Di tengah ketegangan geopolitik dunia yang meningkat, AS kembali memperlihatkan dirinya sebagai kekuatan utama yang bersedia campur tangan di negara lain dengan alasan “demokrasi” dan kepentingan sendiri. Ancaman atau aksi militer AS ke Venezuela bukanlah sesuatu yang baru, tapi peningkatan terkini ini memiliki konsekuensi lebih luas, termasuk efek besar pada China. Sebagai mahasiswa komunikasi, saya anggap ini ilustrasi jelas bagaimana negara adidaya bisa merusak keseimbangan dunia, dan kita perlu menyuarakan kritik melalui media.
Venezuela, negara Amerika Latin yang kaya minyak, telah lama menjadi target sanksi dan tekanan AS. Di bawah Presiden Nicolás Maduro, AS memberlakukan sanksi ekonomi berat, seperti embargo minyak dan pembekuan aset. Tuduhan utama meliputi pelanggaran HAM, korupsi, dan penindasan oposisi. Namun, yang disebut “dukungan demokrasi” sebenarnya upaya menggulingkan pemerintah yang bertentangan dengan kepentingan AS, seperti kudeta 2019 yang didukung mantan Presiden Donald Trump.
Belakangan, ketegangan naik dengan latihan militer AS di perbatasan Kolombia-Venezuela dan ancaman intervensi langsung. Ini bukan omong kosong; AS pernah menggunakan kekuatan militer di wilayah itu, seperti invasi Panama 1989 atau dukungan kudeta Chile 1973. Di Venezuela, ini bisa picu konflik terbuka, menyebabkan krisis kemanusiaan dan destabilisasi regional.
Agresi AS ini perlu dilihat dari sudut geopolitik dan ekonomi. Venezuela bukan sekadar target lokal, tapi bagian persaingan global besar. AS menganggapnya ancaman karena aliansinya dengan China dan Rusia, yang menantang dominasi AS di Amerika Latin. Secara ekonomi, sanksi dan ancaman AS melemahkan Venezuela, tapi memberi rival AS kesempatan memperkuat posisi. Data dari Reuters menunjukkan intervensi seperti ini jarang sukses jangka panjang, malah memperburuk ketegangan regional dan global.
Sebagai mahasiswa komunikasi, saya yakin agresi AS ini bentuk imperialisme modern yang melanggar kedaulatan Venezuela dan mengancam multilateralisme internasional. Media harus aktif mengungkap fakta di balik retorika “demokrasi” AS, yang sering sembunyikan motif ekonomi dan politik. Kita perlu dorong narasi alternatif yang fokus pada dialog damai, bukan konfrontasi bersenjata
China, sebagai ekonomi terbesar dunia, terpengaruh oleh agresi AS ini. Venezuela mitra kunci dalam Belt and Road Initiative (BRI). Sejak 2007, China investasi lebih dari $60 miliar di Venezuela, utamanya minyak dan infrastruktur. Venezuela pasok minyak mentah ke China, importir terbesar dunia dengan konsumsi harian sekitar 15 juta barel.
Jika AS serang atau blokir Venezuela, pasokan minyak global terganggu. Harga minyak bisa naik tajam, pukul ekonomi China yang andalkan impor energi. Ini juga burukkan hubungan Sino-AS yang sudah tegang karena perang dagang dan rivalitas Laut China Selatan. China mungkin tingkatkan kehadiran militer di Amerika Latin untuk lindungi investasi, picu eskalasi global.
Secara geopolitik, ini kuatkan narasi bahwa AS pakai kekuatan untuk kendalikan rival. China, yang aliansi dengan Venezuela sebagai strategi anti-hegemoni AS, lihat ini ancaman langsung. Dampaknya bukan cuma ekonomi, tapi simbolis: AS siap korbankan stabilitas global demi supremasi.
Mengapa ini relevan untuk dunia dan Indonesia? Sebagai mahasiswa komunikasi, saya percaya media penting bentuk opini publik. Agresi AS di Venezuela bukan masalah lokal; ini contoh imperialisme modern yang ancam multilateralisme. Indonesia, sebagai negara berkembang, harus pelajari kita sering korban persaingan besar, seperti krisis minyak atau perdagangan.
Kita perlu dorong dialog internasional adil, bukan dominasi. Jika AS abaikan hukum internasional, seperti tolak Mahkamah Internasional, negara seperti China dan Venezuela akan bentuk aliansi tandingan. Ini bisa bawa dunia lebih terpecah, dengan risiko konflik lebih besar.
Kesimpulan
AS perlu dipertanyakan atas aksi di Venezuela, bukan cuma dampaknya pada China, tapi karena langgar kedaulatan negara. Sebagai generasi muda, kita pakai media advokasi perdamaian dan keadilan. Publikasikan opini ini sebagai langkah kecil dorong perubahan global. Jika tidak, agresi ini terus berulang, tinggalkan dunia dalam ketidakstabilan abadi.
Terimakasih
Oleh: Kenneth hagai Mahasiswa Universitas kebangsaan
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































