Kehadiran internet menjadi sebuah fenomena kemajuan teknologi yang menyebabkan terjadinya percepatan globalisasi dan penyebaran informasi yang tidak terbatas di seluruh dunia.
Teknologi juga berkembang pesat dalam aspek kehidupan manusia terutama di bidang perekonomian khususnya sistem pembayaran. Sistem pembayaran dapat diartikan sebagai suatu sistem yang berkaitan dengan pemindahan dana dari satu pihak ke pihak lain yang melibatkan berbagai komponen dalam sistem pembayaran yang salah satunya adalah uang. Uang adalah sebuah alat pembayaran yang digunakan di seluruh negara tidak terkecuali Indonesia. Beberapa fungsi uang, antara lain sebagai alat penukar atau alat pembayar dan pengukur harga sehingga dapat dikatakan bahwa uang juga merupakan alat utama dalam suatu perekonomian. Dengan uang, perekonomian suatu negara akan berjalan dengan baik sehingga mendukung tercapainya tujuan bernegara. Salah satu bentuk uang sebagai alat pembayaran yang sedang berkembang saat ini adalah e-wallet. Menjelaskan e-wallet adalah media elektroniknya yang berbentuk serves based dan digunakan sebagai alat pembayaran digital dengan menggunakan koneksi internet terlebih dahulu. E- wallet atau dompet elektronik merupakan sebuah layanan elektronik berupa program perangkat lunak (aplikasi) yang berupa alat pembayaran digital yang digunakan melalui media elektronik berupa server based yang bisa diakses dan digunakan melalui smartphone. Yang berfungsi untuk menyimpan uang digital yang digunakan sebagai instrumen pembayaran dengan menggunakan uang elektronik tersebut.
Di era serba digital seperti sekarang, membawa dompet tebal berisi uang tunai sudah mulai terasa kuno, terutama bagi generasi muda. Mahasiswa zaman sekarang, yang dikenal sebagai bagian dari Generasi Z, tampaknya lebih nyaman hanya dengan membawa ponsel untuk bertransaksi. Dari membeli kopi sebelum kuliah, membayar ojek online, hingga belanja kebutuhan bulanan semua bisa dilakukan lewat sentuhan jari. Dunia keuangan kini berubah cepat, dan generasi ini menjadi aktor utamanya. Sebuah riset dari Visa Indonesia menunjukkan bahwa hampir 9 dari 10 anak muda di Indonesia sudah menggunakan dompet digital sebagai alat pembayaran utama. Data ini membuktikan betapa pesatnya pergeseran kebiasaan dari uang tunai ke sistem cashless. Tidak hanya itu, metode pembayaran lewat QR code juga semakin populer di kalangan mahasiswa, terutama karena dianggap cepat, aman, dan praktis. Bahkan, dibandingkan beberapa tahun lalu, penggunaan pembayaran digital meningkat drastic transaksi lewat aplikasi melonjak dari 45 persen pada 2021 menjadi 80 persen pada 2022. Hal yang menarik, kebiasaan ini bukan cuma soal gaya hidup modern, tapi juga mencerminkan perubahan dalam cara berpikir generasi muda soal keuangan. Sebuah penelitian di Bandung menemukan bahwa penggunaan sistem pembayaran digital seperti QRIS berpengaruh besar terhadap perilaku konsumsi mahasiswa. Semakin sering mereka menggunakan QRIS, semakin sering pula mereka bertransaksi, terutama untuk kebutuhan harian. Bayangkan saja, dengan sekali scan, mereka bisa langsung membayar makanan di kantin kampus atau jajan di kafe favorit. Tidak heran, sistem ini terasa jauh lebih praktis dibanding mencari uang pas di dompet.
Kemudahan seperti inilah yang membuat mahasiswa semakin meninggalkan uang tunai. Transaksi yang bisa dilakukan dalam hitungan detik membuat mereka tidak perlu lagi repot mencari ATM. Selain itu, sistem pembayaran digital juga dinilai lebih aman karena menggunakan PIN, kode OTP, atau verifikasi biometrik. Ditambah lagi, hampir semua tempat kini sudah mendukung pembayaran lewat QRIS, mulai dari warung kecil di sekitar kampus hingga toko online besar. Artinya, ke mana pun mereka pergi, ponsel menjadi “dompet” utama yang wajib dibawa. Namun, bukan hanya faktor praktis yang membuat cashless payment begitu diminati. Promo dan cashback juga punya peran besar. Banyak mahasiswa yang mengaku lebih sering menggunakan dompet digital karena ada potongan harga atau diskon menarik dari berbagai aplikasi. Selain itu, tren media sosial juga ikut mendorong kebiasaan ini. Melihat teman lain yang membayar dengan cepat dan tanpa uang tunai menumbuhkan rasa “ikut-ikutan”, yang kemudian menjadi kebiasaan baru. Meski begitu, tren cashless di kalangan mahasiswa juga membawa tantangan tersendiri. Beberapa mahasiswa mengaku jadi lebih konsumtif karena kemudahan transaksi membuat mereka tidak terlalu “merasa” mengeluarkan uang. Selain itu, tidak semua daerah punya akses internet yang stabil atau merchant yang mendukung QRIS. Masalah keamanan data juga masih perlu diperhatikan agar pengguna, terutama mahasiswa yang masih belajar mengelola keuangan, tidak menjadi korban penipuan digital. Terlepas dari tantangan itu, tidak bisa dipungkiri bahwa perkembangan transaksi digital telah mengubah cdalam mengatur keuangan. Mahasiswa Gen Z membuktikan bahwa dunia tanpa uang tunai bukan lagi masa depan melainkan kenyataan yang sudah hadir di genggaman mereka.ara hidup mahasiswa. Mereka kini lebih efisien, lebih cepat, dan lebih fleksibel dalam mengatur keuangan. Mahasiswa Gen Z membuktikan bahwa dunia tanpa uang tunai bukan lagi masa depan melainkan kenyataan yang sudah hadir di genggaman mereka.
