Pernah mendengar istilah Pacu Itiak? Selama ini masyarakat Minangkabau atau masyarakat pada umumnya sering mendengar kata Pacu Jawi bukan? Mari berkenalan dengan tradisi adat Minangkabau khususnya di Kota Payakumbuh yakni Pacu Itiak.
Pacu Itiak sendiri merupakan tradisi khas masyarakat Minang terutama Kota Payakumbuh di mana masyarakat akan mengadakan lomba penerbangan itiak pada lintasan jalur yang telah disediakan oleh panitia. Menurut Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, Tradisi Pacu Itiak ini berawal dari kebiasaan para petani di Kanagarian Aur Kuning, Sicincin, Kota Payakumbuh pada saat menggembala itik. Tradisi budaya tradisional yang syarat dengan filosofi ini, kini juga masuk dalam warisan budaya tak benda yang ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Tradisi pacu itiak ini sudah ada sejak tahun 1928, dengan tujuan awal dilakukan petani untuk menghalau hama. Atraksi ini dihadirkan sebagai bentuk simbol keberhasilan panen dan peternakan dengan perpaduan antara kearifan lokal dan kebudayaan adat yang piawai sebagai tontonan masyarakat. Sering sekali saya mendengar masyarakat menyebut itik-itik yang akan dilombakan sebagai “itiak pacu”. Sebelum itik akan dipacukan, tak jarang itik-itik ini sudah dilatih secara khusus oleh pemiliknya agar terbang lurus sesuai dengan jalur yang sudah ditentukan. Kesehatan itik yang akan dijadikan perlombaan tentu juga harus dijaga ketat oleh sang pemilik, tidak jarang pemilik itik akan memberikan vitamin dan madu sebagai stamina agar ketika perlombaan itik tersebut siap untuk bertanding.
Tradisi ini dipercaya awalnya telah ada di Kota Payakumbuh sekitar tahun 1928 sebagai hiburan para petani lalu dihadirkan kompetisi resmi pada acara Alek Nagari, Baralek dan Batagak Rumah Gadang. Kegiatan ini sempat terhenti sejenak lalu dikembangkan kembali oleh Persatuan Olah Raga Terbang Itik (PORTI) pada tahun 1988 melalui ajang kompetisi atau perlombaan yang memiliki fungsi sebagai pengembangan kebiasaan adat dan pelestarian permainan masyarakat sekitar. Seiring berkembangnya zaman dan media sosial, kegiatan tersebut telah berkembang dan didengar sebagai atraksi kebudayaan terorganisir dan resmi diperlombakan dalam perayaan adat maupun festival kebudayaan sebagai darmawisata adat Kota Payakumbuh. Tradisi ini mulai banyak dilirik oleh wisatawan baik dalam negeri maupun luar negeri sebagai darmawisata adat kebudayaan yang unik dan kuat menarik minat perhatian.
Karena dikenal sebagai darmawisata adat Kota Payakumbuh, Pacu Itiak memiliki filosofi atau nilai tersendiri bukan hanya sebagai tradisi unik dan khas dari Minang sebagai hiburan saja tetapi filosofi Pacu Itiak diambil dari bagaimana kebersamaan masyarakat Minangkabau itu sendiri dalam bersosialisasi. Nilai kebudayaan yang dianut secara mendalam menjadikan tradisi pacu itiak sebagai simbolisme yang diperkenalkan melalui agenda pariwisata rutin dalam ajang kompetisi yang diadakan, hal ini tercermin bagaimana para pemilik itik kompeten dan sangat merawat itiknya sebelum diperlombakan dengan kriteria yang ketat dari panitia lomba. Keuletan, kesabaran, dedikasi serta usaha yang dimiliki si pemilik itik akan tercermin jelas pada itik yang akan dilombakan nantinya sebagai atraksi budaya yang membanggakan sebagai destinasi wisata budaya yang unik.
Selain dari nilai kebudayaan yang sangat tinggi, pacu itiak juga sebagai simbol dari kehidupan dan sosialisasi bermasyarakat yang ada di Kota Payakumbuh. Hal ini dicerminkan dari kesepakatan yang dihadirkan, kesatuan maupun kerjasama masyarakat, kejujuran yang dijunjung tinggi sebelum perlombaan dimulai, juga sebagai pencerminan dari kebudayaan agraris yang memiliki kaitan erat dengan keberhasilan panen serta peternakan yang dimiliki oleh masyarakat Kota Payakumbuh. Tidak hanya sebagai suatu ajang perlombaan saja, tetapi pada kegiatan ini juga menjadi ajang untuk bercengkrama antar sesama masyarakat. Persaingan yang tercipta dalam kompetisi ini bukanlah sebagai bentuk pencarian lawan semata tetapi sebagai bentuk semangat persaudaraan dalam keberagaman yang dikemas dalam perlombaan pacu itiak.
Walaupun pacu itiak merupakan darmawisata adat Kota Payakumbuh pada saat ini, banyak sekali tantangan yang harus dihadapi guna tetap menghidupkan kembali tradisi unik ini. Terjadinya arus globalisasi dan perkembangan gaya kehidupan masyarakat generasi muda saat ini merupakan tantangan yang sangat sulit dihadapi, peminatan generasi muda pada tradisi ini cenderung turun apalagi untuk merawat itik atau terlibat sebagai panitia acara penyelenggaraan kegiatan adat. Banyak juga generasi muda yang memiliki pemikiran bahwasanya kompetensi ini menyakiti para itik yang akan dilombakan, hal ini sudah dikonfirmasi juga oleh panitia penyelenggara bahwa dipastikan itik yang dilombakan tidak akan tersakiti dan juga dijaga ketat kesehatannya, upaya pengedukasian kepada masyarakat khususnya generasi muda sangat penting agar tradisi ini tetap terus berkembang sebagai destinasi wisata unik.
Untuk menjaga pelestarian kebudayaan ini, menurut saya sangat penting adanya program pembinaan sedari pertumbuhan generasi muda sedang bertumbuh. Pembiasaan baik itu dari masyarakat, pemerintah daerah serta komunitas menjadi peran penting agar tradisi ini tidak punah seiring berkembangnya zaman. Tidak ada salahnya juga untuk mengadakan program pelatihan dasar bagi generasi muda baik sebagai panitia penyelenggara maupun sebagai peserta lomba agar terus terwarisi dengan baik demi generasi yang akan datang. Dengan adanya perkembangan darmawisata adat unik yang sangat khas, pacu itiak dapat dapat menjadi destinasi wisata adat yang diharapkan juga dapat membantu masyarakat setempat baik secara ekonomi maupun sebagai ikon wisata adat dari Kota Payakumbuh hingga ke mancanegara.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”







































































