Di MAN 1 Yogyakarta, suasana ruang kelas pada pekan ini tampak sedikit berbeda dari biasanya. Para Sebagian murid kelas X dan XI mengikuti ujian menulis Bahasa Inggris yang dirancang untuk menguji bukan hanya kemampuan bahasa, tetapi juga daya nalar, kreativitas, dan kemandirian berpikir mereka.
Ujian tersebut diberikan oleh Deti Prasetyaningrum, S.Pd, salah satu guru Bahasa Inggris di madrasah tersebut, sebagai bagian dari materi awal semester dua. Melalui ujian ini, para murid diminta menuangkan gagasan mereka dalam bentuk tulisan yang terstruktur dan argumentatif.
Untuk kelas X, murid diminta menulis Analytical Exposition Text dengan topik “Graffiti”. Dalam tugas ini mereka harus menyampaikan pendapat, menyusun argumen yang logis, serta menegaskan kembali posisi mereka dalam sebuah tulisan minimal 250 kata.
Sementara itu, kelas XI mendapatkan tantangan yang berbeda. Mereka diminta menulis Narrative Text bertema “Environmental Figures”, yakni kisah tentang tokoh-tokoh yang berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan. Tulisan tersebut harus memiliki panjang minimal 400 kata, sehingga murid dituntut mampu membangun alur cerita yang runtut sekaligus inspiratif.

Menariknya, dalam pelaksanaan ujian ini murid tidak diperbolehkan menggunakan gadget maupun kamus. Seluruh tulisan dikerjakan secara manual dengan tulisan tangan di atas kertas ujian.
Meski demikian, ujian ini tidak bersifat mendadak. Topik, jenis teks, serta arahan penulisan telah diberikan satu minggu sebelumnya, sehingga para murid memiliki waktu untuk mempersiapkan diri, menyusun ide, serta memperkaya kosakata yang akan mereka gunakan dalam tulisan.
Menurut Deti Prasetyaningrum, teknik ini sengaja dipilih untuk melatih kemampuan berpikir dan menulis murid secara lebih autentik.
“Saya ingin murid benar-benar mengandalkan kemampuan mereka sendiri ketika menulis. Tanpa bantuan gadget atau kamus, mereka belajar mengingat kosakata, menyusun argumen, dan mengekspresikan gagasan dengan lebih percaya diri. Ini juga melatih mereka untuk berpikir lebih terstruktur sebelum menuliskannya,” ujar Deti.
Pendekatan ini juga memiliki sejumlah manfaat pedagogis. Pertama, ujian menulis tanpa bantuan perangkat digital mendorong murid untuk menginternalisasi kosakata dan struktur bahasa, bukan sekadar mencarinya secara instan. Kedua, kegiatan menulis tangan membantu murid memproses ide secara lebih mendalam, karena mereka harus merencanakan kalimat sebelum dituangkan ke dalam tulisan.
Ketiga, pemberian topik jauh hari sebelumnya memberi ruang bagi murid untuk mengembangkan ide, membaca referensi, dan merancang kerangka tulisan. Dengan demikian, tulisan yang dihasilkan bukan sekadar spontan, tetapi merupakan hasil dari proses berpikir yang matang. Teknik ini juga menumbuhkan kemandirian akademik sekaligus disiplin belajar.
Tradisi ujian menulis tanpa bantuan perangkat digital juga masih dipertahankan dalam berbagai ujian bahasa internasional seperti ujian dari Cambridge dan Oxford.
Menariknya, dari hasil ujian yang telah dikumpulkan, capaian para murid menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Hampir seluruh murid mampu mencapai target jumlah kata yang ditentukan, bahkan beberapa di antaranya menulis jauh lebih panjang dari batas minimal.
Kepala MAN 1 Yogyakarta, Edi Triyanto, S.Ag, S.Pd, M.Pd, menilai kegiatan semacam ini sejalan dengan upaya madrasah dalam memperkuat budaya literasi di kalangan murid.
“Kami mendorong berbagai inovasi pembelajaran yang mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan literasi murid. Ujian menulis seperti ini bukan hanya mengukur kemampuan bahasa, tetapi juga melatih daya analisis, kreativitas, serta karakter akademik yang jujur dan mandiri,” kata Edi Triyanto. (dee)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer









































































