Bantul – Suasana Masjid Jami’ Daraman, Dukuh Daraman, Kalurahan Srimartani, Kapanewon Piyungan, Kabupaten Bantul, tampak lebih hidup pada Sabtu sore (21/2/2026). Program Syiar Santri hari kedua dari MAN PK MAN 1 Yogyakarta menghadirkan kajian hadis bertema larangan marah yang dikemas hangat, komunikatif, dan relevan dengan kehidupan generasi muda.
Kegiatan yang dilaksanakan di Masjid Jami’ Daraman ini menyasar murid-murid TPA Ramadan setempat. Menariknya, peserta TPA di Pedukuhan Daraman cukup variatif, terdiri atas murid usia SD sederajat, SMP sederajat, bahkan beberapa di antaranya sudah duduk di bangku SMA. Keberagaman usia ini justru menjadi warna tersendiri dalam kegiatan, karena pendekatan materi disesuaikan dengan tingkat pemahaman masing-masing peserta.
Dengan metode dialogis dan interaktif, para santri mengangkat hadis Nabi Muhammad SAW yang berpesan singkat namun mendalam: “La taghdab” (jangan marah). Pesan sederhana tersebut dikupas secara ringan agar mudah dipahami oleh peserta usia SD, sekaligus diperdalam maknanya untuk peserta usia SMP dan SMA.
Para santri menjelaskan bahwa larangan marah bukan berarti meniadakan emosi, melainkan mengajarkan pengendalian diri. Marah yang tak terkendali dapat melukai perasaan orang lain, merusak persahabatan, bahkan menimbulkan penyesalan. Bagi anak-anak dan remaja, nilai ini sangat relevan dalam kehidupan sehari-hari baik saat bermain, belajar di sekolah, maupun berinteraksi di lingkungan keluarga.
Lebih jauh, kajian ini juga dikaitkan dengan kehidupan Gen Z yang tidak bisa lepas dari media sosial. Santri mengajak peserta merenungkan bagaimana komentar emosional, unggahan spontan, atau respons berlebihan di dunia maya dapat memicu kesalahpahaman dan konflik. Mereka diingatkan pentingnya berpikir sebelum menulis, menahan diri sebelum membalas komentar, serta menjaga adab digital sebagai bagian dari akhlak Islami.
“Kalau marah, jangan langsung kirim pesan atau unggah status. Tarik napas, ingat Allah, dan pikirkan dampaknya,” pesan salah satu santri, yang disambut respons antusias dari para peserta.
Kajian berlangsung dinamis. Peserta diberi kesempatan berbagi pengalaman tentang situasi yang membuat mereka marah, baik di sekolah maupun di media sosial. Dari situ, para santri membantu mereka menemukan solusi Islami untuk mengelola emosi secara bijak. Suasana terasa cair, akrab, namun tetap sarat nilai edukatif.
Menjelang waktu berbuka, kegiatan dilanjutkan dengan games edukatif dan reflektif. Permainan dirancang untuk melatih kerja sama, kesabaran, dan komunikasi positif antar peserta lintas usia. Tawa ceria anak-anak berpadu dengan nilai pembelajaran yang disisipkan secara halus. Momentum menunggu azan magrib pun berubah menjadi waktu yang produktif dan bermakna.
Kegiatan hari kedua di Daraman ini tidak hanya memperkuat pemahaman agama peserta TPA, tetapi juga menanamkan kecakapan emosional serta etika bermedia sosial sejak dini. Syiar yang dilakukan para santri bukan sekadar menyampaikan materi, melainkan membangun kedekatan, menjadi teladan, dan menghadirkan nilai Islam dalam bahasa yang kontekstual dan membumi.
Menanggapi kegiatan tersebut, Kepala MAN 1 Yogyakarta, H. Edi Triyanto, S.Ag., S.Pd., M.Pd., menyampaikan apresiasi atas kreativitas dan sensitivitas para santri dalam memilih tema kajian.
“Hadis tentang larangan marah sangat relevan dengan tantangan generasi saat ini. Ketika anak-anak dan remaja dibimbing untuk mengelola emosi serta bijak bermedia sosial sejak dini, sesungguhnya kita sedang menyiapkan generasi yang matang secara spiritual dan emosional,” ungkapnya.
Ia juga menegaskan bahwa syiar santri adalah proses pembelajaran dua arah. “Santri belajar memahami masyarakat, dan masyarakat mendapatkan energi positif dari para santri. Inilah pendidikan yang hidup dan menghidupkan,” tambahnya.
Melalui kajian hadis, permainan edukatif, dan kebersamaan menjelang berbuka, Syiar Santri hari kedua di Dukuh Daraman menjadi potret dakwah yang sejuk, relevan, dan inspiratif merajut akhlak mulia di tengah dinamika zaman. (H.A)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































