Istilah mahasiswa “Kupu-Kupu” atau Kuliah Pulang-Kuliah Pulang sudah melegenda di dunia kampus. Selama bertahun-tahun, label ini sering ditempelkan dengan nada sinis: dianggap mahasiswa yang tidak aktif, apatis terhadap organisasi, atau kurang pandai bergaul. Namun, di era digital dan dominasi Gen Z saat ini, stigma tersebut tampaknya perlu ditinjau ulang. Apakah menjadi mahasiswa Kupu-Kupu benar-benar tanda kemalasan, atau justru sebuah strategi bertahan hidup yang realistis?
Dalam lanskap kehidupan modern, definisi “aktif” tidak lagi terbatas pada seberapa sering seseorang terlihat di sekretariat organisasi atau nongkrong di kantin kampus hingga larut malam. Bagi mahasiswa saat ini, pulang cepat dari kampus seringkali bukan untuk tidur siang, melainkan untuk memasuki “dunia kedua” mereka secara virtual.
Pergeseran budaya kerja dan hustle culture telah mengubah cara mahasiswa memandang waktu luang. Banyak mahasiswa Kupu-Kupu yang sebenarnya sedang membangun karier lebih dini. Saat teman-temannya rapat organisasi, mereka mungkin sedang mengerjakan proyek freelance, mengikuti bootcamp daring untuk meningkatkan skill, mengelola bisnis kecil-kecilan di media sosial, atau magang secara remote. Bagi mereka, kamar kos bukan sekadar tempat istirahat, melainkan ruang kerja yang produktif tanpa distraksi.
Selain itu, kesadaran akan kesehatan mental (mental health) juga menjadi faktor pendorong gaya hidup ini. Hiruk-pikuk dinamika kampus yang seringkali diwarnai drama politik organisasi atau tekanan sosial (peer pressure) bisa sangat melelahkan bagi sebagian orang. Memilih untuk segera pulang adalah cara mereka menjaga kewarasan, mengisi ulang energi sosial (recharge), dan menikmati waktu berkualitas untuk diri sendiri atau keluarga.
Tentu saja, tantangan bagi mahasiswa Kupu-Kupu tetap ada, terutama dalam hal networking tatap muka. Namun, di era di mana LinkedIn dan komunitas daring global lebih mudah diakses, batasan koneksi fisik menjadi semakin kabur.
Pada akhirnya, menjadi mahasiswa Kupu-Kupu di masa kini bukanlah sebuah dosa akademik. Ini adalah tentang manajemen prioritas. Selama waktu di luar kampus digunakan untuk pengembangan diri yang positif—baik itu bekerja, belajar mandiri, atau sekadar menjaga keseimbangan mental—maka menjadi Kupu-Kupu adalah pilihan hidup yang sah dan strategis di tengah tuntutan zaman yang serba cepat ini.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































