Fenomena perubahan interaksi sosial pada remaja menjadi sorotan penting di tengah perkembangan teknologi yang begitu pesat. Media sosial, gim dare, dan aplikasi komunikasi kini menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari remaja. Lalu, apa sebenarnya yang terjadi pada hubungan sosial mereka? Pada dasarnya, teknologi memberi kemudahan, tetapi juga membawa perubahan besar terhadap cara remaja berkomunikasi, memahami orang lain, dan membangun hubungan emosional.
Dalam kajian sosiologis, interaksi sosial bukan sekedar pesan, tetapi proses memahami makna melalui ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan intonasi suara. Ketika komunikasi beralih menjadi serba digital, banyak aspek penting tersebut hilang. Akibatnya, hubungan sosial yang terben tuk menjadi lebih halus, rentan salah paham, dan kurang hangat.
Salah satu dampak yang sering muncul adalah menurunnya kemampuan interaksi tatap muka. Banyak remaja kini merasa lebih nyaman mengetik pesan dibandingkan berbicara langsung. Mereka takut salah ucap, canggung, atau tidak tahu bagaimana memulai percakapan. Lama-kelamaan, hal ini mencakup rasa percaya diri dan kemampun bekerja sama dalam kelompok.
Dalam jangka panjang, perubahan ini dapat menyebabkan disorganisasi sosial, yaitu kondisi ketika norma interaksi langsung yang sebelumnya semakin memudar. Ruang-ruang sosial seperti kelas, kantin, dan lingkungan sekolah menjadi lebih sepi secara komunikasi, meskipun secara fisik siswa sedang berkumpul.
Penelitian yang dilakukan oleh Indrasvari, Lusiana, dan Puspitasari (2021) memberikan gambaran nyata tentang bagaimana penggunaan smartphone berpengaruh terhadap interaksi sosial remaja di Indonesia. Penelitian ini melibatkan siswa kelas XII dari beberapa sekolah dan menunjukkan bahwa sebagian besar dari mereka mengalami penurunan interaksi tatap muka dengan teman sebaya. Banyak siswa yang lebih memilih menggunakan media sosial atau pesan digital meskipun berada di lingkungan yang sama. Beberapa remaja bahkan merasa kurang percaya diri ketika harus berbicara langsung karena mereka sudah terbiasa membangun komunikasi melalui teks pesan. Situasi ini juga terlihat dalam kerja kelompok, di mana percakapan tatap muka lebih sering digantikan oleh diskusi melalui grup chat, meskipun para siswa sebena rnya berada dalam satu ruangan.
Temuan ini menunjukkan bahwa intensitas penggunaan smartphone yang berlebihan dapat menggerus kemampuan sosial remaja dalam kehidupan nyata. Mereka mungkin terlihat sangat aktif di dunia digital, namun secara sosial justru semakin menjauh secara emosional dari lingkungan sekitar .
Fenomena ini menimbulkan beberapa dampak sosial yang cukup terlihat dalam kehidupan remaja. Interaksi digital yang minim ekspresi membuat mereka semakin sulit memahami perasaan orang lain, sehingga empati perlahan menurun. Hubungan pertemanan menjadi lebih menarik karena banyak remaja berkomunikasi hanya melalui komentar atau pesan singkat tanpa keterlibatan emosional. Selain itu, rasa ketidaknyamanan dalam berhadapan langsung semakin meningkat, yang membuat remaja kesulitan bekerja sama dalam kegiatan kelompok atau menyampaikan pendapat di lingkungan sekolah. Lama-kelamaan, kondisi ini dapat membentuk sikap individualis, di mana remaja lebih fokus pada dunia pribadi di dalam gawai mereka dibandingkan dengan kehidupan sosial di sekitarnya.
Beberapa langkah dapat dilakukan untuk membantu remaja mengembalikan keseimbangan interaksi sosial. Penciptaan ruang aman, baik di rumah maupun sekolah, menjadi penting agar remaja merasa nyaman untuk berinteraksi tanpa rasa takut dinilai atau dihakimi. Sekolah juga dapat menetapkan zona bebas gawai pada waktu-waktu tertentu untuk memberi kesempatan bagi siswa berkomunikasi secara langsung. Guru dan orang tua perlu memberikan contoh nyata tentang komunikasi tatap muka yang sehat dan hangat. Selain itu, kegiatan kolaboratif seperti diskusi kelompok, seni, permainan, dan olahraga bisa menjadi metode efektif untuk meningkatkan kerja sama dan kepercayaan diri. Jika remaja menunjukkan tanda-tanda kecemasan sosial yang lebih serius, pendampingan dari konselor sekolah atau psikolog sangat diperlukan.
Kesimpulan yang dapat diambil adalah Perkembangan teknologi digital membawa manfaat besar, tetapi juga menimbulkan tantangan baru dalam interaksi sosial remaja. Studi nyata dari Indrasvari dkk. menunjukkan bahwa penggunaan smartphone yang berlebihan dapat menurunkan kualitas komunikasi tatap muka remaja. Oleh karena itu, diperlukan keseimbangan antara interaksi digital dan interaksi langsung agar perkembangan sosial remaja tetap berjalan optimal. Peran keluarga, sekolah, dan lingkungan sangat penting untuk membantu remaja kembali membangun hubungan sosial yang sehat.
Daftar Pustaka:
Indrasvari, R., Lusiana, N., & Puspitasari, R. (2021). Analisis Dampak Penggunaan Smartphone Terhadap Interaksi Sosial Remaja Selama COVID-19. Jurnal Penelitian Pendidikan IPA, 7(2), 167–172.
Kusuma, N. (2022). Interaksi Remaja di Era Digital. Jurnal Sosiologi Remaja, 5(1), 45–58.
Pradipta, L. (2023). Dampak Media Digital terhadap Perkembangan Sosial Remaja. Jurnal Psikologi Sosial, 9(2), 102–114.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































