Berikut adalah sejarah spesifik mengenai Meriam Ki Amuk, salah satu artefak paling ikonik peninggalan Kesultanan Banten:
1. Asal-Usul dan Pembuatan
Sejarah asal-usul Ki Amuk memiliki beberapa versi yang memadukan fakta sejarah dan legenda:
* Hadiah dari Demak (Versi Paling Umum): Secara historis, Meriam Ki Amuk diyakini sebagai hadiah dari Sultan Trenggono (Raja Demak) kepada Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah) pada sekitar tahun 1527–1529 M. Hadiah ini diberikan sebagai simbol persahabatan dan dukungan militer Demak untuk Kesultanan Banten yang saat itu baru berdiri dan sedang memperkuat pertahanan.
* Pembuat: Meriam ini diperkirakan dibuat di Jawa Tengah pada abad ke-16. Hal ini diperkuat dengan adanya sengkalan (penanda tahun) Jawa pada meriam yang menunjukkan angka tahun 1450 Saka (sekitar 1528 M).
* Simbol Surya Majapahit: Pada bagian mulut meriam terdapat motif “Surya Majapahit” (Matahari Majapahit). Ini mengindikasikan bahwa teknologi atau pengrajin yang membuatnya masih mewarisi tradisi era Majapahit, meskipun kerajaan tersebut sudah runtuh.
2. Spesifikasi Fisik
Meriam Ki Amuk adalah senjata artileri kelas berat dengan spesifikasi yang mengagumkan untuk zamannya:
* Bahan: Perunggu.
* Panjang: Sekitar 3 meter (versi lain menyebut 3,45 meter).
* Berat: Diperkirakan mencapai 7 ton.
* Diameter: Diameter luar terbesar 0,70 meter, dan diameter lubang peluru (kaliber) 0,34 meter.
* Daya Ledak: Konon mampu melontarkan peluru batu atau besi seberat 180 pon (81 kg) dengan suara yang menggelegar dahsyat.
3. Inskripsi Arab (Prasasti)
Salah satu bukti sejarah paling spesifik adalah adanya ukiran relief kaligrafi Arab pada tubuh meriam. Ada dua kalimat penting yang terukir:
* “Aqibah al-Khairi Salamah al-Imani”
* Artinya: “Buah dari segala kebaikan adalah kesempurnaan iman.”
* Ini menunjukkan filosofi religius Kesultanan Banten yang menjadikan iman sebagai landasan perjuangan.
* “La fata illa Ali la saifa illa Zu al-faqar…”
* Artinya: “Tiada pemuda (pahlawan) selain Ali, dan tiada pedang selain Zulfiqar…”
* Kalimat ini merujuk pada Ali bin Abi Thalib dan pedangnya yang legendaris, Zulfiqar. Ini menyimbolkan keberanian, kekuatan tempur, dan semangat jihad pasukan Banten.
4. Peran dalam Sejarah
Sesuai namanya, “Ki Amuk” (Si Pengamuk), meriam ini digunakan untuk pertahanan maritim.
* Penjaga Pelabuhan Karangantu: Meriam ini dahulu ditempatkan di Benteng Speelwijk atau area pelabuhan strategis Kesultanan Banten untuk menghalau kapal-kapal musuh (Portugis dan Belanda) yang mencoba masuk dari Teluk Banten.
* Simbol Kekuatan: Suara dentumannya yang keras dikatakan mampu menjatuhkan mental musuh bahkan sebelum pelurunya mengenai sasaran.
5. Legenda dan Mitos
Di luar fakta sejarah, Ki Amuk diselimuti cerita rakyat yang melekat kuat:
* Manusia yang Dikutuk: Legenda menyebutkan bahwa Ki Amuk adalah penjelmaan seorang prajurit yang dikutuk.
* Pasangan Meriam Si Jagur: Ki Amuk sering dianggap sebagai “pasangan” atau saudara dari Meriam Si Jagur yang kini berada di Museum Fatahillah (Kota Tua, Jakarta), dan Meriam Nyai Setomi yang ada di Solo.
* Mitos Kehancuran Belanda: Terdapat kepercayaan mistis di masa lalu bahwa jika Meriam Ki Amuk (Banten) dipertemukan kembali dengan Meriam Si Jagur (Jakarta), maka kekuasaan Belanda di tanah Jawa akan berakhir (“kiamat” bagi penjajah).
6. Lokasi Saat Ini
Saat ini, Meriam Ki Amuk tidak lagi berada di benteng pertahanan, melainkan dimuseumkan di tempat terbuka di kawasan Situs Banten Lama, tepatnya di dekat Masjid Agung Banten dan Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama, Kecamatan Kasemen, Kota Serang.
Langkah selanjutnya untuk Anda:
Apakah Anda ingin saya mencarikan informasi spesifik mengenai rute perjalanan menuju lokasi Ki Amuk di Banten Lama untuk keperluan kunjungan?
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”


















































![aisah nur Safitri adalah gadis cilik SMP yang berprestasi dalam bidang seni tari 49 jakarta, Gadis cilik Aisah Nur Safitri, siswa [Nama Sekolah], berhasil meraih Juara Harapan 1 dalam Kompetisi Tari Tingkat Kota yang diadakan di bidang seni tari. Kompetisi ini diikuti oleh siswa-siswa dari berbagai sekolah di kota. Dengan penampilan yang memukau, Aisah Nur Safitri berhasil memikat hati juri dan penonton. Ia menampilkan tarian yang sangat ekspresif dan penuh energi, sehingga membuatnya menjadi salah satu peserta yang paling menonjol dalam kompetisi ini. " Saya sangat senang dan bangga bisa menjadi Juara Harapan 1 dalam kompetisi ini," kata Aisah Nur Safitri. "Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada guru-guru dan keluarga saya yang telah mendukung saya sepanjang proses latihan." Prestasi ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi siswa-siswa lain untuk terus mengembangkan bakat mereka dan mencapai prestasi yang lebih tinggi](https://siaran-berita.com/wp-content/uploads/2026/02/IMG-20251109-WA0213-120x86.jpg)























