Globalisasi tidak hanya sekadar berkaitan dengan perpindahan barang, jasa, atau teknologi, tetapi juga membawa arus komunikasi global yang secara bebas melintasi antar negara. Globalisasi ini membawa pengaruh dari berbagai budaya yang kemudian terbentuk suatu imperialisme budaya. Pada setiap masa pemerintahan, Indonesia seringkali mengalami perkembangan yang berbeda-beda oleh pengaruh budaya asing. Pada masa pemerintahan Soekarno, lebih tepatnya saat orde lama, pengaruh budaya asing masih bisa dikendalikan karena pemerintah menekankan nasionalis budaya. Pada masa orde baru, arus globalisasi lebih mudah masuk ke Indonesia akibat kebiajkan pintu terbuka. Pada masa reformasi, globalisasi semakin menguat akibat terbukanya berbagai sektor, membuat budaya Barat dan Asia semakin mendominasi masyarakat.
Arus komunikasi global membawa perubahan dalam berinteraksi, perubahan ini terlihat dari penggunaan bahasa gaul dan munculnya istilah baru yang sering digunakan oleh para remaja. Generasi muda, lebih tepatnya Gen Z, sering mencampurkan Bahasa Indonesia dengan istilah asing yang dipengaruhi oleh media social, tren global, dan konten digital lainnya.
Globalisasi membawa bentuk-bentuk bahasa baru yang lebih ringkas, ekspresif, dan mudah beradaptasi dengan kebutuhan komunikasi cepat. Komunikasi berbasis digital seperti, media sosial, media pengirim pesan, maupun forum daring dituntut untuk menanggapi hubungan timbal-balik antar pengguna secara real time, yang kemudian menyederhanakan struktur bahasa dengan menggunakan singkatan dan akronim. Contoh penggunaan bentuk ringkas dari serapan bahasa asing, khususnya Bahasa Inggris seperti btw (by the way), lol (laugh out loud), atau oot (out of topic). Kosakata digital baru juga berkembang secara dinamis. Kosakata ini tidak hanya sebatas istilah slang, tetapi juga meliputi bentuk leksikal baru yang muncul dari budaya digital, seperti istilah yang berasal dari platform tertentu (contohnya unfollow, DM, stalking), adaptasi dari bahasa asing, serta bentuk kreatif yang dihasilkan dari permainan fonologi dan morfologi (ciwi-ciwi, bestie, gaskeun, caper, pap, dan lainnya).
Emoji juga memiliki peran penting sebagai pelengkap bahasa verbal. Emoji berfungsi untuk mengungkapkan perasaan, menjelaskan konteks, dan memudahkan masyarakat dalam menyampaikan pesan secara cepat, ringkas, dan ekspresif.
Teknologi digital dan budaya luar menjadi faktor utama yang membentuk pola komunikasi generasi muda. Influencer memiliki banyak pengikut yang berperan untuk menyebarkan viral trends yang kemudian akan ditiru oleh para pengikutnya. Dengan konten yang mereka buat, para influencer secara tidak langsung mengenalkan istilah baru, slang, permainan kata, serta cara berkomunikasi yang santai dan penuh ekspresi.
Selain influencer, bahasa asing, lebih tepatnya Bahasa Inggris juga menjadi faktor penyebab pergeseran Bahasa Indonesia di era digital. Sebagaimana kita tahu bahwa Bahasa Inggris merupakan Bahasa internasional yang mendominasi teknologi digital dan media sosial, yang akan semakin mudah digunakan dan dipahami oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia. Generasi muda juga sudah banyak yang menggunakan atau mencampurkan bahasa asing untuk berkomunikasi sehari-hari karena dianggap lebih relevan dengan aktivitas digital mereka.
Pergeseran Bahasa Indonesia semakin jelas, terlihat dari maraknya penggunaan bahasa gaul dan singkatan untuk dijadikan strategi marketing. Kini sudah banyak brand menggunakan gaya berbahasa ini untuk menarik perhatian, khususnya audiens muda karena mereka terpacu untuk memahami dan membeli atau mengikuti tren tersebut agar tidak merasa ketinggalan dalam lingkungan sosial mereka. Disinilah brand memanfaatkan kecenderungan FOMO (Fear of Missing Out) di kalangan anak remaja yang dapat memicu keterlibatan emosional dan rasa urgensi sosial.
Penggunaan bahasa gaul dalam bentuk akronim di kalangan remaja juga menunjukkan adanya kreativitas positif dalam berbahasa. Mereka dapat menambah variasi akronim dengan menciptakan akronim baru secara inovatif. Bahasa gaul yang mereka buat bersama dapat digunakan sebagai bahan komunikasi untuk memperkuat hubungan sosial.
Namun, ada tantangan yang perlu kita waspadai dengan adanya pergeseran Bahasa Indonesia. Seperti adanya kesalahpahaman dalam menerima dan menafsirkan pesan. Remaja yang aktif di media sosial seringkali menggunakan bentuk bahasa yang praktis dengan gaya bahasa non-formal tanpa mencermati struktur dan kaidah kebahasaan yang benar. Ketika suatu pesan tersebar ke media massa, akan terjadi kesalahpahaman antarindividu karena pembaca akan menafsirkan maksud dari pesan itu dengan pengalaman atau pemandangan mereka maisng-masing. Hal ini akan ada kemungkinan terjadi penyebaran hoaks jika pesan yang diterima tidak dilteliti atau dikonfirmasi terlebih dahulu.
Tantangan lainnya seperti pergeseran nilai dan norma dalam kehidupan sosial. Banyak pengguna aktif di media sosial yang menggunakan istilah slang tanpa memperhatikan penyesuaian konteks. Ketika bahasa gaul dan santai digunakan dalam situasi yang formal, maka akan menggeeser batas-batas norma dalam berkomunikasi. Penggunaan bahasa gaul tidak selalu berdampak negatif, yang dikhawatirkan adalah jika penggunaan bahasa tidak diimbangi dengan pemahaman konteks
Globalisasi, teknologi digital, dan media sosial tidak hanya membawa kemajuan, namun ada hal-hal yang harus diperhatikan dan disaring agar dampaknya menjadi positf terhadap kita yang menerima. Jika tidak diimbangi dengan literasi berbahasa, penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar akan terancam menghilang.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































