Pergeseran cara berkomunikasi dengan menggunakan berbagai platform media digital memberikan akses kemudahan untuk berinteraksi dan melakukan aktivitas komunikasi satu sama lain bahkan dalam jarak jauh sekalipun. Generasi yang tumbuh sejak masa teknologi digital atau yang akrab disapa sebagai Gen Z tentunya sudah tidak asing lagi dengan platform-platform media sosial seperti, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Snapchat, Whatsapp, dan lain sebagainya.
Definisi dari media sosial sendiri adalah sebuah media online berisikan jejaring sosial, blog dan forum virtual yang dimana orang yang menggunakannya bisa berpatisipasi (Cahyono, 2016). Adanya media sosial di kalangan muda-mudi menggiring mereka untuk mempublikasikan segala sesuatu di ruang publik sebagai gambaran dari sebuah identitas diri (Ayun, 2015). Atau istilah lainnya, yakni munculnya media sosial adalah sebagai wadah untuk mereka membangun social branding.
Sosial media yang kita gunakan sehari-hari tentunya bisa menciptakan sebuah keterikatan antara pengguna dengan platform, konten yang dikonsumsi, hingga komunitas yang ada di dalamnya. Hal tersebut tentu akan memengaruhi pola pikir pengguna dan tentunya juga akan berdampak pada bagaimana ia bertindak di dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam dunia nyata maupun dunia maya.
Efek dari penggunaan media sosial melahirkan sisi positif dan negatif. Jika dilihat dari sisi kacamata positif, hadirnya aplikasi media sosial dapat menguntungkan tergantung cara kita mengaplikasikannya. Contohnya dalam konteks berwirausaha, mereka dapat menggunakan media sosial sebagai sarana untuk mempromosikan produknya dengan memposting foto dan melakukan siaran langsung saat berjualan. Berbeda dengan sisi positif, penggunaan media sosial juga sering kali menimbulkan dampak yang menuju kearah negatif jika tidak ditangani dengan baik, salah satunya adalah timbulnya perilaku social comparison.
Menurut Wood (1989), Social comparison didefinisikan sebagai sebuah perbandingan yang dilakukan seseorang dalam hal keahlian, pendapat atau karakteristik dari orang lain dengan maksud untuk mengevaluasi diri sendiri. Secara umum, social comparison merupakan sebuah perilaku seseorang dalam membandingkan dirinya dalam segala aspek.Di kalangan Gen Z, sering kita jumpai beberapa orang yang berperilaku social comparison, ia terlihat sering kali membandingkan dirinya dengan orang-orang yang ia jumpai di media sosial. Hal ini lebih sering mengarah ke hal yang negatif, seperti memicu sifat kecemburuan dan minder.
Contoh yang paling mendasar adalah karena gaya hidup. Semakin mewah gaya hidup seseorang yang dibagikan dalam laman media sosial, semakin tinggi pula social comparisonnya. Seseorang yang merasa minder akan semakin membandingkan dirinya dan pastinya memicu rasa iri terhadap dirinya dengan seseorang yang memiliki hidup sesuai dengan apa yang ia inginkan.
Jika perilaku social comparison terus tumbuh di dalam diri seseorang, akan menimbulkan beberapa akibat, diantaranya :
1. Rasa gelisah saat bersosialisasi
Seseorang yang sering terlihat membandingkan dirinya dengan orang lain akan cenderung gelisah ketika sedang bersosialisasi meskipun hanya lewat media sosial saja. Hal ini dikarenakan timbulnya rasa ketidakpercayaan diri serta tekanan yang kuat dari orang-orang disekitar karena ia merasa tidak memenuhi ekspektasi orang-orang ketika melihat gaya hidupnya di media sosial dengan di dunia nyata.
2. Depresi
Terlalu sering melihat kehidupan orang lain di media sosial yang dirasa jauh lebih baik dari dirinya akan menimbulkan perasaan tidak enak serta kecemasan yang berlebihan. Perilaku social comparison tersebut selain membuat seseorang menjadi pribadi yang tertutup, juga akan menimbulkan gejala depresi. Semakin tinggi rasa ketidakpuasannya maka akan semakin tinggi pula rasa frustasinya.
3. Mendorong perilaku konsumtif
Para remaja kalangan Gen Z sudah tidak asing dengan sebuah perilaku “menyamakan” standar hidup mereka dengan orang lain. Apa yang orang lain punya pasti akan menimbulkan pemikiran bahwa ia harus memiliki sesuatu yang sama atau adanya tuntutan untuk memenuhi ekspektasi dan omongan para pengikut di akun media sosial.
Perilaku tersebut akan mendorong kita untuk berperilaku konsumtif. Yaitu sebuah dampak yang negatif dan terkesan menghambur-hamburkan uang karena pembelian barang yang tidak digunakan atau hanya sebatas fomo saja.
Perilaku social comparison di kalangan Gen Z yang muncul dalam era komunikasi digital tentu akan mengganggu kondisi psikis seseorang sehari-hari jika penggunaan media sosial tersebut digunakan secara tidak bijak atau hanya sebagai wadah untuk membandingkan diri diri sendiri dengan orang lain.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer






































































