Kecanduan game online bukan hanya persoalan “main terlalu lama”, ini adalah masalah yang semakin nyata menggerus kondisi mental anak muda. Di balik layar ponsel dan komputer, terdapat individu yang perlahan kehilangan keseimbangan emosinya, tetapi sering kali tidak terlihat oleh keluarga maupun lingkungan. Pertanyaan pun muncul: Siapa yang salah ketika kondisi mental pecandu game online semakin memburuk?
Pecandu game online umumnya mengalami perubahan mental yang signifikan. Mereka sering menunjukkan gejala kecemasan berlebih, terutama ketika tidak dapat bermain. Rasa gelisah, mudah tersinggung, dan sulit fokus menjadi tanda-tanda yang kerap muncul. Beberapa bahkan mengalami depresi ringan hingga sedang, karena hidup mereka lebih banyak bergantung pada pencapaian di dunia virtual dibandingkan relasi nyata.
Selain itu, kondisi mental pecandu game online juga ditandai dengan gangguan kontrol impuls. Mereka merasa sulit menghentikan permainan meski sadar bahwa waktu sudah larut malam atau tugas penting belum dikerjakan. Hal ini sering diikuti oleh gangguan tidur, kelelahan kronis, dan turunnya motivasi hidup. Dalam banyak kasus, game menjadi pelarian dari masalah mental yang lebih dalam: stres keluarga, tekanan sekolah, atau rasa tidak dihargai dalam kehidupan nyata.
Namun, apakah hanya pecandunya yang salah? Tidak sesederhana itu. Banyak dari mereka terjebak karena kurangnya dukungan emosional, kurangnya edukasi digital, atau lingkungan yang tidak peka terhadap kesehatan mental. Orang tua sering baru menyadari setelah perilaku anak memburuk, sementara sekolah lebih fokus pada prestasi akademik daripada kondisi psikologis siswa. Di sisi lain, industri game terus menciptakan fitur-fitur yang memicu ketergantungan, tanpa memberikan edukasi memadai tentang penggunaan yang sehat.
Pada akhirnya, kondisi mental pecandu game online bukan muncul dalam ruang hampa. Ia tumbuh dari kombinasi faktor psikologis, sosial, dan teknologi. Maka, pertanyaan “Siapa yang salah?” seharusnya menjadi ajakan refleksi, bukan untuk mencari kambing hitam, tetapi untuk memahami bahwa kecanduan game adalah masalah bersama.
Untuk memulihkan kondisi mental pecandu game online, diperlukan pendekatan yang lebih empatik, seperti pendampingan orang tua, bimbingan konselor, literasi digital sejak dini, serta lingkungan yang mendukung kesehatan emosional. Jika tidak, kecanduan game akan terus menjadi luka yang terlindung layar, tidak terlihat, tapi nyata merusak tubuh diam-diam di balik cahaya layar.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”









































































