Anemia merupakan salah satu masalah gizi yang masih sering dialami oleh remaja putri. Kondisi ini terjadi ketika jumlah hemoglobin dalam darah lebih rendah dari batas normal sehingga kemampuan darah untuk membawa oksigen ke seluruh tubuh menjadi berkurang. Remaja putri termasuk kelompok yang rentan mengalami anemia karena mengalami menstruasi setiap bulan serta sedang berada pada masa pertumbuhan yang membutuhkan zat gizi lebih tinggi, terutama zat besi.
Apabila anemia tidak dicegah sejak dini, kondisi ini dapat berdampak pada Kesehatan dan aktivitas sehari-hari. Remaja yang mengalami anemia cenderung mudah merasa Lelah, sulit berkonsentrasi dan kurang bersemangat dalam menjalani aktivitas belajar maupun kegiatan lainnya. Oleh karena itu, diperlukan upaya pencegahan yang sederhana namun efektif agar remaja putri dapat tumbuh sehat dan terbebas dari anemia. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah melalui Gerakan STOP 5 L (lesu, letih, lemah, lelah, lalai).
Anemia pada Remaja Putri
Anemia pada remaja putri umumnya disebabkan oleh kurangnya asupan zat besi. Zat besi merupakan mineral penting yang berperan dalam pembentukan hemoglobin, yaitu komponen dalam sel darah merah yang berfungsi mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Ketika kebutuhan zat besi tidak terpenuhi, tubuh tidak dapat memproduksi hemoglobin secara optimal sehingga risiko anemia meningkat.
Selain kurangnya asupan zat besi, anemia pada remaja putri juga dapat dipengaruhi oleh pola makan yang tidak seimbang, kebiasaan melewatkan waktu makan, serta rendahnya konsumsi makanan bergizi. Kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji yang rendah zat gizi juga dapat menjadi salah satu faktor yang memperbesar risiko terjadinya anemia.
Dampak Anemia pada Remaja Putri
Dampak anemia pada remaja putri yaitu pertumbuhan terhambat, tubuh pada masa pertumbuhan mudah terinfeksi, mengakibatkan kebugaran dan kesegaran tubuh berkurang, semangat belajar/prestasi menurun, mudah lesu, letih, lemah, lelah, lalai, pada saat akan menjadi calon ibu maka akan beresiko tinggi untuk hamil dan melahirkan. Remaja dengan anemia juga lebih beresiko mengalami anemia pada saat hamil dibandingkan remaja yang tidak mengalami anemia, dan juga akan berdampak melahirkan bayi BBLR dan menghasilkan anak stunting, hal ini disebabkan karena rendah nya kadar hemoglobin dalam darah sehingga kurangnya suplai oksigen dan makanan ke janin selama masa kehamilan, yang mengakibatkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan janin terhambat.
Anemia juga berkaitan erat dengan Angka kematian ibu (AKI) hal ini disebabkan karena ibu hamil dengan anemia beresiko mengalami perdarahan saat melahirkan hal ini disebabkan kurangnya kadar oksigen yang dibawa ke uterus sehingga kontraksi tidak menjadi adekuat yang menyebabkan terjadinya atonia uteri dan merupakan salah satu penyebab terjadinya perdarahan post partum.
Stop 5 L: Langkah Sederhana Mencegah Anemia
Upaya pencegahan anemia dapat dimulai dari kebiasaan sehari-hari. Gerakan Stop 5 L dapat menjadi panduan sederhana bagi remaja putri untuk menjaga Kesehatan dan mencegah anemia.
1. Lengkapi asupan makanan kaya zat besi
Remaja putri dianjurkan mengkonsumsi makanan yang mengandung zat besi seperti daging merah, ikan, telur, hati, sayuran hijau serta kacang-kacangan. Makanan tersebut membantu tubuh memproduksi sel darah merah secara optimal.
2. Lakukan pola makan gizi seimbang
Pola makan yang beragam dan seimbang penting untuk memenuhi kebutuhan zat gizi tubuh. Mengkonsumsi berbagai jenis makanan akan membantu tubuh memperoleh zat gizi yang diperlukan untuk menjaga Kesehatan.
3. Hindari makanan dan minuman yang menghambat penyerapan zat besi
Selain mengonsumsi makanan yang kaya zat besi, penting juga memperhatikan jenis makanan dan minuman yang dapat menghambat penyerapan zat besi di dalam tubuh seperti tannin (teh), polifenol (kopi), Fitat (sereal, beras, jagung, gandum), kalsium dan fosfat (susu).
4. Libatkan sumber vitamin C
Vitamin C berperan dalam meningkatkan penyerapan zat besi dalam tubuh. Konsumsi buah-buahan seperti jeruk, jambu biji, atau papaya setelah makan dapat membantu penyerapan zat besi menjadi lebih optimal.
5. Lanjutkan konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD)
Tablet Tambah Darah merupakan salah satu upaya pencegahan anemia yang dianjurkan bagi remaja putri. Konsumsi TTD secara teratur sesuai anjuran tenaga Kesehatan dapat membantu memenuhi kebutuhan zat besi dalam tubuh (Kemenkes RI, 2018).
6. Lakukan gaya hidup sehat
Menjaga pola hidup sehat seberti berolahraga yang teratur, istirahat yang cukup atau tidur selama 6/8 jam perhari.
Anemia pada remaja putri merupakan masalah kesehatan yang dapat dicegah melalui perubahan perilaku dan pola hidup yang lebih sehat. Dengan meningkatkan kesadaran akan pentingnya asupan zat besi serta menerapkan langkah-langkah dalam gerakan Stop 5 L, remaja putri dapat menjaga kesehatan tubuh dan terhindar dari anemia.
Remaja putri yang sehat akan memiliki energi yang cukup untuk belajar, beraktivitas, dan mengembangkan potensi diri. Oleh karena itu, sudah saatnya remaja putri bangkit tanpa anemia dan menjadi generasi yang sehat serta produktif.
Referensi:
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2018. Pedoman Pencegahan dan Penanggulangan Anemia pada Remaja Putri.
Lasaha, W. A., Mutmainna, A., & Kasim, J. (2022). Hubungan anemia dengan kejadian perdarahan pada ibu postpartum. Ilmiah Mahasiswa & Penelitian Keperawatan, 2, 137. https://jurnal.stikesnh.ac.id/index.php/jimpk/article/download/742/678/5116
Almatsier, Sunita. 2010. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































