Dunia pendidikan di Indonesia sekarang menghadapi berbagai tantangan yang tidak hanya terbatas pada aspek kognitif, melainkan juga menyentuh isu-isu psikologis yang lebih mendalam. Krisis kesehatan mental di kalangan pelajar telah menjadi masalah yang serius, dengan data menunjukkan bahwa satu dari setiap tujuh anak berusia sekolah berisiko tinggi mengalami gangguan mental. Kondisi ini tidak hanya mengancam kesejahteraan mental individu, tetapi juga menjadi hambatan besar bagi pencapaian akademis dan masa depan generasi bangsa. Penyebab permasalahan ini cukup kompleks, muncul dari interaksi antara faktor internal seperti warisan genetik dan faktor eksternal seperti lingkungan keluarga serta sekolah. Dampak dalam konteks akademik semakin terasa dengan meningkatnya tingkat stres, kecemasan, serta gejala depresi di kalangan siswa, yang berkaitan langsung dengan penurunan prestasi akademis. Yang lebih memprihatinkan, meskipun isu ini telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan, banyak siswa yang mengalami masalah psikologis tidak mendapatkan akses atau merasa enggan untuk mencari bantuan yang mereka butuhkan.
Data tentang Kesehatan Mental Siswa menunjukkan bahwa antara 10-20% anak dan remaja di seluruh dunia mengalami masalah kesehatan mental, berdasarkan informasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Indonesia juga tidak terlepas dari masalah ini. Laporan dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018 menyatakan bahwa prevalensi gangguan emosional dan mental pada anak berusia 5-15 tahun mencapai 17,37%, termasuk hiperaktivitas dan masalah perilaku emosional. Sayangnya, sebagian besar anak-anak yang mengalami masalah ini tidak mendapatkan perawatan yang memadai, dan kelalaian ini berdampak signifikan terhadap proses belajar mereka. Kesehatan mental merujuk pada kondisi individu yang mencakup aspek psikologis, sosial, dan emosional, yang ditandai dengan stabilitas emosional, ketahanan terhadap stres, serta kemampuan untuk berfungsi baik dalam kehidupan sehari-hari (WHO, 2014).
Guru sebagai pendidik dan pembimbing harus memiliki kematangan, kedewasaan, serta kesehatan fisik dan mental agar dapat bertanggung jawab dalam menanamkan nilai dan sikap positif kepada siswa. Sebagai teladan, guru perlu menunjukkan perilaku yang baik karena sikap negatif dapat berdampak buruk bagi anak didik. Mengajar merupakan aktivitas kompleks yang memerlukan perencanaan matang. Selain guru, orang tua juga berperan penting dalam memperhatikan kondisi sekolah anak, karena lingkungan rumah dan sekolah yang tidak selaras dapat menjadi sumber tekanan bagi anak dan menghambat perkembangan karakter. Oleh karena itu, sekolah harus memperhatikan kesehatan mental siswa dengan melibatkan guru sebagai pihak utama. Guru berperan tidak hanya sebagai pendidik, tetapi juga sebagai teman dan sosok orang tua di sekolah yang menciptakan suasana yang menyenangkan dan memberi ruang ekspresi.
Permasalahan ini melibatkan berbagai sektor. Dari sisi internal, kesehatan mental anak dipengaruhi oleh faktor-faktor genetik, sedangkan faktor-faktor eksternal mencakup kondisi keluarga dan sekolah (Fithriani, 2024). Lingkungan sekolah, yang seharusnya menjadi ruang aman, seringkali menjadi pemicu stres utama. Temuan dari penelitian lapangan menunjukkan bahwa adanya kecemasan, stres, dan gejala depresi yang signifikan di kalangan siswa sangat berkaitan dengan tekanan untuk mencapai hasil akademis, tugas sekolah yang terlalu banyak, serta kurangnya interaksi sosial (Urang & Widodo, 2025). Dampak dari isu ini berlangsung lama, menghalangi kemajuan pendidikan, mengganggu interaksi sosial, dan secara dasar membatasi kesempatan siswa untuk menikmati kehidupan dewasa yang memuaskan (Fithriani, 2024). Selanjutnya, jumlah siswa yang menghadapi masalah psikologis tetapi tidak mendapatkan atau tidak mau mencari layanan perawatan yang dibutuhkan cukup tinggi (Sanusi, 2023), semakin menegaskan bahwa sekolah harus bertindak sebagai garis pertahanan pertama (first responder).
Mengatasi masalah krisis kesehatan mental ini membutuhkan pendekatan yang menyeluruh, terintegrasi, dan berfokus pada peran penting guru serta dukungan dari kepemimpinan sekolah. Untuk mengatasi masalah krisis kesehatan mental dengan cara :
A. Penguatan Kapasitas Guru: Pilar Deteksi Dini dan Dukungan
Guru memiliki posisi penting dalam ekosistem kesehatan mental siswa. Tugas mereka tidak hanya mengajarkan materi, tetapi juga berfungsi sebagai contoh, menanamkan nilai-nilai positif, serta menciptakan suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan (Fithriani, 2024; Marianty et al., 2025).
