Arief Akbar Bsa dikenal sebagai tokoh teaterawan nasional yang mengadopsi gaya teatrikal realis elementer dan realis simbolik di Indonesia. Mengawali perjalanannya dengan mendirikan Samudera Teater di kota Pekalongan pada September 1995 dengan menempati rumah kayu Bulungan Jakarta Selatan sebagai basis laboratorinya, Ia terus saja mengembangkan gaya realis simboliknya di setiap pementasan-pementasan teaternya.
Karya Opera Rujak dan Kalasendawa di era 90 an sangat dikenal sebagai pementasan teater yang sangat kuat menekankan pada simbol perlawanan dan konsistensi jati diri pada penolakan feodalisme dan otoriter di jaman rezim orde lama melalui sindiran dan simbolisme. Sedangkan di era milenial 2000 an, Arief Akbar Bsa mulai perlahan mengemas gaya teatrikalnya cenderung pada elementer terutama pada karakter antagonis. Secara implisit antagonis, protagonis dan tritagonis hanyalah bagian kulit saja dalam memahami realis elementer, namun penekanan secara mendalam pada ketiga karakter tersebut adalah mutlak kewajaran kehidupan sehari-hari yang diangkat di atas panggung agar terlihat natural sebagaimana mestinya perilaku manusia pada umumnya.
Dalam karya Maling Sandal, Jam 12, Mantra Manusia, Seruling Santri dan Matahari Malam yang diadaptasi dari karya novel Jemari Jingga yang sedang ditulisnya lebih cenderung elementarial dibalut realis simbolik dalam gaya pementasan teaternya. Ada unsur cerita dan intrik yang membawa penonton lebih menikmati sajiannya walaupun tampilan simboliknya masih kuat dan tajam sehingga memerlukan pengamatan yang mendalam untuk dapat memahami apa yang terjadi dalam cerita tersebut.

Aliran teater realis simbolik merupakan perpaduan antara teater realis yang menampilkan kehidupan sehari-hari dan teater simbolis yang menggunakan simbol untuk menyampaikan makna yang lebih dalam. Aliran ini menampilkan fenomena keseharian atau realitas yang dapat dipahami, namun juga menyisipkan elemen-elemen simbolis melalui dialog, gerakan, atau properti untuk menggambarkan perasaan, sifat, dan pesan tersirat yang lebih kompleks. Secara khusus Realisme simbolik adalah gaya seni dan teatrikal yang menggabungkan realisme (menggambarkan kehidupan nyata dan sehari-hari secara objektif) dengan simbolisme (menggunakan simbol untuk menyampaikan makna yang lebih dalam dan abstrak). Gaya ini menampilkan dunia yang tampak realistis, tetapi di balik permukaan itu tersembunyi makna simbolis atau pesan moral yang perlu diinterpretasikan dalam menyampaikan sesuatu yang tersirat di atas panggung.
Memahami teater dalam seni pertunjukan yang sarat dengan simbol-simbol penuh makna ketika disajikan dalam pementasan di panggung, maka unsur simbolisme tersebut bagian dari gaya penyampaian yang terikat pada jenis penguatan makna secara visual, verbal maupun auditif. Simbol dalam teater merupakan salah satu cara penyampaian pesan kepada penonton. Biasanya berbagai peristiwa yang disajikan di panggung teater bukanlah peristiwa yang sebenarnya, melainkan peristiwa simbolis yang diangkat dari pengalaman kehidupan manusia.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































