Di zaman yang serba canggih ini, kita sering mengagumi ilmu pengetahuan sebagai hasil murni dari kehebatan otak manusia. Laboratorium, riset canggih, dan teknologi kecerdasan buatan seolah menegaskan bahwa manusia adalah “tuan” atas segalanya. Namun, pernahkah kita bertanya dari mana sebenarnya muara segala pengetahuan tersebut? Di sinilah kita perlu menengok kembali ontologi—cabang filsafat yang membedah hakikat “ada” dan asal-usul realitas.
Dalam dunia pemikiran, terdapat perbedaan tajam antara perspektif Barat dan Islam dalam memandang ilmu dan keberadaan. Perbedaan ini bukan sekadar debat teori, melainkan penentu bagaimana kita menjalani hidup.
Barat: Manusia sebagai Pusat Segalanya
Filsafat Barat modern, yang dipelopori tokoh seperti René Descartes dan David Hume, cenderung bersifat antroposentris. Artinya, manusialah yang menjadi pusat kebenaran. Ilmu dianggap sah jika bisa dibuktikan oleh panca indra (empiris) dan masuk akal (rasional).
Dampaknya? Sains menjadi sangat maju secara fisik, namun seringkali terpisah dari nilai spiritual. Dunia dipandang sebagai objek yang harus dikuasai untuk kenyamanan materi semata. Ilmu sering kali kehilangan “jiwa”-nya karena hanya mengejar kemajuan teknis tanpa pijakan moral yang kuat.
Islam: Ilmu adalah Anugerah Ilahi
Berbeda dengan Barat, Islam memandang keberadaan secara teosentris—semuanya berpusat pada Allah SWT. Dalam pandangan Islam, ilmu bukan sekadar hasil temuan manusia, melainkan titipan dari Sang Pencipta. Hal ini tertuang jelas dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 31, saat Allah mengajarkan nama-nama benda kepada Nabi Adam AS.
Para filsuf besar seperti Al-Kindi, Al-Farabi, dan Ibnu Sina menjelaskan bahwa manusia adalah wujud mumkin (ada karena diciptakan), sementara Allah adalah wajib al-wujud (sumber keberadaan yang pasti). Maka, bagi seorang Muslim, tujuan mencari ilmu bukan sekadar untuk menguasai alam, melainkan sarana ibadah untuk mengenal Allah (Ma’rifatullah).
Mencari Titik Temu: Mengawinkan Spiritual dan Rasional
Lantas, apakah kita harus memilih salah satu? Tentu tidak. Perbedaan kedua pandangan ini sebenarnya menyimpan peluang besar untuk saling melengkapi:
* Islam memberikan “Kompas Moral”: Memastikan ilmu pengetahuan digunakan untuk kemaslahatan, bukan kerusakan.
* Barat memberikan “Metode Ilmiah”: Menawarkan cara yang sistematis untuk mengolah potensi alam secara efektif.
Kesimpulannya, ilmu pengetahuan yang ideal adalah yang mampu menggabungkan kedalaman spiritual Islam dengan ketajaman rasionalitas Barat. Kita membutuhkan ilmuwan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga bijak secara spiritual.

Dunia hari ini tidak hanya butuh orang pintar, tapi butuh orang pintar yang sadar bahwa di atas segala pengetahuannya, ada Allah Sang Pemilik Ilmu. Integrasi inilah yang akan melahirkan peradaban yang seimbang—maju teknologinya, mulia akhlaknya.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”









































































