Dari sekitar 98 Tenaga Pendamping Profesional (TPP) di Kabupaten Majalengka, yang “dianggap ada” lewat SK Kepala BPSDM-PMDDT Nomor 742 Tahun 2025 cuma 25 orang. Sisanya? Tetap ada, tapi statusnya mirip WiFi: tersambung tapi nggak terdeteksi sistem.
SK itu pun rapi: TA 3 orang, PD 10 orang, PLD 12 orang yang dianggap kompeten. Lengkap, presisi, seolah-olah pendamping desa di Majalengka memang cuma segitu. Yang lain mungkin dianggap magang, relawan, atau sekadar figuran pemberdayaan.
TPP yang namanya nggak muncul diarahkan klarifikasi ke Kepala BPSDM-PMDDT. Bawa bukti upload permohonan kontrak kembali, lampirkan nilai evaluasi kinerja. Pokoknya disuruh yakin bahwa sistem ini adil. Tapi setelah klarifikasi? hasilnya tetap nihil. Selebihnya dapat pengalaman spiritual: belajar ikhlas dan sabar.
Pertanyaannya sederhana tapi nyaring: bagaimana nasib TPP yang kerja serius, turun ke desa, ribut sama masalah riil, tapi tetap nggak dianggap? Kinerja ada, masa kerja jelas, administrasi lengkap. Rupanya kerja baik saja belum cukup, harus kerja “baik dan benar menurut selera”.
Lalu ada celetukan jujur tapi pahit: “Ini kan profesi “berbau politis”. Pucuk pimpinan ganti, ya bawahannya ikut diganti. Gerbong baru jalan, yang lama disuruh lompat sebelum kereta berhenti.” Dan anehnya, kalimat itu terasa lebih jujur daripada semua petunjuk teknis.
Di titik ini, masa kerja, skill, dan kompetensi cuma jadi hiasan laporan. Alat ukur utama bukan lagi kemampuan, tapi keanggotaan: kita satu kubu atau bukan. Kalau tidak satu barisan, ya siap-siap disapu bersih atas nama evaluasi.
Ketika sebuah profesi sudah terlalu kental politik, jangan mimpi profesionalisme bisa hidup lama. Semua syarat akan tunduk pada kepentingan yang lebih tinggi. Profesional itu penting, tapi loyal itu lebih penting. Ideal itu bagus, tapi aman itu lebih utama.
Ironisnya, sistem ini ramah bagi yang mau cari muka. Asal pandai menyesuaikan lidah dan arah angin, pintu akomodasi terbuka lebar. Akhirnya hidup benar-benar jadi pilihan: mau jadi manusia merdeka tapi dianggap bermasalah, atau jadi bagian dari sistem dan aman meski nurani digadaikan.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































