Belakangan ini, semakin banyak pengguna media sosial memilih aktif di second account atau fitur close friends dibanding akun utama. Unggahan di akun kedua biasanya jauh dari kesan estetik dan pencitraan: curhatan singkat, foto blur, ekspresi lelah, hingga isi pikiran yang tidak dirapikan. Fenomena ini menunjukkan satu hal penting, media sosial tak lagi selalu ingin menjadi panggung publik, melainkan ruang aman.
Lelah Menjadi Versi “Terbaik”
Akun utama sering kali identik dengan citra. Pengguna merasa perlu menjaga feed, caption, hingga kesan diri yang ingin ditampilkan. Secara tidak sadar, media sosial berubah menjadi etalase identitas yang harus selalu rapi dan positif.
Kelelahan inilah yang mendorong banyak orang membuat akun kedua. Di sana, tidak ada tuntutan terlihat sempurna. Tidak masalah jika sedang sedih, malas, atau tidak produktif.
Second Account sebagai Ruang Aman Digital
Second account dan close friends memberi kendali penuh atas siapa yang boleh melihat sisi personal seseorang. Lingkaran kecil ini menciptakan rasa aman secara emosional, pengguna merasa lebih bebas mengekspresikan diri tanpa takut dihakimi.
Media sosial pun bergeser fungsi: dari tempat pencitraan menjadi ruang berbagi yang lebih intim dan jujur.
Kejujuran yang Lebih Manusiawi
Unggahan di akun kedua sering kali terasa lebih manusiawi. Tidak ada filter berlebihan, tidak ada narasi sukses yang dipaksakan. Justru di sanalah emosi mentah muncul; lelah kuliah, stres kerja, overthinking, hingga kebahagiaan kecil yang sederhana.
Fenomena ini menunjukkan bahwa generasi muda sebenarnya tidak berhenti berbagi, mereka hanya memilih audiens yang tepat.
Antara Privasi dan Kebutuhan Sosial
Second account juga mencerminkan kebutuhan akan privasi di era digital. Ketika semua orang bisa melihat segalanya, memiliki ruang terbatas menjadi bentuk perlindungan diri.
Namun, di sisi lain, ini juga menunjukkan bahwa media sosial tetap dibutuhkan sebagai sarana koneksi sosial—bukan untuk validasi massal, tetapi untuk merasa dipahami.
Kesimpulan
Ramainya penggunaan second account dan close friends menandakan perubahan besar dalam cara kita memaknai media sosial. Ia tidak lagi semata-mata panggung untuk dilihat banyak orang, melainkan ruang aman untuk menjadi diri sendiri.
Di era digital yang serba terbuka, justru batasanlah yang membuat kita merasa lebih bebas. Karena pada akhirnya, tidak semua hal perlu dipublikasikan—beberapa cukup dibagikan kepada mereka yang benar-benar peduli.
Penulis: Enjelin Amanda Dewi
Sumber gambar: canva.com
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































