Di era abad ke-21, pendidikan tidak lagi cukup hanya berorientasi pada pencapaian akademik dan penguasaan teknologi. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat membawa perubahan besar dalam cara peserta didik berpikir, bersikap, dan berperilaku. Namun, di balik kemajuan tersebut, muncul berbagai persoalan moral seperti menurunnya sikap sopan santun, meningkatnya perilaku intoleran, maraknya perundungan (bullying), hingga penyalahgunaan media digital. Kondisi ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter menjadi kebutuhan mendesak untuk menjaga moral peserta didik di tengah tantangan zaman.
Tantangan Moral Peserta Didik Abad ke-21
Peserta didik abad ke-21 hidup dalam lingkungan yang sarat dengan arus informasi tanpa batas. Media sosial, gawai, dan internet menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Sayangnya, tidak semua informasi yang diterima bersifat mendidik. Konten kekerasan, ujaran kebencian, budaya instan, hingga gaya hidup hedonis dengan mudah diakses oleh anak-anak dan remaja.
Fenomena ini berdampak langsung pada pembentukan karakter peserta didik. Beberapa sekolah melaporkan meningkatnya kasus pelanggaran tata tertib, kurangnya rasa tanggung jawab terhadap tugas, serta rendahnya empati sosial antar sesama teman. Jika pendidikan hanya menekankan aspek kognitif tanpa menyeimbangkannya dengan pembinaan karakter, maka sekolah berpotensi menghasilkan generasi yang cerdas secara intelektual tetapi rapuh secara moral (Kemdikbudristek, 2022).
Pendidikan Karakter sebagai Fondasi Moral
Pendidikan karakter berfungsi sebagai fondasi utama dalam membentuk nilai-nilai moral peserta didik, seperti kejujuran, disiplin, tanggung jawab, toleransi, dan kepedulian sosial. Nilai-nilai tersebut menjadi bekal penting bagi peserta didik agar mampu menyaring pengaruh negatif dari lingkungan sekitarnya.
Dalam konteks abad ke-21, pendidikan karakter tidak dapat dipisahkan dari penguatan Profil Pelajar Pancasila. Nilai-nilai Pancasila seperti gotong royong, berakhlak mulia, dan bernalar kritis relevan untuk membentuk peserta didik yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga memiliki integritas dan etika dalam kehidupan bermasyarakat (Kemdikbudristek, 2021)
Contoh Kasus Nyata di Sekolah
Sebagai contoh, kasus perundungan yang terjadi di beberapa sekolah menunjukkan lemahnya penanaman nilai empati dan penghargaan terhadap sesama. Banyak peserta didik yang memahami bahwa perundungan itu salah, tetapi tetap melakukannya karena kurangnya pembiasaan sikap berkarakter dalam kehidupan sekolah sehari-hari. Hal ini menegaskan bahwa pendidikan karakter tidak cukup diajarkan secara teoritis, melainkan harus diinternalisasikan melalui praktik nyata dan keteladanan.
Sekolah yang secara konsisten menerapkan kegiatan pembiasaan seperti program literasi karakter, kegiatan keagamaan, kerja kelompok berbasis gotong royong, serta penguatan budaya disiplin terbukti mampu menekan perilaku menyimpang peserta didik (Suyanto & Widodo, 2020).
Strategi Penguatan Pendidikan Karakter
Untuk menjaga moral peserta didik abad ke-21, pendidikan karakter perlu diterapkan secara komprehensif dan berkelanjutan.
Pertama, integrasi nilai karakter dalam proses pembelajaran di semua mata pelajaran, bukan hanya pada mata pelajaran tertentu. Guru berperan penting sebagai teladan dalam sikap dan perilaku sehari-hari.
Kedua, kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat harus diperkuat. Pendidikan karakter tidak akan efektif jika hanya dibebankan kepada sekolah, sementara lingkungan keluarga dan sosial memberikan contoh yang bertentangan.
Ketiga, pemanfaatan teknologi secara bijak juga perlu ditekankan. Peserta didik harus dibekali literasi digital berbasis nilai moral agar mampu menggunakan teknologi secara bertanggung jawab dan beretika (OECD, 2021).
Penutup
Pendidikan karakter memiliki peran strategis dalam menjaga moral peserta didik di abad ke-21. Di tengah arus globalisasi dan digitalisasi, pendidikan karakter menjadi penyeimbang yang memastikan peserta didik tumbuh sebagai individu yang berilmu, berakhlak, dan bertanggung jawab. Tanpa pendidikan karakter yang kuat, kemajuan akademik dan teknologi justru berpotensi melahirkan krisis moral. Oleh karena itu, penguatan pendidikan karakter harus menjadi prioritas utama dalam sistem pendidikan masa kini dan masa depan.
Oleh:
– Miftahul Huda
– Janatul Mawa
– Rosyita Fitria Cahyani
– Nikola Saputra
Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar S1 Universitas Pamulang
Tahun Akademik 2025/2026
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”








































































