Menulis karya ilmiah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari dunia akademik mahasiswa. Aktivitas ini tidak hanya sekadar memenuhi kewajiban perkuliahan, tetapi juga menjadi sarana penting untuk melatih cara berpikir yang kritis, logis, dan sistematis. Melalui karya ilmiah, mahasiswa belajar menyusun gagasan, mengolah data, serta menyampaikan hasil pemikiran secara terstruktur dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik. Dengan demikian, menulis ilmiah sejatinya adalah proses membangun dan mengembangkan pengetahuan.
Meskipun demikian, realitas di lapangan menunjukkan bahwa banyak mahasiswa masih menghadapi berbagai kesulitan dalam menulis karya ilmiah. Hambatan tersebut muncul dalam beragam bentuk, mulai dari ketidakpahaman terhadap sistematika penulisan, kesulitan menentukan topik penelitian, lemahnya kemampuan literasi informasi, hingga masalah psikologis seperti rasa cemas, takut salah, dan kurang percaya diri. Tidak jarang pula mahasiswa mengalami writing block yang membuat proses penulisan tertunda hingga mendekati tenggat waktu.
Isma Tantawi (2019) dalam buku Bahasa Akademik Indonesia: Strategi Meneliti dan Menulis menegaskan bahwa penulisan karya ilmiah membutuhkan pemahaman mendalam mengenai struktur, format, serta teknik pengutipan. Hal ini menunjukkan bahwa menulis ilmiah bukan kegiatan yang bisa dilakukan secara spontan, melainkan keterampilan kompleks yang harus dipelajari dan dilatih secara berkelanjutan. Oleh karena itu, artikel ini mencoba mengulas berbagai tantangan yang dihadapi mahasiswa dalam menulis karya ilmiah sekaligus menawarkan beberapa solusi yang dapat diterapkan.
Tantangan dalam Penulisan Karya Ilmiah
Salah satu kendala utama adalah tuntutan struktur penulisan ilmiah yang ketat. Karya ilmiah harus disusun secara runtut, mulai dari pendahuluan hingga kesimpulan. Setiap bagian memiliki fungsi yang jelas. Latar belakang, misalnya, harus mampu menjelaskan urgensi topik, sementara tinjauan pustaka menunjukkan pemahaman penulis terhadap teori dan penelitian sebelumnya. Bagi mahasiswa yang belum terbiasa berpikir sistematis, menyusun bagian-bagian ini sering kali menjadi hal yang sulit.
Selain itu, menentukan topik penelitian juga menjadi tantangan tersendiri. Banyak mahasiswa merasa bingung memilih topik yang sesuai dengan minat, relevan secara akademik, serta memungkinkan untuk diteliti. Dalam buku Menulis Karya Ilmiah dengan Cerdas (2021), mahasiswa disarankan untuk menghindari topik yang terlalu luas dan memilih fokus permasalahan yang lebih spesifik agar arah penelitian menjadi jelas dan terukur.
Di era digital, akses terhadap informasi memang semakin mudah. Namun, kemudahan ini tidak selalu diiringi dengan kemampuan literasi informasi yang baik. Masih banyak mahasiswa yang menggunakan sumber tidak kredibel seperti blog pribadi atau media sosial tanpa melakukan verifikasi. Buku Edukasi Literasi Digital dan Penulisan Ilmiah (2025) menekankan pentingnya kemampuan menyeleksi dan mengevaluasi sumber akademik, seperti jurnal ilmiah dan publikasi resmi. Rendahnya literasi informasi dapat berdampak pada kesalahan dalam pengutipan dan penyusunan daftar pustaka.
Permasalahan lain yang sering muncul adalah kesulitan memahami metodologi penelitian. Mahasiswa kerap merasa bingung dalam menentukan pendekatan penelitian yang tepat, baik kualitatif maupun kuantitatif, serta dalam mengolah dan menganalisis data. Padahal, kesalahan dalam metode penelitian dapat memengaruhi validitas keseluruhan karya ilmiah.
Dari sisi psikologis, rasa takut gagal dan perfeksionisme juga menjadi penghambat serius. Banyak mahasiswa merasa ragu untuk mulai menulis karena khawatir hasil tulisannya tidak sesuai harapan dosen. Kondisi ini sering berujung pada penundaan dan writing block. Untuk mengatasinya, mahasiswa dianjurkan menulis secara bertahap dan membagi pekerjaan ke dalam bagian kecil agar prosesnya terasa lebih ringan.
