Pidie Jaya Aceh-, Setiap pagi, ketika mentari mulai menyingsing di ufuk timur Aceh, saya melangkahkan kaki menuju sebuah tempat yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup saya Sekolah Rakyat Terintegrasi 26 Pidie Jaya. Di sinilah saya mengabdi sebagai guru Bimbingan dan Konseling, di sinilah saya menemukan makna sejati dari profesi mulia ini. Sebagai seorang pendidik yang telah memilih jalan ini, saya merasakan langsung bagaimana institusi pendidikan seperti sekolah rakyat menjadi jantung kehidupan masyarakat, tempat berdetak nadi harapan dan cita-cita anak-anak bangsa. (Selasa, 25/11/25).
Sekolah rakyat bukanlah sekadar bangunan dengan ruang kelas dan papan tulis. Ia adalah rumah kedua, bahkan mungkin rumah pertama bagi sebagian anak-anak yang mencari jati diri mereka. Di balik dinding-dinding sederhana ini, terdapat cerita-cerita kehidupan yang mengalir, mimpi-mimpi yang tumbuh, dan harapan-harapan yang dipupuk setiap harinya. Sekolah rakyat bukan sekadar tempat transfer pengetahuan dari guru ke murid, melainkan ruang hidup di mana nilai-nilai kemanusiaan, kebersamaan, dan ketangguhan dibentuk melalui pengalaman nyata.
Keistimewaan sekolah rakyat terletak pada keberagaman yang luar biasa yang ada di dalamnya. Di sini, saya bertemu dengan anak-anak dari berbagai latar belakang ekonomi, budaya, dan kondisi keluarga yang sangat beragam. Mereka berkumpul dalam satu ruang kelas, duduk bersama, belajar bersama, dan tumbuh bersama. Ada yang datang dengan wajah lugu namun mata berbinar penuh semangat, seolah tidak ada yang bisa menghalangi keinginan mereka untuk belajar.
Keberagaman inilah yang menjadi kekuatan sekaligus tantangan tersendiri dalam memberikan bimbingan yang tepat. Sebagai guru BK, saya harus memahami bahwa setiap anak memiliki cerita, latar belakang, dan kebutuhan yang berbeda-beda. Tidak ada pendekatan yang bisa diterapkan secara seragam untuk semua siswa. Yang satu membutuhkan motivasi untuk bangkit dari keterpurukan ekonomi keluarga, yang lain memerlukan bimbingan untuk mengatasi masalah sosial-emosional, dan ada pula yang memerlukan arahan untuk menemukan potensi tersembunyi mereka.
Dalam perjalanan mengabdi ini, saya kerap menemui berbagai permasalahan kompleks yang dialami peserta didik. Mulai dari kesulitan belajar yang dipicu oleh kondisi ekonomi keluarga yang tidak stabil, permasalahan sosial-emosional akibat konflik di rumah, hingga kurangnya motivasi belajar karena minimnya role model di lingkungan sekitar mereka. Ada anak yang tidak bisa konsentrasi belajar karena memikirkan bagaimana membantu orang tua mencari nafkah setelah pulang sekolah. Ada yang kehilangan semangat karena merasa tidak ada yang percaya pada kemampuan mereka. Ada pula yang berjuang sendiri menghadapi tekanan dari lingkungan yang kurang mendukung pendidikan.
Tidak jarang saya harus melakukan diakusi dan juga observasi untuk memahami lebih dalam situasi keluarga yang memengaruhi perkembangan anak. Di sinilah saya melihat realitas kehidupan yang sesungguhnya, jauh dari teori-teori bimbingan konseling yang saya pelajari di bangku kuliah. Saya melihat bagaimana seorang anak harus membagi waktu antara sekolah dan membantu orang tua di sawah. Saya menyaksikan bagaimana seorang siswa belajar di bawah lampu temaram karena listrik yang terbatas. Pengalaman-pengalaman ini mengajarkan saya bahwa menjadi guru BK di sekolah rakyat bukan hanya soal memberikan konseling di ruang tertutup, tetapi tentang memahami konteks hidup siswa secara menyeluruh.
Setiap berjumpa mereka membuka mata saya akan kenyataan bahwa pendidikan adalah privilege yang sering kita anggap remeh. Bagi sebagian anak di sekolah rakyat, datang ke sekolah setiap hari adalah sebuah perjuangan. Namun justru dari perjuangan inilah lahir kekuatan mental dan karakter yang tangguh. Mereka belajar tentang resiliensi bukan dari buku pelajaran, tetapi dari kehidupan mereka sendiri.
