Yogyakarta — Di balik gemerlap film layar lebar Indonesia yang menuai jutaan penonton, ada ratusan wajah tanpa nama yang turut menghidupkan adegan. Mereka adalah pemain figuran atau extras, sosok yang sering luput dari sorotan, namun memegang peran penting dalam membangun realitas sebuah cerita.
Investigasi ini menelusuri bagaimana profesi figuran dijalani di Yogyakarta, kota yang dalam beberapa tahun terakhir menjelma menjadi salah satu lokasi favorit produksi film nasional.
Kota Favorit Produksi, Surga yang Tak Selalu Ramah
Yogyakarta memiliki semua yang dibutuhkan industri film: lanskap budaya yang kuat, lokasi beragam, serta sumber daya manusia yang melimpah. Banyak rumah produksi dari Jakarta datang dan membuat film di kota ini, memanfaatkan keberadaan sekolah-sekolah film serta komunitas seni yang berkembang pesat.
Namun di balik geliat industri tersebut, kondisi para figuran justru memunculkan pertanyaan.
Beberapa pemain figuran mengaku hanya menerima bayaran Rp 100 ribu untuk sekali tampil dalam produksi film yang kemudian sukses besar di pasaran. Angka itu jauh dari bayangan publik tentang dunia perfilman yang identik dengan glamor dan keuntungan besar.
“Anggap Saja Liburan”
Andi (bukan nama sebenarnya), seorang figuran yang telah terlibat dalam berbagai produksi film di Yogyakarta, mengungkapkan bahwa bayaran figuran umumnya telah ditentukan oleh agensi.
“Biasanya berkisar Rp100 ribu sampai Rp150 ribu sekali tampil. Kita ikut saja sesuai daftar harga dari agensi,” kata Andi.
Ia mengakui, bagi sebagian orang jumlah itu mungkin terlihat kecil. Namun bagi banyak figuran, motivasi utama bukan semata uang.
“Anggap saja liburan. Ini juga langkah awal buat yang ingin tahu dunia film seperti apa. Jadi tidak selalu serius sebagai pekerjaan utama,” ujarnya.
Menurut Andi, figuran berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa, pekerja kantoran, hingga pemandu wisata. Banyak yang menjadikan pekerjaan ini sebagai pengalaman, bukan sumber penghasilan utama.
Kesepakatan atau Keterpaksaan?
Di sisi lain, seorang koordinator talent dari sebuah agensi di Yogyakarta mengatakan bahwa besaran bayaran tersebut merupakan hasil kesepakatan.
“Semua sudah disepakati di awal antara agensi dan extras. Banyak yang tetap mau karena mereka senang bisa dapat pengalaman di dunia film,” ujarnya.
Ia menambahkan, sebagian besar figuran tidak menjadikan pekerjaan tersebut sebagai profesi utama, sehingga bayaran bukan satu-satunya pertimbangan.
Namun, kondisi ini memunculkan dilema. Di satu sisi, figuran mendapatkan akses masuk ke industri film. Di sisi lain, rendahnya bayaran memunculkan pertanyaan tentang kesejahteraan dan nilai kerja mereka.
Antara Passion dan Eksploitasi
Fenomena ini menunjukkan dua wajah industri film di Yogyakarta. Kota ini membuka pintu bagi banyak orang untuk merasakan atmosfer produksi film secara langsung. Tetapi, di balik peluang tersebut, ada realitas ekonomi yang jauh dari gemerlap layar.
Bagi sebagian figuran, tampil di film adalah kebanggaan tersendiri, meski hanya muncul beberapa detik tanpa dialog.
Namun bagi yang lain, kondisi ini menjadi cerminan bagaimana posisi figuran masih berada di lapisan paling bawah dalam struktur industri perfilman.
Tanpa figuran, adegan pasar tidak akan hidup, jalanan tidak akan terasa nyata, dan dunia film akan kehilangan denyutnya.
Meski begitu, hingga kini, kesejahteraan mereka masih menjadi cerita yang jarang terdengar — tersembunyi di balik sorot kamera dan tepuk tangan penonton. (Yusuf)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”





































































