Pendidikan tinggi seharusnya menjadi pilihan penting bagi generasi muda untuk mengembangkan kemampuan, memperluas wawasan, dan meningkatkan kualitas hidup. Namun kenyataannya, minat remaja di Bangka Tengah untuk melanjutkan ke perguruan tinggi masih rendah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023, hanya 15,52 persen remaja berusia 19 tahun ke atas yang menempuh pendidikan tinggi, jauh di bawah rata-rata nasional 31 persen. Angka ini menjadikan Bangka Belitung salah satu Provinsi dengan minat kuliah terendah di Indonesia. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan: mengapa remaja enggan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi?
Dilansir dari Viral24Jam, seorang guru SMAN 1 Simpang Katis menjelaskan, “banyak siswa bingung menentukan minat dan bakatnya, mereka belum punya gambaran jelas tentang masa depan sehingga sering mengikuti teman yang langsung bekerja setelah lulus”. Keputusan mereka juga dipengaruhi lingkungan sosial, pergaulan dengan teman sebaya, serta minimnya dorongan dan motivasi dari sekolah. Beberapa siswa menganggap pendidikan tinggi kurang sesuai dengan kebutuhan dan realitas hidup mereka di daerah.
Faktor ekonomi menjadi hambatan terbesar bagi siswa untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Banyak keluarga memiliki kemampuan finansial terbatas, sehingga sulit membiayai uang kuliah, transportasi, dan kebutuhan sehari-hari selama kuliah. Kondisi ini membuat sebagian siswa memilih jalan cepat, yakni langsung bekerja setelah lulus daripada menanggung beban biaya pendidikan yang tinggi. Akibatnya, kesempatan mereka untuk mendapatkan pendidikan lebih tinggi dan meningkatkan kualitas hidup menjadi terbatas. Hal ini menunjukkan bahwa rendahnya partisipasi remaja dalam pendidikan tinggi bukan hanya masalah individu, tetapi juga dipengaruhi lingkungan sosial dan keterbatasan ekonomi.
Berdasarkan konsep kekerasan simbolik Pierre Bourdieu, rendahnya partisipasi remaja tidak hanya dipengaruhi kondisi ekonomi atau faktor sosial yang nyata, tetapi juga oleh norma dan persepsi yang mereka internalisasi dari lingkungan sekitar. Siswa dari keluarga kurang mampu atau yang jarang melihat contoh keberhasilan pendidikan tinggi cenderung menerima batasan tersebut sebagai hal wajar, tanpa menyadari bahwa sebenarnya mereka memiliki peluang untuk maju. Akibatnya, mereka merasa kuliah bukan pilihan realistis, dan motivasi serta aspirasi mereka terbatas. Oleh karena itu, dibutuhkan intervensi yang membentuk lingkungan sosial yang mendukung, memberi motivasi, dan memfasilitasi akses pendidikan tinggi, sehingga persepsi yang membatasi ini dapat diubah dan minat siswa meningkat.
Pertama, konseling karier dan orientasi pendidikan tinggi di sekolah dapat membantu siswa mengenali minat, bakat, dan potensi diri. Kegiatan seperti bimbingan karier, workshop pengenalan jurusan kuliah, dan simulasi memilih jalur pendidikan tinggi dapat membangun aspirasi yang realistis dan terukur. Kedua, dukungan finansial menjadi faktor penting. Program beasiswa, bantuan biaya kuliah, atau subsidi transportasi dapat secara langsung meringankan beban keluarga. Ketiga, penguatan lingkungan sosial di sekolah dan masyarakat dapat membentuk norma yang mendukung aspirasi akademik. Mentoring oleh alumni dan pembentukan komunitas belajar memberi contoh nyata. Dengan melihat keberhasilan orang lain dari latar yang sama, siswa lebih termotivasi untuk menantang batasan yang selama ini dianggap wajar.
Pemanfaatan media informasi dan sosialisasi kreatif juga penting. Seminar, workshop, media sosial, maupun platform digital dapat menjadi sarana menyebarkan informasi tentang peluang pendidikan tinggi dan karier. Hal ini dapat meningkatkan motivasi, memperluas wawasan, dan menumbuhkan kepercayaan diri siswa untuk melanjutkan kuliah. Secara keseluruhan, rendahnya minat siswa melanjutkan pendidikan tinggi di Bangka Tengah dipengaruhi oleh kombinasi faktor ekonomi, sosial, dan persepsi yang terbentuk dari lingkungan sekitar.
Dengan konseling pendidikan, dukungan finansial, mentoring, serta pemanfaatan media informasi, siswa dapat melihat pendidikan tinggi sebagai peluang, bukan hambatan. Oleh karena itu, dukungan dari sekolah, pemerintah, keluarga, dan masyarakat sangat krusial untuk menciptakan lingkungan yang mendorong aspirasi akademik siswa. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan remaja Bangka Tengah tidak lagi melihat kuliah sebagai hal “tidak mungkin” melainkan sebagai peluang nyata untuk meningkatkan kualitas hidup dan berkontribusi bagi kemajuan daerah.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































