Masyarakat agraris dan maritim Nusantara memiliki cara pandang yang khas terhadap alam. Bagi mereka, dunia tidak dipersepsikan sebagai sebuah mesin mati yang hanya diatur oleh hukum-hukum fisika, melainkan sebuah kosmos suatu kesatuan hidup yang bernapas dan penuh dengan arti. Di wilayah pesisir Banten, kosmos ini dihidupi oleh berbagai narasi, dengan salah satu tokoh sentralnya adalah Nyi Roro Kidul. Namun, identitas sesungguhnya dari tokoh ini patut dipertanyakan: apakah ia sekadar ratu siluman dari mitos populer, ataukah suatu entitas kosmologis yang berperan sebagai penghubung antara dimensi yang Sakral dan yang Profan?
Sebelum ajaran agama-agama samawi membentuk ulang cara pandang masyarakat Banten, mereka telah mendiami sebuah alam pikiran yang diwarnai oleh kepercayaan animisme dan dinamisme. Dalam kosmologi awal ini, yang Sakral yakni realitas yang sama sekali berbeda, penuh kekuatan dan makna meresap ke dalam berbagai unsur alam. Batu-batu besar, pepohonan tua, puncak gunung, dan tentu saja lautan yang membentang luas, semuanya merupakan hierofani atau perwujudan nyata dari kuasa yang Sakral. Laut Selatan, dengan ombaknya yang ganas dan misterinya yang dalam, merupakan hierofani yang paling mengesankan. Kekuatan dahsyatnya menuntut sikap hormat dari manusia. Pada fase ini, meskipun persona “Nyi Roro Kidul” mungkin belum dikenal, masyarakat Banten telah membangun relasi dengan “Laut sebagai Yang Sakral”. Berbagai ritual dilaksanakan sebagai bentuk komunikasi dengan kekuatan ini, suatu upaya untuk memelihara keseimbangan kosmos agar kehidupan sehari-hari mereka tetap terlindungi dan sejahtera.
Kedatangan Islam membawa serta konsep Ketuhanan yang transenden dan sama sekali terpisah. Konsep ini, dalam beberapa aspek, bersinggungan dengan pemahaman tentang yang Sakral, namun dalam bentuk yang lebih abstrak dan terpusat. Lantas, bagaimana masyarakat menyelaraskan pengalaman langsung mereka akan kesakralan laut dengan keyakinan baru kepada Tuhan Yang Maha Esa? Di titik inilah terjadi dialektika kebudayaan yang cerdas. Yang Sakral di laut tidak ditolak, melainkan mengalami proses personifikasi. Kuasa abstrak itu tidak lagi hanya berupa kekuatan tak berbentuk, tetapi menjelma menjadi seorang “Ratu” yang memiliki nama, karakter, dan kisahnya sendiri yaitu Nyi Roro Kidul. Menurut pemikir Mircea Eliade, proses semacam ini merupakan cara manusia menghadapi dan mengelola pengalaman akan yang Sakral, dengan memberinya bentuk yang lebih mudah dipahami melalui narasi-narasi manusiawi. Dengan demikian, Nyi Roro Kidul berfungsi sebagai mediasi. Ia menjadi perantara yang memungkinkan masyarakat yang kini telah memeluk Islam untuk tetap berelasi dengan kekuatan sakral laut, tanpa berbenturan dengan prinsip ketauhidan. Keberadaannya merupakan suatu bentuk pengakuan kultural terhadap misteri alam yang tak terhindarkan.
Lalu, bagaimana dengan praktik ritual yang hingga kini masih dapat ditemui di beberapa wilayah Banten? Sebuah penelitian lapangan dalam Jurnal Religiusitas Muslim Pesisir mengungkapkan bahwa praktik tersebut masih bertahan, meskipun maknanya terus mengalami pergeseran. Dari sudut pandang filsafat eksistensial, ritual ini dapat dipahami sebagai upaya manusia untuk menemukan “tempat” atau “kediaman” di dalam dunia. Dengan menyajikan sesajen dan melaksanakan upacara, masyarakat pesisir tidak hanya memohon keselamatan, tetapi juga menegaskan posisi mereka dalam tatanan kosmik: bahwa mereka hadir, mengakui keberadaan kuasa lain, dan berharap dapat hidup dalam harmoni. Ini merupakan wujud etika ekologis purba. Dengan memandang laut memiliki “penguasa” yang harus dihormati, secara tidak langsung mereka memperlakukan laut sebagai subjek yang hidup, bukan sekadar objek eksploitasi belaka. Dalam konteks krisis ekologi masa kini, perspektif kosmologis semacam ini justru menyimpan kebijaksanaan yang amat relevan.
Pada hakikatnya, Nyi Roro Kidul adalah lebih dari sekadar mitos. Ia merupakan jejak hidup dari perjalanan panjang kosmologi masyarakat Banten berevolusi dari penyembahan terhadap kekuatan alam yang impersonal, melalui dialektika dengan ajaran Islam, hingga menjadi simbol mediatif yang kompleks. Mempelajari fenomenanya mengajarkan kita untuk memandang tradisi bukan sebagai sesuatu yang statis, melainkan sebagai proses dinamis dalam pencarian makna. Hal ini membuktikan bahwa hasrat manusia untuk berdialog dengan yang Sakral, serta menemukan harmoni dalam semesta, adalah sebuah cerita yang tiada pernah berakhir.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































