Samarinda, kota pelajar di Kalimantan Timur, telah lama menjadi tujuan utama bagi ribuan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Kampus besar seperti Universitas Mulawarman, Politeknik Negeri Samarinda, UMKT, hingga UINSI Samarinda menjadi magnet yang menjadi daya tarik bagi banyak anak muda untuk menimba ilmu. Namun, di balik semangat merantau dan impian yang dipikul, terselip kisah nyata yang tak seindah promosi kampus tentang dunia perkuliahan. Menjadi mahasiswa bukan hanya tentang belajar, tetapi juga tentang perjuangan rantau menghadapi kerasnya hidup di kota orang. Fenomena meningkatnya biaya hidup, ditambah tekanan sosial dan gaya hidup perkotaan, selalu menjadi tantangan nyata bagi mereka yang berjuang jauh dari rumah.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Samarinda, Oktober 2025, tingkat inflasi tahunan (year-on-year) tercatat sebesar 2,03%, dengan peningkatan terbesar pada kelompok makanan, minuman, serta perawatan pribadi dan jasa lainnya (BPS Samarinda, 2025). Walaupun tidak setinggi tahun sebelumnya, kenaikan harga ini tetap memberi dampak langsung pada daya beli masyarakat, terutama mahasiswa rantau yang menjalani hidup dengan uang kiriman orang tua. Di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil, biaya hidup di Samarinda juga relatif tinggi hingga mencapai Rp 2.258.433 per kapita per bulan pada tahun 2024, terdiri atas pengeluaran makanan sebesar Rp 941.017 dan nonmakanan Rp 1.317.416 (Radar Kaltim, 2024).
Hasil riset Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulawarman (2022) menunjukkan bahwa lebih dari 60% mahasiswa rantau di Samarinda mengaku kesulitan mengatur keuangan, terutama di pertengahan semester. Sebagian besar dari mereka bergantung penuh pada kiriman keluarga yang sering kali tidak sebanding dengan kebutuhan harian di kota yang terus berkembang ini.
Kondisi ini diperparah oleh tekanan sosial yang muncul dari lingkungan pergaulan mahasiswa. Gaya hidup konsumtif seperti nongkrong di kafe, membeli barang demi gengsi, hingga mengikuti tren media sosial tanpa perhitungan perlahan menjadi kebiasaan baru mahasiswa. Mahasiswa yang terpengaruh oleh tekanan sosial tersebut biasanya merasa terpaksa untuk menuruti gaya hidup konsumtif karena takut jika nantinya akan dikucilkan dari kelompoknya apabila dianggap berbeda.
Rasa takut ini juga diperparah dengan adanya budaya circle atau yang diketahui sebagai budaya kelompok pertemanan terbatas yang terdiri atas anggota dengan berbagai kesamaan dalam kehidupan pertemanan kampus mahasiswa. Circle ini biasanya sudah terbentuk sejak awal perkuliahan dan tidak memungkinkan perpindahan ke dalam circle baru.
Di sisi lain, kebutuhan akademik mahasiswa juga meningkat, seperti biaya fotokopi, tugas lapangan, tugas publish dan kegiatan organisasi yang sering kali memaksa mahasiswa untuk harus mengeluarkan uang melebihi dari kemampuan finansial mereka. Mahasiswa seringkali terjebak dalam situasi yang mengharuskan mereka untuk mengeluarkan uang agar mendapatkan nilai yang bagus atau sekedar untuk menghadiri program kerja yang faktanya terkadang hanya membuang uang saja dan tidak memberikan manfaat pasti.
Dilema kendaraan juga turut hadir dalam pengeluaran uang oleh mahasiswa. Mereka yang tidak memiliki kendaraan seringkali harus memesan ojek online dengan biaya yang tidak murah untuk pergi ke kampus atau menghadiri kegiatan-kegiatan kampus.
Parahnya, banyak mahasiswa terutama mahasiswa baru yang juga tidak memiliki kendaraan, seringkali dipaksa oleh senior mereka untuk menghadiri program kerja suatu organisasi yang sebenarnya tidak diminati oleh mahasiswa tersebut. Adanya paksaan ini membuat mereka merasa takut menolak dan pada akhirnya mereka terpaksa untuk tetap hadir dengan mengeluarkan biaya transportasi yang bahkan sepadan dengan uang makan dua kali dalam sehari.
Ironisnya, dukungan ekonomi dari kampus maupun pemerintah daerah masih terbatas. Program seperti beasiswa KIP-Kuliah memang menjadi penyelamat bagi sebagian mahasiswa, tetapi realitanya belum mampu menjangkau seluruh kalangan rantau yang membutuhkan. Hal ini mengakibatkan banyak mahasiswa harus beradaptasi dengan cara mencari penghasilan tambahan melalui kerja paruh waktu, membuka usaha kecil, hingga menjadi freelancer untuk bertahan hidup.
Fenomena ini tidak hanya persoalan uang, tetapi merupakan cermin nyata ketimpangan sosial di lingkungan akademik. Mahasiswa yang datang dengan latar belakang ekonomi berbeda mengalami kesenjangan dalam gaya hidup, akses belajar, bahkan kepercayaan diri di lingkungan kampus.
Sebagai mahasiswa yang hidup di tengah realitas rantau Samarinda, saya melihat fenomena ini bukan hanya dari sisi kesulitan, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter dan kemandirian. Rantau mengajarkan banyak hal seperti mengenai tanggung jawab, pengelolaan keuangan, dan kemampuan bertahan di tengah keterbatasan. Namun, tanggung jawab itu tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada individu. Pemerintah daerah dan pihak kampus perlu lebih peka terhadap kondisi sosial mahasiswa rantau, dengan memperluas jangkauan beasiswa, membuka peluang kerja kampus, serta menciptakan kebijakan ekonomi mahasiswa yang lebih berkeadilan.
Pada akhirnya, menjadi mahasiswa rantau bukan hanya tentang menuntut ilmu, tetapi juga tentang belajar hidup dalam ketidakpastian. Dari ruang-ruang kecil kos hingga hiruk pikuk kota Samarinda, kita belajar arti sesungguhnya dari kata “berjuang.” Bagi mahasiswa rantau, setiap hari adalah ujian kesabaran dan keteguhan. Dari sanalah lahir pribadi yang tangguh, yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang dalam menghadapi kehidupan.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































