Pendidikan karakter menjadi kebutuhan mendesak di tengah meningkatnya krisis moral dan sosial pada peserta didik. Sekolah tidak lagi cukup berperan sebagai tempat transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang pembentukan nilai dan sikap. Dalam konteks ini, keteladanan guru memiliki posisi strategis karena peserta didik cenderung meniru perilaku nyata yang mereka lihat setiap hari dibandingkan nasihat verbal semata (Syarif, 2025).
Guru sebagai figur publik di sekolah memiliki tanggung jawab moral untuk menunjukkan nilai kejujuran, disiplin, tanggung jawab, dan empati melalui sikap dan perilaku konsisten. Keteladanan tersebut akan lebih efektif daripada sekadar penyampaian materi pendidikan karakter di kelas, karena peserta didik belajar melalui pengamatan dan pengalaman langsung (Fitri, 2024).
Di lingkungan Sekolah Dasar, masih ditemukan kasus rendahnya kedisiplinan dan kejujuran peserta didik, seperti datang terlambat, tidak mengerjakan tugas, serta menyontek saat ulangan harian. Salah satu SD menghadapi masalah ini ketika sejumlah siswa kelas V terbiasa menyontek karena menganggap pelanggaran tersebut sebagai hal wajar. Kondisi ini terjadi karena kurangnya keteladanan yang konsisten, misalnya guru yang terlambat masuk kelas atau kurang tegas terhadap aturan. Setelah sekolah melakukan evaluasi dan menekankan keteladanan guru seperti hadir tepat waktu, melaksanakan pembelajaran sesuai aturan, bersikap adil, dan menegakkan disiplin tanpa pilih kasih perilaku siswa mulai berubah. Kasus ini membuktikan bahwa keteladanan guru di sekolah memiliki dampak langsung terhadap pembentukan karakter siswa sekolah dasar.
Namun, pendidikan karakter tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada sekolah. Orang tua sebagai pendidik pertama dan utama memiliki peran fundamental dalam menanamkan nilai moral sejak usia dini. Lingkungan keluarga menjadi tempat awal pembentukan karakter anak melalui kebiasaan, pola komunikasi, serta contoh nyata yang ditunjukkan orang tua dalam kehidupan sehari-hari (Kusdani, 2022).
Ketika nilai-nilai yang diajarkan di rumah tidak sejalan dengan yang ditanamkan di sekolah, peserta didik akan mengalami kebingungan moral. Oleh karena itu, sinergi antara guru dan orang tua sangat diperlukan agar pendidikan karakter berjalan konsisten dan berkelanjutan. Kerja sama ini dapat diwujudkan melalui komunikasi intensif dan kesepahaman dalam mendidik anak (Ritonga, 2022).
Tantangan pendidikan karakter semakin kompleks di era digital, di mana peserta didik mudah terpapar informasi dan budaya yang tidak selalu sejalan dengan nilai luhur bangsa. Dalam situasi ini, keteladanan guru dan orang tua menjadi benteng utama untuk membimbing peserta didik agar mampu memilah pengaruh positif dan negatif dari lingkungan digital (Ritonga, 2022).
Pendidikan karakter yang efektif tidak cukup dilakukan melalui program formal, tetapi harus diintegrasikan dalam aktivitas sehari-hari. Pembiasaan sikap disiplin, toleransi, dan tanggung jawab yang dicontohkan secara langsung oleh guru dan orang tua akan membentuk karakter peserta didik secara alami dan berkelanjutan (Fitri, 2024).
Pada akhirnya, pendidikan karakter merupakan tanggung jawab bersama antara sekolah dan keluarga. Keteladanan guru dan orang tua menjadi kunci utama dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berakhlak mulia, beretika, dan siap menghadapi tantangan masa depan bangsa (Adha & Prawisudawati, 2025).
Daftar Pustaka
Adha, M. M., & Prawisudawati, E. (2025). Peran guru dan orang tua dalam mengembangkan pendidikan karakter anak di era modern. Jurnal Ilmu Manajemen dan Pendidikan, 10(2). https://ejurnal.unisri.ac.id/index.php/glbctz/article/view/5325
Fitri, M. A. (2024). Peran pendidikan karakter dalam membentuk etos kerja siswa: Perspektif guru dan orang tua. Jurnal Armada, 1(2). https://ojs.cahayamandalika.com/index.php/armada/article/view/2815
Kusdani, K. (2022). Pendidikan karakter anak melalui keteladanan orang tua. Jurnal Kreativitas Pendidikan, 10(2). https://ojs.diniyah.ac.id/index.php/Kreatifitas/article/view/404
Ritonga, A. W. (2022). Peran guru dan orang tua dalam mewujudkan pendidikan karakter di era digital. Indonesian Values and Character Education Journal, 5(1). https://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/IVCEJ/article/view/39729
Syarif, N. Q. (2025). Peran guru dalam pengembangan pendidikan karakter di sekolah dasar: Tinjauan literatur. Jurnal Pendidikan dan Studi Sosial, 2(2). https://www.ojs.ycit.or.id/index.php/JOTES/article/view/203
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































