Bulan Ramadan adalah bulan penuh ampunan, tempat istimewa untuk menyucikan jiwa bagi setiap insan yang ingin kembali kepada Allah SWT. Ramadhan hadir sebagai kesempatan berharga untuk memohon pengampunan sekaligus memperbaiki diri. Pada bulan inilah umat Islam diajak merawat hati, bukan hanya selama Ramadan, tetapi juga pada bulan-bulan setelahnya. Sebab, dari hati yang bersih dan terjaga, akan lahir karakter dan perilaku yang baik.
Ketika hati dipenuhi kebaikan, perilaku pun akan mengikuti. Kejujuran tercermin dalam ucapan, kesantunan tampak dalam sikap, dan prasangka buruk terhadap sesama dapat ditekan. Sebaliknya, hati yang lalai dan kotor akan memudahkan seseorang tergelincir dalam ucapan dan perbuatan yang menyakiti orang lain.
Ramadan seharusnya menjadi momentum untuk terus berbenah, berusaha menjadi hamba yang lebih taat dalam menunaikan kewajiban serta bertanggung jawab dalam kehidupan sosial. Rasulullah SAW bersabda:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْب
“Ketahuilah, sesungguhnya dalam jasad manusia terdapat segumpal daging. Apabila ia baik, maka baiklah seluruh jasadnya. Namun apabila ia rusak, maka rusaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.”(HR. Al-Bukhari)
Hadis ini menegaskan bahwa perbaikan diri sejatinya berawal dari hati. Para ulama pun memberikan perhatian besar pada persoalan ini. Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa hadis tersebut menjadi landasan pentingnya menjaga kesucian hati dari segala hal yang dapat merusaknya. Sementara Syekh Ibnu Ajibah mengibaratkan hati sebagai setir, sedangkan anggota tubuh lainnya adalah penumpang. Ke mana hati diarahkan, ke sanalah seluruh perilaku akan berjalan.
Jika hati condong kepada kebenaran, maka sikap dan tindakan pun akan memancarkan nilai-nilai kebaikan. Namun jika hati terbiasa diarahkan pada kesalahan, maka kesalahan itulah yang akan terus tercermin dalam perilaku sehari-hari. Begitu pula dengan sifat zuhud, ketika ia tertanam dalam hati, akan tampak dalam sikap hidup yang bersandar kepada Allah dan lapang menerima setiap ketentuan Allah SWT.
Orang yang hatinya terjaga akan lebih percaya pada takdir Allah daripada sekadar rencana pribadinya. Ia menyadari bahwa tidak semua yang direncanakan harus terwujud, dan tidak semua yang terjadi harus disesali.
Fenomena hari ini menunjukkan bahwa banyak anak muda kesulitan mengendalikan hati, pikiran, bahkan perkataan. Kata-kata mudah dilontarkan tanpa mempertimbangkan dampaknya. Media sosial kerap menjadi ruang pelampiasan emosi, tempat jari dan bibir bekerja cepat, sementara hati luput dari kendali. Padahal, sejatinya hati adalah pusat dari segala ucapan dan tindakan.
Di bulan puasa ini, menahan diri dari perkataan yang tidak pantas menjadi bagian penting dari ibadah. Puasa bukan semata menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan hawa nafsu, termasuk nafsu berkata kasar, menyakiti, dan merendahkan orang lain.
Menjaga hati, dengan demikian, merupakan perkara mendasar dalam Islam. Imam Az-Zarnuji bahkan menegaskan bahwa mempelajari gerak-gerik hati adalah ilmu yang wajib diketahui setiap Muslim, karena hanya dengan pemahaman itulah seseorang mampu mengendalikan dirinya secara benar.
Ramadan adalah saat yang tepat untuk membersihkan jiwa, menata ulang niat, dan mengetuk pintu ampunan Allah SWT. Dari hati yang dibersihkan, semoga lahir pribadi-pribadi yang lebih santun, bijak, dan menebar kebaikan, bukan hanya selama Ramadan, tetapi juga setelahnya.
“If you never know failure, you will never know success.” (Jika kita tidak pernah mengenal kegagalan, kita tidak akan pernah memahami arti kesuksesan.) (aik)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”









































































