saling bekerja sama membentuk perilaku. Menjaga pola tidur yang konsisten juga baik untuk kesehatan karena dapat membantu stabilitas hormon dan kualitas tidur.
Dalam kehidupan modern, banyak orang dituntut untuk bangun pagi demi pekerjaan atau kuliah. Pola bangun seperti ini dapat menjadi adaptif dan menguntungkan, tetapi tidak selalu sesuai bagi semua orang. Jika kebiasaan bangun pagi membuat tubuh terasa lelah, beberapa perubahan mungkin diperlukan, seperti mengatur ulang rutinitas tidur atau menggunakan terapi cahaya agar ritme tubuh kembali seimbang. Secara keseluruhan, bangun pagi tidak hanya muncul karena kebiasaan, tetapi juga karena tubuh telah mengatur ritme biologis yang mendukung waktu bangun tersebut, sehingga pola tersebut sulit berubah dalam waktu singkat.
- Czeisler, C. A., et al. (1999). “Stability, precision, and near-24-hour period of the human circadian pacemaker.” Science, 284(5423), 2177-2181. https://science.sciencemag.org/content/284/5423/2177
- American Psychological Association. (2020). Sleep and Circadian Rhythms. https://www.apa.org/topics/sleep/circadian-rhythms
- Duhigg, C. (2012). The Power of Habit: Why We Do What We Do in Life and Business. Random House. https://charlesduhigg.com/the-power-of-habit/
- Roenneberg, T., et al. (2007). Social jetlag and obesity. *Current Biology*, 17(21), 939-943. https://www.cell.com/current-biology/fulltext/S0960-9822(07)01929-3
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