Meski menghadapi berbagai tantangan di lapangan, saya menyadari bahwa sekolah rakyat memiliki kekuatan yang sama dengan sekolah umum dan madrasah yang ada. Bahkan dalam beberapa aspek, sekolah rakyat memiliki nilai lebih yang tidak bisa diukur dengan standar akademis semata. Kedekatan emosional antara guru dan siswa terjalin jauh lebih kuat karena kita mengenal mereka bukan hanya sebagai peserta didik dengan nomor induk dan nilai rapor, tetapi sebagai individu dengan cerita hidup yang unik, sebagai bagian dari komunitas yang sama, sebagai anak-anak yang kita saksikan tumbuh dan berkembang dari hari ke hari.
Hubungan yang terjalin di sekolah rakyat melampaui batas-batas formal guru dan murid. Kami tidak hanya mengajar di dalam kelas dari pukul tujuh pagi hingga siang hari, tetapi juga terlibat aktif dalam kehidupan sosial masyarakat. Ketika ada acara di kampung, kami hadir. Ketika ada permasalahan di masyarakat, kami turut prihatin. Ketika ada kegembiraan, kami ikut bersuka cita. Keterlibatan ini menciptakan ikatan yang kuat antara sekolah dan masyarakat, sebuah simbiosis yang saling menguatkan.
Solidaritas dan gotong royong adalah nilai yang benar-benar hidup dan bernapas di sekolah rakyat, bukan sekadar slogan yang tertulis di dinding kelas. Ketika ada siswa yang kesulitan memahami pelajaran, teman-temannya dengan sukarela akan membantu menjelaskan. Ketika ada yang tidak membawa bekal, teman-teman akan berbagi dengan ikhlas. Ketika sekolah membutuhkan perbaikan atau pengadaan fasilitas, orang tua dan masyarakat akan bergotong royong tanpa harus diminta. Mereka datang dengan membawa palu, paku, cat, atau apa pun yang bisa membantu. Inilah modal sosial yang tidak ternilai harganya, sebuah kekayaan yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Di tengah era digital dan kompetisi global yang semakin ketat, nilai-nilai solidaritas seperti ini menjadi semakin langka dan berharga. Anak-anak di sekolah rakyat belajar tentang empati, kepedulian, dan kebersamaan bukan dari kurikulum formal, tetapi dari praktik kehidupan sehari-hari. Mereka belajar bahwa kesuksesan bukan hanya soal menjadi yang terbaik secara individual, tetapi juga tentang bagaimana kita bisa bersama-sama naik dan tidak meninggalkan siapa pun di belakang.
Saya percaya dengan sepenuh hati bahwa sekolah rakyat adalah ladang subur tempat benih-benih harapan bangsa ditanam dengan penuh kasih sayang dan kesabaran. Dari sinilah akan lahir generasi yang tangguh, bukan karena mereka tidak pernah menghadapi kesulitan, tetapi justru karena mereka telah belajar menghadapi dan mengatasi kesulitan sejak dini. Mereka adalah bukti hidup bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk bermimpi dan berprestasi. Anak-anak di sekolah rakyat belajar nilai-nilai kehidupan yang sesungguhnya: kerja keras yang tidak mengenal lelah, ketekunan yang tidak mudah goyah, dan semangat pantang menyerah meski badai menghadang.
Setiap hari, saya menyaksikan keajaiban-keajaiban kecil yang terjadi di sekolah rakyat. Seorang anak yang awalnya malu-malu dan tidak percaya diri, perlahan mulai berani mengangkat tangan untuk menjawab pertanyaan. Seorang siswa yang tadinya sering membolos karena merasa tidak ada gunanya sekolah, kini datang lebih awal karena menemukan motivasi baru. Seorang anak yang pernah berkata “saya bodoh, tidak mungkin bisa” kini mulai percaya bahwa mereka juga memiliki potensi untuk berprestasi. Perubahan-perubahan kecil inilah yang menjadi penggerak saya untuk terus bersemangat dalam menjalani profesi ini.
