Setiap kali gaji masuk ke rekening, rasa lega itu datang seketika. Namun hanya beberapa hari kemudian, saldo berkurang tanpa terasa, tagihan menumpuk, dan kita pun mulai gelisah: ke mana perginya uang itu? Fenomena ini menggambarkan paradoks kehidupan finansial modern — kita bekerja keras mencari uang, tetapi sering kali gagal mengelolanya dengan tenang dan bijaksana.
Masalah keuangan masa kini jarang disebabkan oleh kurangnya pengetahuan. Sebagian besar orang tahu pentingnya menabung, berinvestasi, dan menghindari utang konsumtif. Namun, pengetahuan itu tidak selalu terwujud dalam perilaku nyata. Kita tahu yang benar, tetapi memilih yang menyenangkan. Inilah sebabnya keuangan tidak bisa hanya dijelaskan dengan logika ekonomi. Keuangan juga merupakan cerminan dari psikologi manusia — cara kita berpikir, merasa, dan bereaksi terhadap uang.
Ilmu behavioral finance lahir dari kesadaran bahwa manusia bukan makhluk yang sepenuhnya rasional. Kita sering kali dikendalikan oleh emosi, kebiasaan, dan bias-bias kognitif yang memengaruhi cara kita membuat keputusan finansial. Banyak orang membeli barang bukan karena kebutuhan, tetapi karena ingin mengobati stres atau rasa bosan. Kita merasa aman saat melihat tulisan “diskon besar-besaran,” padahal tetap mengeluarkan uang. Fasilitas cicilan dan paylater sering tampak seperti solusi, padahal sebenarnya hanya menunda rasa bersalah. Semua ini menunjukkan bahwa yang perlu dikelola bukan hanya pengeluaran, tetapi juga pikiran di balik pengeluaran itu.
Salah satu bias psikologis yang sering muncul adalah loss aversion, yakni kecenderungan manusia lebih takut kehilangan daripada terdorong untuk meraih keuntungan. Penelitian menunjukkan bahwa bias ini berpengaruh pada keputusan investasi masyarakat Indonesia, yang cenderung menghindari risiko meskipun peluang keuntungan tersedia (Putri, 2016). Bias lain adalah herd behavior, yaitu kecenderungan mengikuti perilaku orang banyak. Ketika teman-teman mulai berinvestasi di aset tertentu, kita ikut-ikutan tanpa mempertimbangkan kondisi pribadi (Putri, 2016). Selain itu, ada present bias, yakni dorongan untuk menikmati sesuatu sekarang dan menunda tanggung jawab nanti. Bias ini menjelaskan mengapa fasilitas cicilan dan paylater begitu populer — manusia secara alami lebih menghargai kepuasan jangka pendek daripada manfaat jangka panjang.
Kecenderungan perilaku semacam ini juga berkaitan dengan rendahnya literasi keuangan di masyarakat. Menurut survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun 2024, indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia mencapai 65,43%, sementara indeks inklusi keuangan mencapai 75,02% (Otoritas Jasa Keuangan, 2024). Meskipun angka ini meningkat dibandingkan survei sebelumnya, masih banyak masyarakat yang belum benar-benar memahami produk keuangan yang mereka gunakan. Bahkan, pada tahun 2022 hanya sekitar 4,11% masyarakat yang memahami produk pasar modal (The Jakarta Post, 2022). Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan tentang produk keuangan belum diikuti dengan pemahaman perilaku keuangan yang matang.
Mengelola keuangan yang sehat tidak cukup hanya dengan membuat anggaran dan menabung. Diperlukan kejujuran terhadap diri sendiri — memahami hubungan emosional kita dengan uang. Mengapa saya ingin membeli sesuatu? Apakah saya benar-benar membutuhkannya, atau sekadar ingin merasa lebih baik? Pertanyaan-pertanyaan sederhana semacam ini dapat membantu kita menyadari motif di balik setiap keputusan finansial. Orang yang mampu memahami hubungan pribadinya dengan uang akan lebih mudah mengatur keuangannya. Ia tidak melihat uang sebagai sumber kebahagiaan, melainkan sebagai alat untuk mencapai keseimbangan hidup.
Kebebasan finansial sejati bukan berarti memiliki banyak uang, melainkan tidak diperbudak oleh uang. Orang yang bijak secara finansial tahu kapan cukup, kapan menunda, dan kapan berani mengambil risiko dengan sadar. Mereka bisa menikmati hasil kerja keras tanpa kehilangan arah dan tidak merasa perlu membuktikan sesuatu lewat barang yang dimiliki.
Kita mungkin tidak bisa mengendalikan inflasi, harga pasar, atau kebijakan ekonomi global. Namun, kita selalu bisa mengendalikan satu hal: cara kita berpikir tentang uang. Dari sinilah pengelolaan keuangan yang sehat dimulai. Karena sesungguhnya, uang hanyalah cermin diri — ia memperbesar apa yang ada di dalam hati kita. Jika kita gelisah, uang memperkuat kegelisahan itu; namun jika kita tenang, uang menjadi alat untuk menciptakan kedamaian. Pada akhirnya, masalah keuangan bukan tentang seberapa besar penghasilan, melainkan seberapa bijak kita memahami diri sendiri.
Daftar Referensi
Otoritas Jasa Keuangan. (2024). OJK and Statistics Indonesia present National Survey on Financial Literacy and Inclusion 2024 findings. Retrieved from https://ojk.go.id/en/berita-dan-kegiatan/siaran-pers/Pages/OJK-And-Statistics-Indonesia-Present-National-Survey-On-Financial-Literacy-And-Inclusion-2024-Findings.aspx
Putri, A. (2016). Pengaruh loss aversion, overconfidence, dan herd behavior terhadap keputusan investasi individu di kota Batam. Jurnal Manajemen dan Bisnis Krida Wacana, Universitas Udayana. Retrieved from https://ejournal1.unud.ac.id/index.php/jmbk/article/view/2656
The Jakarta Post. (2022, November 30). Indonesians understand capital markets less despite retail investor boom: OJK. Retrieved from https://www.thejakartapost.com/paper/2022/11/30/indonesians-understand-capital-markets-less-despite-retail-investor-boom-ojk.html
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































