Salah satu permasalahan yang masih sering dijumpai dalam penggunaan bahasa Indonesia adalah kesalahan penulisan kata akibat pengaruh pengucapan. Banyak penutur bahasa Indonesia menuliskan kata sebagaimana kata tersebut diucapkan dalam percakapan sehari-hari, bukan berdasarkan bentuk bakunya. Kebiasaan inilah yang kemudian melahirkan berbagai bentuk penulisan yang salah kaprah.
Normalisasi dalam penulisan kata menjadi penting untuk meluruskan kebiasaan tersebut. Bahasa tulis, terutama dalam konteks pendidikan dan administrasi resmi, menuntut ketepatan ejaan agar makna yang disampaikan tidak rancu dan tetap sesuai dengan kaidah yang berlaku, sebagaimana tercantum dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) dan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).
Salah satu contoh yang sering dijumpai adalah penulisan kata praktik yang kerap ditulis praktek. Kesalahan ini terjadi karena dalam pengucapan, bunyi k di akhir kata sering terdengar lemah atau bahkan seperti k mati, sehingga banyak orang menuliskannya secara keliru. Padahal, bentuk baku yang benar menurut KBBI adalah praktik.
Contoh berikutnya adalah kata nasihat yang masih sering ditulis nasehat. Kesalahan ini dipengaruhi oleh kebiasaan lama dan pelafalan yang terdengar serupa. Namun, dalam ejaan bahasa Indonesia yang baku, penulisan yang benar adalah nasihat, tanpa huruf e setelah s.
Kata saksama juga kerap mengalami kesalahan penulisan menjadi seksama. Kesalahan ini muncul akibat pengaruh bunyi dalam pengucapan lisan yang seolah-olah menyisipkan huruf e. Padahal, bentuk yang tepat dan baku adalah saksama, yang bermakna cermat atau teliti.
Selain itu, kata rapor sering ditulis rapot atau rapport. Kesalahan ini umumnya dipengaruhi oleh pelafalan dan penyerapan dari bahasa asing. Menurut KBBI, bentuk baku yang benar adalah rapor, yang digunakan untuk menyebut buku atau laporan hasil belajar peserta didik.
Kesalahan penulisan tersebut tampak sederhana, tetapi jika terus dibiarkan, dapat menumbuhkan kebiasaan berbahasa yang tidak sesuai kaidah. Oleh karena itu, normalisasi penulisan kata perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui pembelajaran, keteladanan, serta pembiasaan menggunakan rujukan yang benar.
Dengan menulis kata secara baku dan tepat, kita tidak hanya meningkatkan kualitas bahasa tulis, tetapi juga menunjukkan sikap tanggung jawab dalam menjaga dan memartabatkan bahasa Indonesia. (mw)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer









































































