Siaran Berita, Banjarmasin, (15/1/2026) – Di tengah dinamika dakwah generasi muda yang kian berkembang, muncul satu nama yang pelan namun konsisten menapaki ruang-ruang keagamaan lintas daerah. Sayyid Nizar bin Musa Assegaf dikenal sebagai pendakwah muda asal Kalimantan Selatan yang menempatkan dakwah bukan sekadar sebagai mimbar kata, melainkan jalan pengabdian yang dijalani dengan adab, ketekunan, serta kesinambungan keilmuan. Aktivitas dakwahnya menyebar dari majelis ke majelis, dari ruang fisik hingga ruang digital, menjadikan namanya semakin dikenal di kalangan masyarakat yang merindukan pesan keislaman bernuansa sejuk dan berakar pada tradisi.
Sayyid Nizar bin Musa Assegaf merupakan sosok mubalig muda yang berasal dari Kalimantan Selatan dan dikenal sebagai dzurriyah Nabi Muhammad SAW melalui marga Assegaf. Marga ini termasuk dalam golongan Alawiyyin, keturunan Rasulullah SAW yang memiliki garis nasab dari Hadramaut, Yaman. Latar belakang nasab tersebut tidak menjadikannya berdiri di atas kemegahan simbol, melainkan menjadi tanggung jawab moral yang terus ia rawat melalui sikap rendah hati, tutur yang terjaga, serta konsistensi menimba ilmu. Dalam keseharian, Sayyid Nizar dikenal sebagai pribadi yang tenang, bersahaja, dan menempatkan dakwah sebagai amanah, bukan panggung personal.

Dakwah yang ia sampaikan berangkat dari pendekatan yang lembut namun mengakar. Tema-tema keagamaan, selawat, adab terhadap Rasulullah SAW, serta refleksi spiritual menjadi napas utama dalam setiap penyampaiannya. Ia tidak memburu sensasi, melainkan berupaya menjaga kesinambungan pesan agar tetap selaras dengan tradisi ulama dan kebutuhan umat masa kini. Keberadaannya di berbagai daerah menunjukkan bahwa dakwah yang disampaikan dengan ketulusan tetap menemukan jalannya sendiri di tengah masyarakat.
Seiring perkembangan zaman, Sayyid Nizar juga memanfaatkan media sosial sebagai sarana dakwah. Melalui akun Instagram dan TikTok, ia rutin membagikan konten bernuansa religi, mulai dari potongan tausiyah, lantunan selawat, hingga video reflektif yang bersifat personal. Kehadiran di ruang digital tersebut menjadi jembatan antara nilai-nilai keislaman klasik dengan generasi muda yang tumbuh dalam lanskap teknologi. Tanpa menghilangkan esensi dakwah, ia menjadikan media sosial sebagai wasilah, bukan tujuan.
Di balik aktivitas dakwahnya, perjalanan keilmuan Sayyid Nizar bertumpu pada hubungan guru dan murid yang kuat. Ia dikenal sebagai penuntut ilmu yang menjaga adab terhadap para masyayikh, serta menghormati sanad keilmuan sebagai fondasi utama dalam menyampaikan agama. Proses belajar yang ia jalani tidak bersifat instan, melainkan melalui perjalanan panjang yang sarat dengan bimbingan dan keteladanan.
Beberapa guru yang membentuk perjalanan intelektual dan spiritualnya antara lain Al Habib Abubakar Al Mashur yang bermukim di Jeddah, sosok ulama besar yang dikenal dengan keluasan ilmu dan ketajaman spiritual. Dari Yaman, ia menimba ilmu kepada Al Habib Salem Al Muhdor, seorang ulama yang dikenal menjaga tradisi keilmuan Hadramaut dengan disiplin sanad yang kuat. Di dalam negeri, Sayyid Nizar berguru kepada Al Ustadz Abubakar Mauladawillah di Malang serta KH Ahmad Barmawi di Rantau, yang keduanya dikenal sebagai figur pendidik dan pendakwah berpengaruh di wilayah masing-masing.

Selain hubungan guru secara langsung, Sayyid Nizar juga menjaga kesinambungan keilmuan melalui sanad. Ia mengambil sanad dari sejumlah ulama, di antaranya KH M. Syukri Yunus dan KH Muaz Hamid dari Martapura. Sanad keilmuannya juga tersambung hingga ke Tanah Suci melalui As Sayyid Ahmad bin Muhammad Al Maliki di Mekkah serta Syekh Jalaludin Ar Rumi di Madinah. Rangkaian sanad ini menjadi fondasi yang menegaskan bahwa setiap pesan yang ia sampaikan tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan mata rantai keilmuan Islam yang panjang dan terjaga.
Dengan latar belakang tersebut, Sayyid Nizar bin Musa Assegaf tidak hanya tampil sebagai pendakwah muda yang aktif, tetapi juga sebagai representasi generasi dzurriyah Nabi SAW yang berupaya menjaga amanah keilmuan dan dakwah di tengah tantangan zaman. Langkahnya mungkin tidak selalu gaduh, namun jejaknya perlahan membentuk ruang dakwah yang berakar, beradab, dan relevan bagi umat
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”



































































