sc : fiscaliaveracruz.gob.mx
Sexting bukanlah hanya sekadar isu di film atau drama, tapi sudah menjadi bagian dari keseharian digital banyak remaja yang hidup dengan chat, story, dan DM. Di balik layar ponsel, pesan, foto, atau video bernuansa seksual sering dipakai sebagai “Love Language” baru untuk menunjukkan kedekatan, kepercayaan, dan keseriusan hubungan. Namun, di balik rasa deg‑degan dan validasi yang terasa menyenangkan itu, praktik ini juga membawa bayang‑bayang risiko dan dari tekanan untuk melampaui batas, perilaku seksual yang makin berani, sampai munculnya masalah kesehatan mental ketika konten bocor atau hubungan berubah menjadi tidak sehat.
Sexting sebagai ekspresi cinta dan perkembangan seksual
Dalam perspektif perkembangan, remaja sedang mengeksplorasi identitas diri dan seksualitas, sehingga tidak mengherankan jika mereka mencoba bentuk keintiman baru yang dimediasi teknologi. Sexting yang terjadi secara suka sama suka kerap dipersepsikan sebagai cara meningkatkan hubungan, memelihara gairah, atau menunjukkan kepercayaan, dan sebagian remaja melaporkannya sebagai pengalaman yang menyenangkan, meneguhkan status pacaran, dan meningkatkan rasa dekat. Fenomena ini menunjukkan bahwa bagi sebagian remaja, sexting bukan semata perilaku menyimpang, tetapi bagian dari pola interaksi romantis dan seksual yang terasa wajar di era pesan instan dan media sosial.
Hubungan sexting dengan perilaku seksual berisiko
Meskipun dapat dilihat sebagai ekspresi cinta, banyak penelitian menemukan bahwa sexting berhubungan dengan peningkatan perilaku seksual berisiko. Remaja yang terlibat sexting cenderung lebih mungkin telah aktif secara seksual, memiliki lebih banyak pasangan, hingga lebih jarang konsisten menggunakan kontrasepsi ketika berhubungan seksual. Sexting juga dapat berfungsi sebagai “gerbang” menuju pertemuan luring yang tergesa-gesa, misalnya ketika negosiasi melalui pesan intim berlanjut ke ajakan bertemu tanpa pertimbangan keamanan dan persetujuan yang matang. Pola ini menjadikan sexting sebagai salah satu indikator penting untuk mengidentifikasi kelompok remaja yang mungkin membutuhkan intervensi edukatif terkait seks aman dan pengambilan keputusan yang lebih reflektif.
Dampak psikologis dan potensi gangguan mental
Risiko psikologis meningkat terutama ketika sexting dilakukan di bawah tekanan, tanpa pemahaman, atau ketika konten bocor dan disebarkan tanpa izin. Remaja yang fotonya tersebar bisa mengalami rasa malu intens, kecemasan sosial, penarikan diri, gangguan tidur, hingga pikiran menyakiti diri sendiri maupun bunuh diri. Bahkan ketika tidak terjadi kebocoran, keterlibatan dalam sexting yang dipaksa pasangan atau teman sebaya dapat memunculkan perasaan bersalah, takut, dan tidak berdaya, yang berkontribusi pada gejala depresi dan kecemasan. Dengan demikian, sexting bukan otomatis gangguan mental, tetapi dalam konteks tertentu dapat menjadi “alarm” adanya kerentanan psikologis atau hubungan yang tidak sehat.
Perspektif neurosains remaja
Pendekatan biopsikologi membantu menjelaskan mengapa remaja begitu rentan terhadap dinamika sexting. Secara perkembangan, sistem reward di otak (misalnya jalur dopamin di area striatal) matang lebih cepat dibanding korteks prefrontal yang bertugas mengendalikan impuls, merencanakan, dan mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang. Ketidakseimbangan ini membuat remaja sangat sensitif terhadap reward sosial seperti pujian, perhatian, dan validasi dari pasangan atau teman sebaya. Ketika pesan atau foto intim dibalas dengan respons positif, sistem reward aktif kuat, sementara kontrol diri kognitif belum optimal, sehingga remaja cenderung mengulangi perilaku meski memahami risiko kebocoran data dan stigma sosial.
Faktor sosial-lingkungan yang memperkuat risiko
Selain faktor biologis, konteks sosial memperkuat kompleksitas sexting. Norma kelompok sebaya yang menganggap sexting “hal biasa”, tekanan untuk membuktikan cinta, serta budaya victim-blaming ketika konten bocor, menciptakan situasi di mana remaja lebih mudah menyalahkan diri sendiri daripada mencari bantuan. Kurangnya pendidikan seks komprehensif yang membahas persetujuan, keamanan digital, dan hak atas tubuh juga membuat banyak remaja tidak memiliki bahasa maupun keterampilan untuk menolak permintaan konten intim atau melapor ketika menjadi korban. Di sisi lain, akses cepat ke internet dan aplikasi yang memudahkan pengiriman foto sementara dapat menimbulkan ilusi keamanan, padahal rekam jejak digital sulit benar-benar dihapus.
Implikasi pencegahan dan intervensi
Melihat sexting sebagai kombinasi antara ekspresi cinta dan potensi alarm gangguan mental mengarahkan pada pendekatan pencegahan yang lebih seimbang. Alih-alih sekadar melarang, pendidik dan orang tua dapat menekankan konsep persetujuan yang jelas, batasan privasi, cara mengelola tekanan teman sebaya, serta langkah praktis bila konten sudah terlanjur tersebar (misalnya menyimpan bukti, mencari bantuan profesional, dan melapor ke pihak berwenang). Intervensi di sekolah dan kampus dapat mengintegrasikan literasi digital, pendidikan seks berbasis sains, serta dukungan kesehatan mental, sehingga remaja memahami bahwa mereka berhak berkata tidak, berhak atas keamanan data pribadi, dan berhak atas bantuan ketika menjadi korban.
Secara keseluruhan, sexting pada remaja berada di wilayah abu-abu antara praktik keintiman yang terasa wajar dan indikator risiko psikososial. Dalam konteks hubungan yang setara, sukarela, dan disertai pemahaman risiko, sexting bisa dipersepsi sebagai salah satu bentuk ekspresi cinta di era digital. Namun, ketika muncul dalam usia yang sangat muda, disertai paksaan, atau berujung pada penyebaran tanpa izin, sexting layak dibaca sebagai sinyal adanya ketidakseimbangan kekuasaan, kerentanan kesehatan mental, dan kebutuhan mendesak akan intervensi edukatif maupun dukungan psikologis. Pendekatan biopsikologi membantu melihat bahwa di balik layar gawai, bekerja dinamika otak remaja yang sensitif terhadap reward sosial sekaligus masih lemah dalam kontrol diri, sehingga pendidikan seks komprehensif dan literasi digital menjadi kunci utama untuk menurunkan risiko.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































