Pendidikan Indonesia tengah memasuki fase transformasi penting. Perkembangan teknologi yang begitu cepat serta tuntutan dunia kerja yang terus berubah menuntut sistem pendidikan untuk tidak lagi berfokus semata pada hafalan dan nilai akademik. Sekolah kini diharapkan mampu melahirkan generasi yang kreatif, adaptif, dan berkarakter.
Sejalan dengan kebijakan pemerintah melalui Kurikulum Merdeka, peningkatan kompetensi guru, serta penguatan pendidikan karakter, berbagai respons positif dan harapan muncul dari masyarakat. Berikut rangkuman pandangan mereka mengenai wajah baru pendidikan Indonesia.
Kurikulum Merdeka: Belajar Lebih Manusiawi dan Bermakna, Kurikulum Merdeka dinilai membawa angin segar dalam dunia pendidikan karena memberikan keleluasaan bagi guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Kurikulum ini dianggap lebih menghargai perbedaan minat dan bakat peserta didik.
Yosua menilai kebijakan tersebut membuat proses belajar menjadi lebih relevan dengan kebutuhan siswa.
“Menurut saya, kebijakan ini sangat bagus karena siswa tidak lagi dipaksa menyerap semua materi secara terburu-buru. Fokus pada minat dan bakat membuat kami merasa lebih dihargai sebagai individu yang unik, bukan sekadar robot penghafal,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan Nur Aulia. Menurutnya, fleksibilitas dalam Kurikulum Merdeka menjadi kunci dalam membekali siswa menghadapi tantangan masa depan.
“Fleksibilitas kurikulum adalah modal penting untuk melatih kemampuan berpikir kritis dan kolaborasi. Keterampilan ini merupakan skill mahal yang sangat dibutuhkan di tengah perubahan dunia yang cepat,” ungkapnya.
Tantangan Guru di Era Digital, Transformasi pendidikan juga menempatkan guru sebagai ujung tombak perubahan. Di era digital, guru dituntut tidak hanya menguasai materi, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Zafira menyoroti pentingnya literasi digital bagi guru.
“Anak-anak sekarang sangat melek teknologi. Guru harus lebih siap dan mampu mengintegrasikan teknologi ke dalam pembelajaran agar proses belajar tidak membosankan. Kalau pembelajarannya asyik dan seru, murid pasti lebih semangat,” katanya.
Sementara itu, Dedeh Nurhalimah menekankan pentingnya semangat belajar sepanjang hayat bagi pendidik.
“Guru harus terus mengasah kompetensi agar mampu mengikuti perkembangan zaman secara bijak. Dengan guru yang kompeten, kita bisa mencetak lulusan yang tangguh dan siap menghadapi tantangan global,” tuturnya.
Penguatan Karakter di Tengah Arus Digital, Di balik kemajuan teknologi, tantangan serius juga muncul, khususnya terkait degradasi nilai dan etika. Arus informasi yang deras membawa risiko penyebaran hoaks dan menurunnya sopan santun, terutama di ruang digital.
Distiana menekankan pentingnya etika berinternet bagi generasi muda.
“Internet adalah ruang terbuka yang mempertemukan banyak orang dengan latar belakang berbeda. Tanpa etika, interaksi digital mudah memicu konflik. Pendidikan karakter yang kuat diperlukan agar anak tidak mudah terpengaruh konten negatif dan tetap menjunjung nilai gotong royong,” jelasnya.
Zakia menambahkan bahwa kecerdasan intelektual harus seimbang dengan pembentukan karakter.
“Kepintaran saja tidak cukup. Kecerdasan harus disertai karakter yang kuat agar mampu memberi kontribusi positif bagi masyarakat dan bangsa. Kita membutuhkan generasi yang cerdas secara intelektual sekaligus memiliki kepedulian sosial,” ujarnya.
Harapan untuk Masa Depan Pendidikan, Sebagai penutup, Sulis menyampaikan harapannya terhadap arah baru pendidikan Indonesia.
“Dengan sinergi antara kurikulum yang tepat, guru yang hebat, dan pendidikan karakter yang kuat, Indonesia berpeluang melahirkan generasi emas yang tidak hanya cerdas, tetapi juga siap bersaing di panggung dunia,” pungkasnya.
Kesimpulan, Pendidikan Indonesia tengah bergerak menuju sistem yang lebih modern dan relevan dengan kebutuhan zaman. Kurikulum Merdeka membuka ruang bagi siswa untuk berkembang sesuai potensi, guru dituntut lebih kreatif dan adaptif, sementara pendidikan karakter tetap menjadi fondasi utama. Transformasi ini menunjukkan upaya mencari keseimbangan antara penguasaan ilmu pengetahuan, pemanfaatan teknologi, dan penguatan nilai moral.
Harapan Akhir, Sinergi antara kurikulum yang tepat, guru yang kompeten, dan karakter yang kuat diharapkan mampu melahirkan Generasi Emas Indonesia yang berkarakter, cerdas, serta siap menghadapi tantangan global.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































