Amangkurat Cinta Semerah Darah.
Buku Amangkurat Cinta Semerah Darah karya Ade Mulyono merupakan kumpulan cerpen yang menghadirkan narasi-narasi berlatar Kerajaan Mataram di tanah Jawa abad ke-17. Diterbitkan oleh Langgam Pustaka pada Januari 2026, buku ini memuat 13 cerpen dengan total 193 halaman. Dari judulnya, pembaca sudah disuguhi nuansa dramatik yang menegaskan keterkaitan antara kekuasaan, cinta, dan pertumpahan darah sebagai poros utama cerita.
Kumpulan cerpen ini mengangkat isu-isu yang sesungguhnya lumrah dalam sejarah kerajaan Jawa, seperti intrik politik istana, perebutan kekuasaan, kesetiaan abdi, pengkhianatan, hingga cinta yang terhimpit kepentingan negara. Namun, kelumrahan tema tersebut tidak serta-merta menjadikan karya ini banal, sebab Ade Mulyono mengolahnya dalam bentuk cerpen yang padat, emosional, dan sarat konflik batin tokoh.
Ade Mulyono tidak menulis sejarah dalam pengertian akademik yang ketat, tetapi sejarah sebagai latar estetik. Fakta-fakta sejarah digunakan sebagai fondasi naratif, bukan sebagai tujuan utama. Dengan demikian, karya ini lebih tepat diposisikan sebagai sastra sejarah daripada historiografi.
Keunggulan utama buku ini terletak pada kemampuannya memadukan konflik politik dengan pergulatan psikologis tokoh-tokohnya. Intrik istana tidak hanya ditampilkan sebagai strategi kekuasaan, tetapi juga sebagai sumber penderitaan personal tokoh-tokohnya. Kekuasaan digambarkan selalu menuntut pengorbanan—sering kali darah dan perasaan.
Dari segi karakterisasi, tokoh-tokoh dalam cerpen Ade Mulyono cenderung kompleks dan ambivalen. Tidak ada tokoh yang sepenuhnya suci atau sepenuhnya jahat. Raja, bangsawan, prajurit, maupun kekasih tampil sebagai manusia yang terjebak dalam sistem feodal yang keras. Pendekatan ini memperlihatkan kesadaran pengarang terhadap dimensi kemanusiaan dalam struktur kekuasaan tradisional.
Bahasa yang digunakan Ade Mulyono cenderung komunikatif, namun tetap menjaga nuansa klasik yang sesuai dengan latar zaman saat itu. Pilihan diksi, metafora, dan simbolisme darah, keris, istana, menjadi elemen penting dalam membangun atmosfer cerita. Akan tetapi pada beberapa bagian, gaya bahasa yang terlalu puitis berpotensi mengaburkan kejelasan peristiwa bagi pembaca awam.
Struktur cerpen dalam buku ini umumnya mengikuti pola konvensional: pengenalan konflik, peningkatan ketegangan, dan klimaks tragis. Pola ini efektif dalam menjaga intensitas cerita, tetapi secara akademik dapat dikritisi karena minimnya eksperimen bentuk. Sebagian cerpen terasa memiliki formula dramatik yang serupa, sehingga mengurangi kejutan estetik
Pengkhianatan menjadi motif yang berulang dan signifikan. Secara simbolik, pengkhianatan dalam cerpen-cerpen ini bukan semata tindakan individual, tetapi refleksi sistem politik yang mendorong manusia untuk mengkhianati nilai-nilai moralnya sendiri. Dalam konteks ini, Ade Mulyono secara implisit mengkritik struktur kekuasaan absolut.
Buku ini menjadi menarik karena menampilkan relasi kuasa antara raja, bangsawan, dan rakyat sebagai relasi yang timpang dan represif. Cerpen-cerpen tersebut dapat dibaca sebagai alegori atas kekuasaan yang tidak pernah lepas dari kekerasan simbolik maupun fisik.
Namun demikian, dapat dicatat bahwa suara rakyat jelata belum sepenuhnya mendapat ruang dominan. Narasi masih banyak berpusat pada elit istana. Hal ini membuka ruang diskusi akademik tentang posisi pengarang dalam merepresentasikan sejarah: apakah ia mereproduksi perspektif kekuasaan atau sekadar menggunakan istana sebagai pusat dramatik.
Dari aspek kebaruan, Amangkurat Cinta Semerah Darah tidak menawarkan tema yang sepenuhnya baru, tetapi memberikan penyegaran melalui format cerpen dan intensitas emosional yang kuat. Pengarang berhasil mengemas sejarah yang kerap dianggap berat menjadi bacaan yang dapat dinikmati oleh khalayak luas tanpa kehilangan kedalaman makna.
Secara keseluruhan, buku ini menunjukkan kecerdikan Ade Mulyono dalam mengolah tema sejarah, cinta, dan kekuasaan secara seimbang. Kekuatannya terletak pada konflik batin tokoh, dan konsistensi tema. Kelemahannya terletak pada kecenderungan repetisi pola cerita dan keterbatasan eksplorasi sudut pandang.
Amangkurat Cinta Semerah Darah layak dibaca tidak hanya sebagai karya sastra hiburan, tetapi juga sebagai objek kajian akademik. Buku ini membuka ruang interpretasi lintas pendekatan—historis, psikologis, dan sosiologis—serta memperlihatkan bagaimana sastra mampu menjadi medium refleksi kritis terhadap sejarah dan kekuasaan.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