Untuk menanggapi masalah secara efektif, guru harus dibekali dengan kompetensi intervensi awal. Solusi nyata yang terbukti adalah melalui pelatihan Dukungan Psikologis Awal (DPA) / Psychological First Aid. Pelatihan ini ditujukan untuk memperkuat pengetahuan dan kemampuan para pengajar sehingga mereka dapat memberikan bantuan darurat, mendukung individu dalam mengurangi gejala stres, serta mempercepat pemulihan dari situasi krisis pribadi (Amirullah et al., 2024). Dengan bekal DPA, guru bertransformasi menjadi “Jembatan Dukungan” (Urang & Widodo, 2025) yang dapat mengatasi keengganan siswa mencari bantuan formal, serta mampu melakukan identifikasi awal terhadap tanda-tanda gangguan mental (Fithriani, 2024).
B. Kepemimpinan Sekolah dan Program Pencegahan Terstruktur
Intervensi pada level makro perlu didorong oleh kepemimpinan sekolah yang responsif dan fleksibel. Para pemimpin pendidikan harus bisa mengarahkan sistem yang rumit dengan perhatian yang seimbang pada pembelajaran serta kesejahteraan seluruh komunitas (Taufiqurohman, 2025). Kerangka pemecahan masalah di tingkat institusional mencakup tiga langkah programatik utama (Marianty et al., 2025):
1. Meningkatkan Pengetahuan dan Pemahaman: Menyelenggarakan pendidikan dan kampanye peningkatan literasi tentang kesehatan mental secara terus menerus untuk semua anggota sekolah.
2. Pembuatan Program Pencegahan dan Intervensi Awal: Mengembangkan program yang secara khusus fokus pada risiko gangguan mental di kalangan pelajar, seperti program pengelolaan stres dan pelatihan keterampilan sosial.
3. Selain program pencegahan, respon darurat harus diatur dengan baik melalui kolaborasi antar berbagai peran (Taufiqurohman, 2025).
C. Menjaga Kesejahteraan Guru (Guru Well-being)
Kerangka kerja untuk menyelesaikan masalah tidak akan berhasil jangka panjang jika tidak menangani risiko kelelahan profesional dan stres kerja yang dialami oleh para pengajar (Marianty et al., 2025). Guru yang diharapkan memberikan dukungan emosional yang intensif kepada siswa harus dipastikan berada dalam kondisi mental yang sehat. Solusi yang ditawarkan adalah membangun lingkungan sekolah yang penuh empati dan mendukung bagi semua anggota komunitas sekolah (Taufiqurohman, 2025). Pelatihan seperti DPA sebaiknya dipahami sebagai pendekatan timbal balik: sebuah upaya untuk meningkatkan kemampuan guru dalam mendukung murid dan juga memperkuat literasi emosional guru untuk merawat kesejahteraan pribadi mereka.
Dengan demikian, menangani masalah kesehatan mental dalam sistem pendidikan di Indonesia memerlukan strategi yang komprehensif yang meliputi pendidikan, pengembangan keterampilan, kerjasama antara berbagai pihak, serta fokus pada kesejahteraan seluruh anggota komunitas sekolah. Langkah ini merupakan sebuah bentuk investasi yang krusial untuk masa depan generasi muda dan perkembangan negara secara keseluruhan. Oleh karena itu, menangani masalah kesehatan mental dalam sistem pendidikan di Indonesia memerlukan strategi yang komprehensif yang meliputi pendidikan, pengembangan keterampilan, kerjasama antara berbagai pihak, serta fokus pada kesejahteraan seluruh anggota komunitas sekolah. Langkah ini merupakan sebuah bentuk investasi yang krusial untuk masa depan generasi muda dan perkembangan negara secara keseluruhan.
Daftar Pustaka
Amirullah, M., Harum, A., Latif, S., Saman, A., & Buchori, S. (2024). Workshop Kesehatan Mental sebagai Upaya Meningkatkan Kapasitas Guru dalam Memberikan Dukungan Psikologis Awal bagi Siswa. 4(3), 189–197. https://doi.org/10.59395/altifani.v4i3.543
Fithriani. (2024). PERAN GURU DALAM MENJAGA KESEHATAN MENTAL PESERTA DIDIK. Mimbar Akademika, 9, 43–58.
Marianty, D., Hidayati, A., Widodo, P. B., & Diponegoro, U. (2025). Peran Guru dan Upaya Sekolah Dalam Menangani Kesehatan Mental Siswa di Indonesia: Tinjauan Literatur Sistematis. 3(1), 49–63.
Sanusi. (2023). Pentingnya Mengutamakan Kesejahteraan Mental Siswa bagi Puncak Pencapaian Pedagogis. Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini, Prodi Pendidikan Islam Anak Usia Dini, 4, 14–31.
Taufiqurohman, M. (2025). KEPEMIMPINAN SEKOLAH DALAM KRISIS KESEHATAN MENTAL PESERTA DIDIK : RESPON DARURAT DAN PRAKTIK TERBAIK. 3(1), 206–218.
Urang, Y. S., & Widodo, P. B. (2025). Strategi Sekolah dalam Menangani Gangguan Kesehatan Mental Siswa : Peran Guru sebagai Jembatan Dukungan. 4(3).
WHO. (2014). Promoting Mental Health: Concept, Emerging Evidence, Practice.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































