Menyembuhkan Trauma Anak-Anak Pasca Banjir Bandang Sumatera 2025: Pentingnya Trauma Healing Untuk Pemulihan Intelektual Anak
Indonesia tengah berduka di penghujung tahun 2025. Gelombang bencana yang melanda sejumlah daerah, mulai dari banjir bandang hingga tanah longsor, telah merenggut nyawa puluhan warga dan meninggalkan ribuan keluarga dalam keadaan kehilangan dan trauma. Selasa (25/11/2025) bencana banjir bandang dan tanah longsor menerjang tiga provinsi di Pulau Sumatra, yakni Aceh, Sumatra Utara (Sumut), dan Sumatra Barat (Sumbar) meluluhlantakan 52 kabupaten/kota dan menelan banyak korban jiwa akibat banjir bandang dan tanah longsor.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana BNPB menyampaikan perkembangan jumlah korban jiwa akibat banjir dan tanah longsor di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh, yang bertambah. Hingga Kamis (11/12/2025), total korban meninggal dunia mencapai 995 jiwa.
“Dari 990 jiwa meninggal dunia per kemarin, 11 Desember, saat ini rekapitulasi kami menunjukkan angka 995 jiwa total meninggal dunia di tiga provinsi,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam konferensi pers secara virtual, Kamis (11/12/2025).
Banjir besar di Sumatera Barat tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga berdampak pada kondisi psikologis korban, khususnya anak-anak. Gangguan proses belajar serta pengalaman traumatis dikhawatirkan dapat memengaruhi perkembangan mental dan intelektual mereka. Trauma merupakan reaksi emosional terhadap situasi yang tidak menguntungkan dan perilaku tidak menyenangkan seperti kejahatan, kecelakaan, atau bencana alam. Trauma berkaitan dengan kesehatan mental seseorang (Thoyibah et al., 2020).
Menurut American Psychiatric Association (APA) dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disordes edisi ke-5 (DSM-5) mendefinisikan trauma sebagai pengalaman atau ancaman langsung terhadap kematian, cedera serius, atau kekerasan seksual. Hal ini mencakup peristiwa, kecelakaan, bencana alam, atau kekerasan interpersonal. Trauma ini dapat menimbulkan psikis yang panjang, apabila tidak ditangani dengan benar.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) bersama Save the Children memberikan dukungan mobil psikososial bagi anak-anak terdampak banjir bandang dan longsor di Belawan, Medan, Sumatera Utara, sebagai upaya pemulihan traumatis pascabencana. Salah satu upaya yang dilakukan adalah penerapan metode trauma healing. Metode ini merupakan rangkaian proses pemulihan psikologis untuk membantu korban mengurangi dampak trauma, termasuk gejala stres pascatrauma, sehingga mereka dapat kembali beraktivitas secara normal.
Trauma healing merupakan bentuk upaya dalam pemulihan trauma, salahsatu bentuk intervensi pasca bencana trauma yang dapat dilakukan pada anak-anak adalah play therapy yang bertujuan untuk menghibur dan membantu mengatasi pennderitaan yang dialami melalu metode bermain (Ananda., 2020). Di Sumatra Barat, sejumlah posko pengungsian di Kabupaten Padang Pariaman dan Kota Padang menggelar program trauma healing bagi para korban, terutama anak-anak. Kegiatan ini diharapkan dapat mengurangi rasa takut, cemas, dan trauma yang dialami anak-anak akibat bencana.
“Anak-anak terlihat lebih ceria dan mulai berani berinteraksi kembali,” lapor Hafsah Syafira, jurnalis TVOne, dari Padang Pariaman, Sumatra Barat.
Selain pendampingan psikososial, bantuan berupa donasi mainan dan boneka juga disalurkan kepada anak-anak di pengungsian. Bantuan tersebut disambut antusias dan dinilai mampu membangkitkan semangat anak-anak serta membantu proses pemulihan psikologis mereka, sehingga dapat menurangi rasa takut atau traumatis yang dialaminya. Dengan melibatkan peran aktif masyrakat, anak-anak memperoleh ruang aman untuk mengekspresikan emosi, dan menumbuhkan harapan mereka. Pengalaman langsung di lapangan menunjukkan pendekatan yang lebih efektif daripada intervensi kaku yang hanya berfokus pada aspek medis.
Program trauma healing dan pemberian bantuan ramah anak diharapkan dapat membantu mengembalikan rasa aman, mengurangi trauma, serta mendorong kembali perkembangan intelektual anak-anak pasca bencana. Oleh karena itu, penting bagi lembaga kebencanaan, pemerintah, dan relawan bekerja sama untuk mejadikan trauma healing bagian dari penanganan darurat sejak dini.
Oleh : Ririn Septianingrum, Mahasiswa Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Pamulang
Referensi:
AKIS, https://www.tvOnenews.com – Trauma Healing Untuk Korban Terdampak Banjir dan Longsor di Padang Pariaman | AKIS tvOne
Ananda, “Trauma Healing: Pengertian, Fase, Metode, dan Jenis Terapinya,” Gramedia, 2022.
BNPB, “ [Update] – Korban jiwa bencana banjir sumatera kini 995 orang,” BNPB Sumatera, Des. 2025. https://nasional.kompas.com/read/2025/12/12/20050801/update-bnpb-korban-jiwa-bencana-banjir-sumatera-kini-995-orang.
Thoyibah, Z., Purqoti, D. N. S., & Oktaviana, E. (2020). Gambaran Tingkat Kecemasan Korban Gempa Lombok. Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI), 4(3), 174–181.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































