Siaran Berita, Jakarta, (27/2/2026) – Perubahan zaman melahirkan cara baru manusia berpikir, bekerja, dan berinteraksi dengan teknologi. Sena Khansa termasuk generasi yang tumbuh bersama derasnya arus digital, namun ia tidak sekadar menjadi pengguna pasif. Ia mencoba memahami bagaimana kecerdasan buatan bekerja, bagaimana instruksi sederhana dapat berkembang menjadi gagasan kompleks, serta bagaimana perbedaan kalimat mampu menghasilkan keluaran yang sangat berbeda. Bagi Sena, kecerdasan buatan bukan sekadar mesin penjawab pertanyaan, melainkan ruang dialog antara manusia dan algoritma yang menuntut ketelitian bahasa, kejelasan maksud, dan kedalaman analisis.
Sena Khansa pertama kali mengenal konsep prompt saat membaca berbagai ulasan tentang perkembangan teknologi, termasuk kemunculan sistem berbasis kecerdasan buatan seperti OpenAI yang mengembangkan model bahasa canggih. Dari situ ia memahami bahwa prompt bukan sekadar perintah, melainkan kerangka berpikir yang dituangkan dalam bentuk teks. Prompt adalah jembatan komunikasi antara manusia dan sistem AI. Setiap kata yang dipilih, setiap konteks yang ditambahkan, bahkan setiap nada yang digunakan akan memengaruhi arah respons. Sena melihat bahwa prompt bekerja layaknya kunci; bentuknya menentukan pintu mana yang akan terbuka.
Dalam pemahamannya, fungsi AI di kehidupan sehari-hari jauh melampaui sekadar menjawab pertanyaan umum. Ia mengamati bagaimana pelajar menggunakan AI untuk merumuskan kerangka esai, bagaimana pebisnis memanfaatkannya untuk analisis pasar, dan bagaimana jurnalis menjadikannya alat bantu untuk merapikan data. Sena menyimpulkan bahwa AI berperan sebagai akselerator produktivitas. Dalam ranah pendidikan, AI membantu menyederhanakan konsep yang rumit. Dalam dunia kreatif, AI mempercepat eksplorasi ide. Bahkan dalam aktivitas personal, AI menjadi asisten digital yang membantu merancang jadwal, menyusun rencana, hingga memberikan rekomendasi bacaan.
Namun, Sena tidak berhenti pada kekaguman semata. Ia melakukan analisis mendalam terhadap bagaimana perbedaan prompt menghasilkan perbedaan output yang signifikan. Ketika seseorang menulis instruksi singkat dan umum, respons yang muncul cenderung luas dan generik. Sebaliknya, ketika prompt disusun secara rinci—dengan batasan gaya bahasa, panjang tulisan, sudut pandang, hingga struktur penyajian—hasil yang diberikan AI menjadi lebih terarah dan spesifik. Sena mencatat bahwa detail adalah penentu kualitas. Instruksi yang menyebutkan konteks, audiens, tujuan, serta gaya penulisan akan menghasilkan respons yang lebih presisi dibandingkan perintah yang kabur.
Analisis Sena juga menyoroti dimensi psikologis dalam penyusunan prompt. Ia menyadari bahwa manusia sering kali tidak sepenuhnya jelas dengan apa yang diinginkan, sehingga prompt yang ditulis menjadi ambigu. Ambiguitas ini diterjemahkan AI sebagai ruang interpretasi luas, yang kemudian melahirkan jawaban tidak sesuai ekspektasi. Dari sini Sena menarik kesimpulan bahwa menyusun prompt sebenarnya melatih kemampuan berpikir kritis. Seseorang dipaksa untuk merumuskan kebutuhan secara eksplisit, menyaring ide, serta menentukan parameter yang jelas sebelum meminta bantuan sistem.
