Kita semua pernah melihatnya. Sebuah organisasi baik itu himpunan mahasiswa, unit kegiatan, atau karang taruna yang dulunya gagah, penuh inisiatif, dan ramai oleh gelak tawa, kini mendadak sunyi. Rapat kerja yang dulu dihadiri puluhan orang, kini hanya diisi oleh lima wajah yang sama. Program kerja yang ambisius di awal, kini mandek di tengah jalan. Ini adalah pemandangan yang kian lazim: organisasi yang sedang mengalami “mati suri”.
Jika kita bedah, penyakitnya seringkali serupa. Pertama, pemimpin yang melemah. Ketua organisasi yang seharusnya menjadi Kompas peradapan, kini kehilangan arah dan energi. Ia mungkin terpilih karena popularitas, bukan kapasitas, sehingga kehadirannya tidak terasa menginspirasi, melainkan hanya formalitas. Tanpa motor penggerak yang kuat, gerbong organisasi pun melambat.
Kedua, struktur yang kabur. Ini adalah penyakit kronis di mana tidak ada yang tahu pasti siapa mengerjakan apa dan bertanggung jawab kepada siapa. Visi misi hanya menjadi pajangan di dinding sekretariat, sementara pembagian tugas tumpang tindih atau malah lowong. Akibatnya, inisiatif mati di ruang rapat karena kebingungan birokrasi yang dibuat-buat.
Ketiga, dan ini adalah akibat dari dua yang pertama, anggota menjadi pasif. Mereka hadir secara fisik (atau mungkin hanya nama di grup WhatsApp), tetapi tidak secara mental dan emosional. Mereka tidak merasa memiliki, tidak tahu apa yang harus dilakukan, dan akhirnya memilih diam daripada salah langkah.
Namun, menyalahkan internal organisasi saja tidaklah adil. Kita harus melihat ke luar jendela dan menyadari bahwa lanskap sosial telah berubah drastis. Kita kini hidup di era Generasi Z (Gen Z).
Gen Z adalah generasi yang tumbuh dengan kebutuhan akan validasi instan, pengalaman yang “worth it”, dan komunitas yang erat. Mereka adalah generasi yang mempopulerkan istilah “healing” hanya untuk jalan-jalan sore, “FOMO” (Fear of Missing Out) jika tidak ikut tren, dan “mabar” (main bareng) sebagai bentuk sosialisasi utama.
Bagi mereka, konsep “organisasi” yang kaku, penuh rapat formal yang membosankan, dan birokrasi yang berbelit, adalah sebuah antitesis dari apa yang mereka cari. Mengapa mereka harus menghabiskan Sabtu malam untuk rapat evaluasi yang alot, jika mereka bisa mendapatkan euforia kebersamaan instan dengan teman-teman di kafe atau konser? Mengapa mereka harus “berdarah-darah” mengurus proposal acara yang rumit, jika mereka bisa “main” dan mendapatkan kesenangan langsung tanpa friksi?
Di sinilah letak benturan peradabannya. Organisasi yang sakit dengan pemimpin lemah dan struktur tidak jelas mencoba merekrut anggota dari generasi yang paling tidak toleran terhadap waktu yang terbuang sia-sia.
Gen Z bukannya anti-organisasi; mereka anti-kebosanan dan anti-ketidakjelasan.
Ketika seorang anggota baru Gen Z bergabung dengan antusiasme, mereka berharap menemukan impact, value, dan community. Namun, yang mereka temukan adalah pemimpin yang jarang muncul, senior yang sulit dihubungi, dan arahan yang tidak jelas. Mereka bertanya, “Apa yang saya dapatkan dari sini?”
Jika jawabannya tidak jelas, mereka akan pergi. Mereka akan kembali ke lingkaran pertemanan mereka yang nyaman, di mana “euforia” itu nyata dan didapat dengan mudah. Organisasi telah gagal memberikan apa yang mereka janjikan: sebuah pengalaman dan wadah bertumbuh.
Maka, ini bukan sekadar cerita tentang organisasi yang gagal. Ini adalah cerita tentang organisasi yang gagal beradaptasi dengan zaman. Jika organisasi ingin relevan bagi Gen Z, mereka tidak bisa lagi menawarkan “pengabdian” buta. Mereka harus menawarkan pengalaman yang sepadan dengan “euforia” yang ditawarkan dunia luar.
Struktur harus dibuat lebih lincah (agile), kepemimpinan harus lebih empatik dan inspiratif (bukan instruktif), dan yang terpenting, organisasi harus menjadi tempat yang menyenangkan. Jika tidak, senjakala ini akan segera berubah menjadi kegelapan total, meninggalkan sekretariat-sekretariat kosong sebagai museum pengingat masa lalu.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































