Dalam tradisi intelektual Islam, aktivitas ilmiah tidak pernah dipandang sebagai sesuatu yang terpisah dari praktik keagamaan. Sebaliknya, sains merupakan salah satu bentuk wujud ibadah, karena ia muncul dari perintah Al-Qur’an untuk membaca, mengamati, dan memikirkan ciptaan Allah. Al-Qur’an tidak hanya menyampaikan wahyu berbentuk teks, tetapi juga mengarahkan manusia untuk membaca ayat kauniyah—tanda-tanda kebesaran Allah yang tersebar di alam.
Lebih dari 750 ayat Al-Qur’an membahas fenomena alam, astronomi, zoologi, embriologi, geologi, hingga hukum-hukum keteraturan alam semesta. Fenomena pergantian siang dan malam, peredaran planet, proses hujan, pertumbuhan tumbuhan, hingga penciptaan manusia disebut Al-Qur’an sebagai bukti kekuasaan Allah. Semuanya adalah objek kajian sains modern. Maka, setiap penelitian ilmiah pada hakikatnya adalah usaha membaca ayat-ayat Allah dalam bentuk lain yang tidak tertulis, tetapi terhampar.

Pada masa keemasan Islam (abad ke-8 hingga 13 M), para ilmuwan Muslim memahami betul bahwa sains adalah bagian dari ibadah. Itulah mengapa ilmuwan seperti Ibn Sina, Al-Biruni, Ibn al-Haytham, Al-Khawarizmi, dan ratusan lainnya tidak hanya berperan sebagai peneliti, tetapi juga sebagai ulama dan filosof. Mereka menulis karya sains dengan bahasa yang memadukan antara zikir dan pikir, antara refleksi teologis dan analisis empiris.
Al-Biruni, misalnya, menyebut bahwa mempelajari alam adalah cara mengagungkan Allah. Ibn al-Haytham, pelopor metode ilmiah modern, memandang eksperimen sebagai cara mengenal hukum-hukum penciptaan. Al-Khawarizmi, pendiri aljabar, mengembangkan ilmu hitung bukan hanya untuk kepentingan teknis, tetapi untuk kemaslahatan umat.
Sains pada masa itu bukan sekadar profesi, tetapi ibadah intelektual. Inilah yang melahirkan lonjakan besar kemajuan ilmu pengetahuan dalam dunia Islam, yang kemudian menjadi fondasi bagi kebangkitan sains di Eropa.

Di era modern, umat Islam menghadapi tantangan besar. Teknologi berkembang begitu cepat, sementara nilai-nilai moral sering tertinggal. Sains yang tidak ditopang oleh etika bisa menjerumuskan manusia pada peristiwa negatif seperti kerusakan lingkungan, eksploitasi manusia, hingga eksperimen yang melanggar batas kemanusiaan. Karena itu, paradigma Islam yang memandang sains sebagai ibadah menjadi sangat penting. Sains yang diniatkan untuk ibadah tidak akan digunakan untuk merusak, tetapi untuk memakmurkan.
Lebih dari itu, menjadikan sains sebagai ibadah akan mendorong generasi Muslim untuk kembali mencintai ilmu pengetahuan. Banyak anak muda Muslim menganggap sains bertentangan dengan agama, padahal dalam Islam keduanya harmonis. Paradigma ibadah membantu menghilangkan dikotomi palsu antara “ilmu agama” dan “ilmu sains”.
Dengan demikian, menjadikan sains sebagai jalan ibadah bukanlah konsep romantik masa lalu. Ia adalah kebutuhan peradaban masa kini. Umat Islam harus kembali memandang sains sebagai bagian dari pengabdian kepada Allah, sebuah aktivitas intelektual yang sekaligus spiritual. Belajar, meneliti, dan menemukan adalah ibadah ketika diniatkan untuk kebaikan umat dan kemuliaan manusia. Di tangan generasi Muslim yang memadukan sains dan ibadah, masa depan peradaban bukan hanya lebih maju, tetapi juga lebih manusiawi dan beretika.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