Sebagai guru BK, tugas utama saya adalah memastikan bahwa setiap anak, terlepas dari latar belakang sosial ekonomi, suku, atau kondisi keluarga mereka, mendapat kesempatan yang sama untuk berkembang secara optimal. Saya ingin mereka tahu dan yakin bahwa keterbatasan hari ini bukanlah penghalang untuk meraih mimpi di masa depan. Sejarah telah membuktikan bahwa banyak tokoh besar bangsa ini yang lahir dari kondisi serba kekurangan. Yang membedakan mereka dengan yang lain bukanlah dari mana mereka berasal, tetapi seberapa besar tekad mereka untuk terus belajar dan berkembang.
Dalam setiap sesi konseling, saya berusaha menanamkan mindset pertumbuhan pada siswa-siswa saya. Saya ingin mereka memahami bahwa kecerdasan dan bakat bukan sesuatu yang tetap dan tidak bisa berubah, tetapi sesuatu yang bisa terus dikembangkan dengan usaha dan ketekunan. Saya ingin mereka percaya bahwa kegagalan hari ini adalah pelajaran untuk sukses di masa depan. Saya ingin mereka berani bermimpi besar, meskipun realitas di sekitar mereka mungkin berkata sebaliknya.
Mengabdi di sekolah rakyat telah mengajarkan saya tentang arti kesabaran yang sesungguhnya. Perubahan tidak terjadi dalam semalam, dan perkembangan anak tidak selalu berjalan linear. Ada kalanya kita melihat kemajuan pesat, ada kalanya kita harus menghadapi kemunduran yang mengecewakan. Namun inilah proses pendidikan yang sebenarnya—sebuah perjalanan panjang yang membutuhkan komitmen dan kesabaran. Saya juga belajar tentang keikhlasan, tentang bagaimana memberi tanpa mengharapkan pujian atau penghargaan, tentang bagaimana tetap bersemangat meski fasilitas terbatas dan tantangan menggunung.
Kerendahan hati adalah pelajaran lain yang saya dapatkan dari mengabdi di sekolah rakyat. Saya menyadari bahwa meskipun saya bergelar sarjana dan bersertifikat sebagai guru profesional, saya tidak lebih baik dari anak-anak didik saya. Mereka mengajarkan saya tentang ketabahan, tentang ketulusan, tentang bagaimana tetap tersenyum di tengah kesulitan. Setiap hari, saya belajar dari anak-anak yang gigih memperjuangkan pendidikan mereka meski harus melewati berbagai rintangan. Mereka adalah guru-guru kehidupan yang sesungguhnya bagi saya.
Anak-anak di sekolah rakyat adalah inspirasi yang membuat saya tetap semangat menjalani profesi ini, terutama di saat-saat ketika saya merasa lelah dan hampir menyerah. Ketika saya melihat mata mereka yang berbinar saat memahami sesuatu yang baru, ketika saya mendengar tawa mereka saat bermain di halaman sekolah, ketika saya menyaksikan kebanggaan di wajah mereka saat berhasil mencapai sesuatu—semua itu mengingatkan saya mengapa saya memilih profesi ini. Mereka adalah alasan saya bertahan, mereka adalah sumber energi yang tidak pernah habis.
Sekolah rakyat mungkin tidak megah secara fisik seperti sekolah-sekolah favorit di kota besar. Gedungnya tidak menjulang tinggi, fasilitasnya tidak selengkap sekolah lain, dan teknologinya mungkin belum secanggih yang lain. Tetapi justru di sinilah karakter bangsa dibangun dengan fondasi yang kuat. Di sinilah nilai-nilai kemanusiaan diajarkan bukan hanya melalui kata-kata dan teori di buku pelajaran, tetapi melalui pengalaman nyata sehari-hari, melalui interaksi sosial yang autentik, melalui pergulatan dengan realitas kehidupan.
Dan di penghujung refleksi ini, saya ingin menegaskan bahwa saya bangga sangat bangga menjadi bagian dari perjalanan mereka. Bangga bisa menyaksikan mereka tumbuh, berkembang, dan menemukan jalan mereka sendiri. Bangga bisa berkontribusi, meski sekecil apa pun, dalam membentuk masa depan mereka. Bangga bisa menjadi saksi bahwa sekolah rakyat bukan sekolah kelas dua, tetapi tempat di mana anak-anak bangsa belajar menjadi manusia seutuhnya. Di Hari Guru Nasional ini, saya berdoa semoga semangat pengabdian kita semua tidak pernah padam, dan semoga sekolah rakyat terus menjadi mercusuar harapan bagi anak-anak bangsa yang berhak mendapatkan pendidikan berkualitas, di mana pun mereka berada.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































