Saya pernah membaca salah satu komentar sebuah video debat singkat di TikTok yang membuat saya berpikir ulang tentang cara kita memandang ilmu pengetahuan. Di satu sisi, ada pengguna yang condong ke sains, bersemangat menerangkan teori Big Bang dan evolusi. Pengguna lain yang condong ke agama, dengan gigih menjawab, “Tapi dalam Al-Qur’an sudah dijelaskan semua asal-usul ciptaan-Nya. Kita harus kembali ke wahyu.” Kolom komentar pun penuh dengan aroma perang dingin yang tak sedap. Fisika vs Agama. Akal vs Wahyu. Ilmu Umum vs Ilmu Islam.
Saya saat itu hanya bisa menghela napas. Di kepala saya, kedua hal itu tidak sedang berkelahi. Mereka seperti dua sudut pandang dari kenyataan yang sama, namun kedua pembicara itu terlalu sibuk mengacungkan ‘pedang’, terbutakan untuk melihat bahwa medan pertempuran itu mungkin tidak ada.
Ini bukan sekadar persoalan di media sosial. Dalam kehidupan nyata, banyak anak muda yang merasakan kegelisahan serupa. Kita lelah dengan narasi “agama vs sains”. Kita lelah dengan pilihan dikotomis yang memaksa kita memilih salah satu di antara menjadi “ilmuan sekuler” atau “religius yang anti-sains”. Kita hidup di era dimana kita bisa memesan ojek online dalam hitungan detik, tapi cara berpikir kita tentang ilmu pengetahuan seringkali masih terjebak dalam kotak-kotak abad pertengahan. Padahal, jiwa kita merindukan harmoni, sebuah cara untuk menjadi cerdas secara intelektual tanpa harus meminggirkan keyakinan spiritual.
Lalu, bagaimana jika kita mencoba pendekatan yang berbeda? Pendekatan integratif. Hal ini bukan sekadar menempelkan label “Islami” pada rumus matematika atau mencari-cari kesamaan antara teori relativitas dan ayat Al-Qur’an secara dipaksakan. Bukan itu. Integrasi yang sesungguhnya adalah sebuah mindset, sebuah kacamata baru untuk memandang seluruh realitas, yang memungkinkan kita menghargai kedua belah pihak tanpa harus terjebak dalam dikotomi.
Pertama-tama, mari kita pahami bahwa bertanya dan meneliti ciptaan Tuhan bukanlah bentuk ketidakpercayaan, melainkan perwujudan dari rasa ingin tahu yang justru dianjurkan dalam Islam. Al-Qur’an berulang kali mengajak kita untuk mengamati alam seperti mempelajari langit, gunung, laut, dan segala isinya. Ini adalah undangan terbuka untuk menjadi seorang ilmuwan!
Ambil contoh konsep penciptaan alam semesta. Al-Qur’an dalam Surah Al-Anbiya ayat 30 menyatakan, “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya.” Banyak ilmuwan, termasuk Muslim, membaca ini dengan kagum. “Kepaduan” yang kemudian “terpisah” itu sangat berhubungan dengan teori Big Bang. Daripada berdebat siapa yang lebih dulu, pendekatan integratif melihatnya sebagai dua narasi yang saling menguatkan: satu dari sisi metafisik-wahyu, yang lain dari sisi fisika-empiris. Ini tidak mengurangi kemahakuasaan Tuhan, justru memperlihatkan bahwa tanda-tanda kebesaran-Nya terbentang tidak hanya dalam kitab suci, tapi juga dalam setiap persamaan matematika dan ledakan bintang.
Dengan mindset ini, iman kita tidak lagi rapuh saat dihadapkan pada temuan sains. Iman kita justru menjadi dinamis, tumbuh bersama dengan pemahaman kita akan alam semesta. Kita beriman bukan meskipun ada sains, tetapi dengan dan melalui sains.
