Dalam kehidupan modern yang semakin praktis dan dimudahkan, aktivitas bergerak justru kerap terpinggirkan. Banyak aktivitas harian yang dapat dilakukan tanpa melibatkan gerak tubuh secara berarti. Kondisi ini membuat olahraga sering dipahami sebagai aktivitas tambahan yang melelahkan, bukan sebagai kebutuhan.
Padahal, olahraga tidak harus dimulai dari langkah besar. Ia dapat dimulai dari kebiasaan sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari yang bahkan dianggap tidak merupakan sebuah arti.
Memulai dari Langkah Kecil
Mulai dengan berjalan kaki ketika menuju warung, berjalan kaki menuju tempat ibadah, atau menyisihkan waktu untuk berjalan di pagi hari merupakan bentuk perhatian dasar terhadap tubuh. Aktivitas ini sering dianggap tak berarti, padahal penelitian menunjukkan bahwa aktivitas fisik ringan yang dilakukan secara konsisten akan memberikan manfaat kesehatan yang signifikan.
British Journal of Sports Medicine (2022) menunjukkan bahwa individu yang rutin melakukan aktivitas fisik ringan memiliki kondisi kesehatan yang lebih baik dibandingkan mereka yang tidak aktif.
Olahraga sebagai Kebutuhan, Bukan Hukuman
Hambatan utama berolahraga sering kali bukan pada kemampuan fisik, melainkan pada cara memaknai olahraga. Olahraga kerap dipersepsikan sebagai hukuman atas pola hidup yang dianggap kurang sehat dan juga menganggap olahraga hanya bisa dilakukan Ketika benar-benar sempat.
Health Psychology Review (2021) menegaskan bahwa persepsi terhadap aktivitas fisik sangat memengaruhi konsistensi dan keberlanjutan kebiasaan berolahraga.
Olahraga dan Kesehatan Mental
Olahraga tidak selalu dilakukan karena suasana hati sedang baik. Justru aktivitas fisik berperan dalam membantu membangun suasana hati yang lebih stabil, dan mungkin lebih jelasnya olahraga adalah apaya untuk mencari mood bukan terlaksana ketika mood.
Journal of Affective Disorders (2022) menunjukkan bahwa aktivitas fisik sangat berhubungan dengan peningkatan mood dan penurunan tingkat stres.
Dampak Ketika Tubuh Kurang Bergerak
Kurangnya aktivitas fisik tidak selalu menimbulkan dampak yang langsung terasa. Namun, efeknya bekerja secara perlahan dan bersifat akumulatif.
The Lancet (2023) menempatkan gaya hidup tidak aktif sebagai salah satu faktor risiko utama penyakit kronis, termasuk penyakit kardiovaskular dan gangguan metabolisme.
Dari sisi psikologis, The Lancet Psychiatry (2023) menemukan bahwa individu dengan aktivitas fisik rendah memiliki risiko gangguan kesehatan mental yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang rutin bergerak.
Manfaat Olahraga bagi Tubuh dan Pikiran
Manfaat olahraga tidak selalu terasa secara instan. Aktivitas fisik bekerja secara bertahap namun konsisten dalam menjaga kesehatan tubuh.
Journal of Physical Activity and Health (2024) menunjukkan bahwa olahraga rutin membantu menjaga fungsi tubuh, kesehatan jantung, serta kualitas tidur hingga usia lanjut.
Selain itu, olahraga juga berkontribusi terhadap kesehatan otak. Neuroscience & Biobehavioral Reviews (2021) menjelaskan bahwa aktivitas fisik mendukung fungsi saraf dan meningkatkan kejernihan berpikir.
Tentang Masa Tua yang Sedang Dipersiapkan
Setiap individu akan menghadapi proses menua. Namun, kualitas hidup pada masa tersebut sangat dipengaruhi oleh kebiasaan yang dibangun sejak usia produktif.
Journal of Aging and Physical Activity (2024) menunjukkan bahwa individu yang aktif bergerak sejak usia muda memiliki tingkat kemandirian fisik dan kualitas hidup yang lebih baik di usia lanjut.
Olahraga hari ini merupakan bentuk perhatian terhadap diri di masa depan. Tubuh akan membawa kebiasaan yang dibangun hari ini ke masa tua nanti.
Penutup
Olahraga tidak menuntut kesempurnaan atau kondisi ideal. Ia hanya membutuhkan kesediaan untuk memberi ruang bagi tubuh agar tetap bergerak.
Aktivitas fisik yang dilakukan secara sederhana dan konsisten memiliki dampak yang jauh lebih berarti dibandingkan rencana besar yang terus ditunda. Sekecil apapun pergerakan tentu akan ada dampaknya dan banyak perubahaan akan nyata tampaknya.
Daftar Pustaka
British Journal of Sports Medicine. (2022). Light-intensity physical activity and health outcomes.
Health Psychology Review. (2021). Psychological determinants of physical activity behavior.
Journal of Affective Disorders. (2022). Physical activity, mood regulation, and mental health.
The Lancet. (2023). Global physical inactivity and chronic disease risk.
The Lancet Psychiatry. (2023). Physical activity and mental health outcomes.
Journal of Physical Activity and Health. (2024). Long-term benefits of regular physical activity.
Journal of Aging and Physical Activity. (2024). Physical activity and quality of life in older adults.
Neuroscience & Biobehavioral Reviews. (2021). Exercise and brain health mechanisms.
Tentang Penulis
Ibra Haidar Mustofa merupakan mahasiswa Psikologi Universitas Negeri Semarang. Ia memiliki ketertarikan pada kajian kesehatan mental, pengelolaan emosi, serta hubungan antara aktivitas fisik dan kesejahteraan psikologis.
@ibrahaidarmustofa_
Hayydar2018@gmail.com
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