Perbedaan prompt, menurut Sena, bukan sekadar variasi kata, tetapi variasi strategi komunikasi. Prompt yang bersifat deskriptif akan memancing jawaban naratif. Prompt analitis akan menghasilkan pembahasan argumentatif. Prompt instruktif akan melahirkan langkah-langkah sistematis. Bahkan perubahan kecil, seperti penambahan frasa “jelaskan secara mendalam” atau “gunakan gaya akademik,” mampu menggeser struktur dan kompleksitas respons secara drastis. Sena melihat fenomena ini sebagai bukti bahwa AI bekerja berdasarkan pola bahasa yang dipelajari, sehingga struktur input sangat menentukan struktur output.
Fungsi AI dalam kehidupan modern, sebagaimana dianalisis Sena Khansa, juga menghadirkan tantangan etis. Ketergantungan berlebihan dapat melemahkan daya pikir jika tidak diimbangi refleksi kritis. Di sisi lain, penggunaan yang bijak justru memperkaya wawasan dan mempercepat proses belajar. Sena menekankan bahwa AI seharusnya diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti nalar manusia. Dalam konteks akademik, misalnya, AI dapat membantu merancang kerangka tulisan, tetapi analisis mendalam tetap membutuhkan sentuhan intelektual manusia.
Sena kemudian melakukan perbandingan eksperimental sederhana. Ia menulis dua prompt dengan topik sama, namun tingkat detail berbeda. Hasilnya menunjukkan kontras tajam. Prompt pertama menghasilkan uraian umum yang informatif tetapi dangkal. Prompt kedua, yang mencantumkan tujuan pembahasan, struktur paragraf, serta gaya bahasa profesional, menghasilkan narasi yang runtut, argumentatif, dan kaya perspektif. Dari eksperimen ini, Sena menyimpulkan bahwa kualitas prompt mencerminkan kualitas pemikiran penyusunnya.
Lebih jauh lagi, Sena memandang prompt sebagai bentuk literasi baru di era digital. Jika pada masa lalu literasi diukur dari kemampuan membaca dan menulis, kini literasi juga mencakup kemampuan berkomunikasi dengan sistem berbasis kecerdasan buatan. Kemampuan menyusun prompt yang efektif menjadi keterampilan strategis. Hal ini bukan sekadar soal teknis, melainkan soal kemampuan merumuskan ide secara sistematis dan logis.
Kesadaran ini membawa Sena pada refleksi lebih luas tentang masa depan. Ia melihat bahwa generasi yang mampu memahami mekanisme prompt akan memiliki keunggulan kompetitif. Dunia kerja, pendidikan, dan industri kreatif semakin terintegrasi dengan AI. Mereka yang mampu mengarahkan teknologi melalui instruksi yang tepat akan lebih mudah menghasilkan karya berkualitas tinggi dalam waktu singkat. Sementara itu, mereka yang tidak memahami cara kerja prompt mungkin hanya menjadi pengguna pasif tanpa mendapatkan manfaat optimal.
Narasi tentang Sena Khansa pada akhirnya menggambarkan perjalanan intelektual seorang individu yang berusaha memahami relasi antara bahasa dan mesin. Prompt bukan lagi sekadar teks perintah, melainkan instrumen strategis yang menentukan arah informasi. Fungsi AI bukan sekadar alat bantu digital, melainkan katalisator perubahan cara berpikir. Perbedaan prompt bukan sekadar variasi kalimat, melainkan faktor penentu kualitas hasil.
Refleksi Sena menunjukkan bahwa kecerdasan buatan tidak pernah benar-benar berdiri sendiri. Ia selalu bergantung pada kecermatan manusia dalam menyusun instruksi. Maka, memahami prompt berarti memahami bagaimana cara berpikir kita diterjemahkan oleh sistem. Dari sanalah lahir kesadaran bahwa masa depan bukan hanya milik mereka yang menguasai teknologi, tetapi juga milik mereka yang mampu merancang kata dengan presisi, tujuan, dan kedalaman makna.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”





































