Di sisi lain, sains tanpa panduan nilai-nilai etika yang kokoh bisa menjadi monster. Kita menyaksikan bagaimana kemajuan teknologi yang pesat tidak selalu diiringi dengan kemajuan moral, misalnya dalam sejarah perang dunia, polusi industri, eksploitasi alam secara berlebihan, dan yang terjadi sekarang yakni penyalahgunaan kecerdasan buatan sehingga merugikan orang lain. Di sinilah integrasi ilmu agama dan sains menemukan relevansinya. Nilai-nilai Islam seperti keadilan, kebijaksanaan, dan kasih sayang dapat menjadi kompas etika bagi perkembangan sains dan teknologi. Islam menawarkan kerangka etika yang dalam berupa konsep khalifah (penjaga bumi) mengajak kita untuk bertanggung jawab terhadap lingkungan. Konsep maslahah (kebaikan bersama) mengingatkan bahwa kemajuan teknologi harusnya membawa kemaslahatan, bukan kerusakan.
Bayangkan seorang ilmuwan yang mendesain sebuah teknologi. Jika dia terintegrasi, dia tidak hanya bertanya, “Bisakah teknologi ini dibangun?” tetapi juga, “Haruskah teknologi ini dibangun? Apa dampaknya bagi masyarakat dan alam? Apakah ini adil?” Pendekatan integratif melahirkan para profesional yang tidak hanya kompeten di bidangnya, tetapi juga berintegritas dan berempati.
Kita sering lupa bahwa peradaban Islam pernah menjadi pelopor kemajuan sains dengan pendekatan integratif ini. Ibnu Sina (Avicenna) bukan hanya seorang filsuf dan teolog, tapi juga dokter brilian yang karyanya menjadi rujukan Eropa selama berabad-abad. Al-Khawarizmi mengembangkan aljabar, sebuah disiplin ilmu yang sangat rasional, tanpa harus meninggalkan identitas keislamannya. Mereka tidak melihat konflik. Bagi mereka, mempelajari alam adalah bagian dari ibadah, sebuah jalan untuk mendekatkan dan mengenal Sang Pencipta (tafakkur).
Mereka adalah bukti nyata bahwa dikotomi “ilmu agama vs ilmu umum” adalah produk impor dari sejarah pemikiran Barat yang sekuler, yang kemudian kita telan mentah-mentah. Sudah waktunya kita kembali ke khazanah pemikiran kita sendiri yang lebih holistik.
Jadi, ini bukan lagi tentang memenangkan debat “agama vs sains”. Ini tentang menjadi manusia yang utuh. Pendekatan integratif adalah tawaran untuk merdeka dari kotak-kotak sempit itu. Ia mengajak kita untuk menggunakan akal budi yang Tuhan berikan untuk menyelami alam semesta, sekaligus merendahkan hati di hadapan kebenaran wahyu.
Dengan pendekatan ini, kita bisa menjadi generasi yang tidak mudah disetir oleh narasi pertentangan palsu. Kita bisa mendalami programming dengan logika yang tajam, sambil hati kita terpaut pada nilai-nilai kejujuran dan keadilan. Kita bisa meneliti sel punca dengan rigor metodologis tertinggi, sambil dilandasi etika untuk tidak melampaui batas agar menjaga martabat manusia.
Integrasi ilmu pengetahuan Islam dan umum adalah spiritualitas intelektual, yakni sebuah jalan untuk beriman dengan lebih cerdas, lebih kritis, dan lebih bertanggung jawab. Bagi kita yang lelah dengan perang antara agama dan sains, mungkin inilah jalan tengah yang selama ini kita cari dan butuhkan, yaitu sebuah ruang di mana akal dan wahyu bukan lagi musuh, tetapi dua sahabat yang berjalan beriringan menuju Kebenaran yang sama.
Kita tidak perlu memilih antara mau menjadi ilmuan atau ulama/ustadz. Kita bisa menjadi keduanya: ilmuan yang religius ataupun ulama yang ilmiah. Dan dalam konteks zaman yang penuh kompleksitas ini, justru kombinasi inilah yang paling kita butuhkan. Mari mulai dari hal sederhana, berhenti berdebat dan mulai berdialog. Berhenti membandingkan, dan mulai mengintegrasikan. Karena sesungguhnya, dalam mencari kebenaran, kita semua berada di pihak yang sama.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































