Manusia tidak akan terlepas dari berbagai kejadian yang terjadi dalam hidupnya. entah bagaimana beberapa momen dapat membekas selalu dalam hidup seseorang,hal ini disebut sebagai kenangan.banyak orang luput dalam kenangan padahal momen atau kejadian itu sudah terjadi bertahun-tahun lamanya,sampai ada sebuah peribahasa yaitu “kenangan akan hidup di diri kita bagai garam di lautan yang tidak akan pernah luput sama seperti beberapa kenangan yang tidak dapat dilupakan dalam hidup kita”.Berangkat dari fenomena ini tulisan ini saya buat lewat pendekatan Neuroscience untuk mengetahui apa sebab dari sebagian kenangan sulit dilupakan oleh manusia
Secara ilmiah,kenangan adalah bagian integral dari eksistensi manusia, membentuk identitas dan memengaruhi perilaku. Khususnya kenangan yang sulit dilupakan, dalam perspektif Neuroscience, fenomena ini berkaitan erat dengan mekanisme Memori Jangka Panjang .Memori jangka panjang adalah sistem penyimpanan informasi yang dapat bertahan berbulan-bulan hingga seumur hidup. Namun, tidak semua pengalaman dapat tersimpan dengan kekuatan yang sama. Beberapa kenangan mungkin hanya tampak samar atau bahkan hilang, sedangkan yang lain, terutama yang melibatkan emosi terasa begitu kuat hingga sulit dilupakan. Neuroscience memberikan pemahaman mendalam mengapa fenomena ini dapat terjadi melalui studi tentang struktur otak, mekanisme sinaptik, serta peran emosi dalam penguatan memori.
Pandangan teori kepribadian memberikan pemahaman penting mengenai bagaimana memori jangka panjang terbentuk, disimpan, dan dimaknai oleh individu. Lantas bagaimana otak kita bekerja dalam membentuk memori jangka panjang. Untuk menjaga Informasi dalam waktu yang panjang, kita harus mengeluarkan informasi-informasi tersebut dari memori jangka pendek dan memasukkannya ke dalam penyimpanan yang lebih permanen ,terbentuk melalui proses yang saling berkaitan di dalam otak. Tahap awal dimulai dari encoding, ketika pengalaman yang kita lihat, dengar, atau rasakan diubah menjadi sinyal saraf oleh hippocampus dengan bantuan lobus frontal yang mengatur perhatian dan seleksi informasi penting. Informasi yang sudah ter-encode kemudian disimpan melalui mekanisme long-term potentiation (LTP), yaitu penguatan koneksi antar-neuron yang terjadi ketika informasi diulang atau sering diaktifkan. Lama-kelamaan, memori dipindahkan dari hippocampus ke berbagai bagian korteks untuk disimpan secara lebih permanen. Proses ini diperkuat selama tidur, terutama deep sleep, ketika hippocampus memutar ulang pola aktivitas saraf untuk menstabilkan memori. Saat memori dibutuhkan, otak melakukan retrieval dengan mengaktifkan kembali jalur saraf yang telah diperkuat. Bahkan, setiap kali diingat, memori dapat mengalami reconsolidation, yaitu diperbarui dan diperkuat kembali.
Proses-proses ini menjelaskan sebab mengapa beberapa kenangan menjadi sangat sulit dilupakan. Karena memori terbentuk melalui penguatan jalur saraf, maka pengalaman yang memicu emosi kuat seperti ketakutan, trauma, kegembiraan besar, atau peristiwa pribadi penting akan menghasilkan encoding yang lebih intens dan LTP yang lebih kuat. Amigdala yang aktif pada pengalaman emosional membuat penyimpanan memori lebih solid sejak awal. Selain itu, jika pengalaman tersebut sering diingat atau diulang dalam pikiran, proses reconsolidation akan semakin memperkuatnya, sehingga jalur sinaptiknya makin sulit melemah. Ditambah lagi, kenangan yang memiliki makna pribadi atau berkaitan dengan identitas diri tersimpan dalam jaringan pengetahuan yang luas di korteks, membuatnya lebih mudah muncul kembali. Dengan kata lain, , cara otak menyimpan memori (penyebab) secara langsung menghasilkan kenangan-kenangan tertentu yang menetap dan sulit hilang (akibat).
Sehingga kondisi kenangan yang sulit dilupakan bukanlah sekadar fenomena emosional, tetapi hasil dari mekanisme biologis yang kompleks dalam otak. Proses pembentukan memori jangka panjang mulai dari encoding, penguatan sinaptik melalui LTP, konsolidasi saat tidur, hingga reconsolidation membuat pengalaman tertentu tertanam jauh lebih kuat dibandingkan yang lain. Ketika sebuah peristiwa memiliki muatan emosi yang intens, sering diingat kembali, atau memiliki makna personal yang dalam, jalur saraf yang menyimpannya menjadi semakin kuat dan stabil. Aktivasi amigdala pada pengalaman emosional serta keterkaitan memori dengan identitas diri memperkuat proses tersebut sehingga kenangan tertentu menjadi seolah menyatu dengan diri seseorang. Dengan demikian, ilmu neuroscience menjelaskan bahwa kemampuan atau ketidakmampuan manusia melupakan kenangan bukanlah kebetulan, melainkan akibat langsung dari cara otak bekerja dalam menyimpan, memperkuat, dan mempertahankan memori sepanjang hidup.
Sitasi
Squire, L. R., & Bayley, P. J. (2000). The neuroscience of memory: Consolidation, transformation, and storage. https://cshperspectives.cshlp.org/content/7/8/a021766.short
McGaugh, J. L. (2004). The amygdala modulates the consolidation of memories of emotionally arousing experience
https://www.annualreviews.org/content/journals/10.1146/annurev.neuro.27.070203.144157
Bliss, T. V., & Collingridge, G. L. (1993). A synaptic model of memory: Long-term potentiation in the hippocampus.
https://www.nature.com/articles/361031a0
Nader, K., & Hardt, O. (2009). A single standard for memory: The case for reconsolidation.
https://www.nature.com/articles/nrn2590
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