Penggunaan aplikasi pembayaran digital di kalangan Mahasiswa saat ini umumnya dilakukan secara cashless. Lalu, untuk menggunakan aplikasi pembayaran digital, Mahasiswa diharuskan untuk memiliki rekening yang terdaftar dan terverifikasi sesuai dengan data dirinya. Penggunaan pembayaran digital oleh pengguna dari segi minat penggunaan diketahui apabila pengguna menggunakan pembayaran digital dalam bertransaksi, pengguna merekomendasikan aplikasi pembayaran digital kepada pengguna lain, pengguna melakukan transaksi dengan pembayaran digital dalam dalam waktu dekat, dan pengguna akan terus menggunakan pembayaran digital dalam bertransaksi. Pembayaran secara cashless payment adalah seluruh transaksi keuangan yang dilakukan tanpa melibatkan uang kartal seperti giro dan cek, tetapi menggunakan sarana elektronik seperti transaksi melalui Anjungan Tunai Mandiri (ATM), kartu debet, kartu kredit, serta transaksi yang menggunakan teknologi tinggi seperti ebanking, e- commerce, atau e- payment.
Hasil dari wawancara kepada Mahasiswa UINSU Medan, mereka menyatakan bahwa pembayaran cashless lebih mudah digunakan karena aplikasinya terdapat didalam ponsel yang setiap harinya selalu dibawa kemana-mana. Pembayaran cashless juga sangat mendukung dalam perilaku konsumtif berbelanja online yang dilakukan Mahasiswa seperti melakukan pembayaran pembelian di marketplace dengan menggunakan sistem transfer maupun dompet digital yang disediakan. Seperti saat ini mahasiswa UINSU Medan lebih memilih untuk membeli pakaian di marketplace seperti Shopee dibanding membeli secara offline karena selain perbandingan harga yang cukup tinggi, dengan menggunakan metode pembayaran tertentu seperti e- money (Shopeepay) terdapat banyak potongan harga maupun cashback tambahan yang sangat menggiurkan bagi mahasiswa. Akan tetapi, kekurangan dari pembayaran Cashless adalah Mesin EDC dan mobile banking masih sangat bergantung pada koneksi internet, Koneksi internet yang tidak stabil akan menghambat proses transaksi. Selain itu, jaringan komunikasi dalam transaksi ekonomi yang apabila disalahgunakan dapat dengan mudah menimbulkan kecurangan yang tidak bertanggung jawabyang dapat merugikan banyak pihak, baik dalam bentuk produksi maupun dalam bentuk pembiayaan, menyebabkan komunikasi yang dapat berimplikasi pada standar, seperti adanya sistem pencemaran nama baik dan intersepsi dan peretas dalam sistem transaksi ekonomi.
Bisa disimpulkan kalau perkembangan transaksi digital sekarang ini benar-benar berpengaruh besar terhadap gaya hidup mahasiswa, terutama Generasi Z. Mereka sudah sangat terbiasa menggunakan pembayaran digital seperti e-wallet, QRIS, dan aplikasi perbankan online karena lebih praktis dan cepat dibanding harus membawa uang tunai. Hampir semua kebutuhan bisa dibayar lewat ponsel, mulai dari makan, transportasi, sampai belanja online. Tapi di balik semua kemudahan itu, ada juga sisi negatifnya. Banyak mahasiswa jadi lebih boros karena merasa lebih gampang mengeluarkan uang tanpa sadar, apalagi kalau ada promo, cashback, atau diskon. Selain itu, pembayaran digital juga masih bergantung sama jaringan internet dan kadang bisa terkendala kalau sinyal jelek. Masalah keamanan data juga masih perlu diperhatikan biar nggak ada penyalahgunaan atau penipuan. Secara keseluruhan, transaksi digital sudah jadi bagian dari kehidupan mahasiswa sekarang. Dunia tanpa uang tunai bukan cuma sekadar tren, tapi sudah jadi kebiasaan baru di kalangan Gen Z yang selalu ingin serba cepat, efisien, dan praktis dalam bertransaksi.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