Minimnya bimbingan yang efektif dari dosen pembimbing turut memperparah keadaan. Idealnya, dosen berperan sebagai pendamping akademik yang memberikan arahan konstruktif. Namun, dalam praktiknya, mahasiswa sering kali hanya menerima koreksi singkat tanpa penjelasan yang memadai. Kurangnya komunikasi yang intensif ini dapat membuat mahasiswa kehilangan arah dalam penulisan.
Selain itu, keterbatasan fasilitas dan akses riset juga menjadi persoalan, terutama bagi mahasiswa di perguruan tinggi dengan sumber daya terbatas. Tidak semua kampus memiliki akses jurnal internasional, laboratorium, atau perangkat lunak analisis data. Oleh sebab itu, pemanfaatan sumber terbuka seperti jurnal open access, Garuda, Sinta, dan Perpustakaan Nasional menjadi alternatif yang cukup membantu.
Upaya Mengatasi Hambatan
Untuk mengatasi berbagai kendala tersebut, mahasiswa dapat menerapkan beberapa strategi, seperti menyusun jadwal menulis secara rutin, mengikuti pelatihan penulisan akademik, serta bergabung dengan komunitas menulis ilmiah. Pemanfaatan aplikasi pendukung seperti Mendeley, Zotero, atau Grammarly juga dapat membantu dalam pengelolaan referensi dan tata bahasa. Konsistensi menulis dan kesiapan untuk merevisi menjadi kunci penting dalam proses ini.
Proses penulisan karya ilmiah sejatinya memberikan banyak manfaat. Mahasiswa dilatih menjadi pembelajar yang mandiri, kritis, dan bertanggung jawab secara akademik. Karya ilmiah yang dihasilkan juga dapat menjadi portofolio akademik, pendukung pengajuan beasiswa, hingga langkah awal untuk terjun ke dunia penelitian.
Penguasaan bahasa akademik juga perlu mendapat perhatian khusus. Bahasa ilmiah menuntut ketepatan istilah dan kejelasan makna. Banyak mahasiswa masih menggunakan gaya bahasa lisan atau terlalu naratif. Membiasakan diri membaca jurnal dan artikel ilmiah menjadi cara efektif untuk memahami gaya bahasa akademik yang tepat.
Motivasi dan kemampuan mengatur diri juga sangat menentukan keberhasilan dalam menulis. Tanpa disiplin dan target yang jelas, mahasiswa mudah terjebak dalam penundaan. Menulis secara konsisten, meski dalam jumlah kecil setiap hari, terbukti lebih efektif dibanding menulis dalam waktu singkat menjelang tenggat.
Peran Kampus dan Budaya Publikasi
Institusi pendidikan memiliki peran strategis dalam mendukung penulisan karya ilmiah mahasiswa. Kampus dapat menyediakan pelatihan, akses literatur, ruang diskusi, serta sistem bimbingan yang terstruktur. Lingkungan akademik yang kondusif akan mendorong mahasiswa lebih produktif dalam menulis.
Selain itu, budaya publikasi ilmiah di kalangan mahasiswa juga perlu ditingkatkan. Publikasi di jurnal, prosiding, atau media ilmiah lainnya dapat menjadi nilai tambah bagi lulusan. Melalui publikasi, mahasiswa belajar menyampaikan gagasan kepada khalayak yang lebih luas sekaligus memperkaya pengalaman akademiknya.
Menulis karya ilmiah merupakan tantangan besar, namun sekaligus peluang bagi mahasiswa untuk berkembang secara intelektual dan akademik. Berbagai kendala yang dihadapi, baik teknis maupun nonteknis, sejatinya dapat diatasi melalui dukungan institusi, bimbingan dosen yang aktif, serta motivasi dan disiplin dari diri sendiri. Ketika mahasiswa mampu melewati proses ini, mereka tidak hanya menghasilkan karya tulis yang berkualitas, tetapi juga membangun fondasi kuat untuk masa depan akademik dan profesional.
Tantangan Mahasiswa dalam Menulis Karya Ilmiah di Era Digital
Fadillah Amanda Br. Damanik
Mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam
Universitas Islam Negeri Sumatera Utara
Rabu, 21 Juli 2026
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































