Yogyakarta – MAN 1 Yogyakarta menyelenggarakan Talkshow Ramadan bertema “Bersama Mewujudkan Generasi Unggul dan Berakhlakul Karimah” sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Pesantren Ramadan 1447 H, Rabu, (11/03/2026). Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Ustadz Abdul Muluk, M.Ag, pengasuh Pondok Pesantren UII sekaligus pegiat kajian keislaman, dan Kepala MAN 1 Yogyakarta, H. Edi Triyanto, S.Ag., S.Pd., M.Pd. Talkshow dipandu oleh Ustadz Arju Shidqol Yaqin, S. Ag., salah satu pengajar di MAN 1 Yogyakarta.
Dalam sesi diskusi, Edi Triyanto yang mendapat giliran berbicara pertama kali, menjelaskan tentang karakter generasi unggul yang ingin dibangun oleh MAN 1 Yogyakarta. Menurutnya, generasi unggul adalah generasi yang mampu meneladani Rasulullah sebagaimana tercermin dalam ayat-ayat kauniyah. Edi menjelaskan bahwa generasi unggul tidak hanya memiliki kecerdasan akademik, tetapi juga memiliki kemampuan memahami tantangan zaman, termasuk dalam menghadapi era digital. Generasi tersebut harus mampu menggunakan teknologi secara bijak dan tidak terjebak pada penyalahgunaan perangkat digital. “MAN 1 Yogyakarta memiliki tanggung jawab untuk mewujudkan generasi seperti ini, yaitu generasi yang unggul dalam ilmu sekaligus kuat dalam karakter,” ungkap Edi.
Sejalan dengan pandangan tersebut, Ustadz Abdul Muluk mengulas tentang konsep manusia unggul dengan mencontohkan kisah Nabi Ibrahim. Ia menjelaskan bahwa pada masa itu telah terjadi berbagai bentuk penyimpangan yang dikenal sebagai era jahiliyah. Namun Nabi Ibrahim tidak pernah ikut terseret dalam arus keburukan tersebut. Menurut Muluk, Nabi Ibrahim mampu tetap lurus karena memiliki karakter manusia unggul yang tidak mudah terbawa arus lingkungan. Salah satu ciri manusia unggul, lanjutnya, adalah tidak mudah terpengaruh oleh fenomena FOMO (fear of missing out) atau kecenderungan mengikuti sesuatu hanya karena sedang ramai atau populer.

Untuk menjadi manusia unggul, Ustadz Abdul Muluk menekankan dua hal penting. Pertama adalah bil ilmi, yaitu memiliki kecerdasan dan kedalaman intelektual. Kedua adalah memiliki keberanian, terutama keberanian untuk mempertahankan kebenaran meskipun berbeda dengan arus yang sedang berkembang.
Dalam sesi diskusi yang lain, Kepala MAN 1 Yogyakarta juga menyinggung pentingnya memahami makna membranding diri di tengah masyarakat. Menurutnya, branding diri bukanlah soal pencitraan atau menonjolkan kelebihan fisik. “Kita harus mampu menampilkan diri apa adanya tanpa pencitraan. Branding diri yang sebenarnya bukan tentang keunggulan fisik, tetapi keunggulan ilmu dan keberanian,” jelas Edi.
Di akhir talkshow, Muluk mengajak para murid untuk memahami bahwa generasi unggul tidak hanya diukur dari kecerdasan akademik, tetapi juga dari kekuatan karakter, keberanian berpikir, serta kemampuan menjaga akhlak dalam menghadapi tantangan zaman. (luf)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer







































































