Musisi solo Widhi Lamong kembali menyapa publik musik Indonesia dengan karya terbarunya berjudul “Kongkalikong”. Lagu ini menjadi bentuk kritik sosial terhadap maraknya praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang dinilai semakin merajalela di Indonesia.
Pria bernama lengkap Suharjanto Widhi, kelahiran Lamongan, 2 Mei 1979, ini dikenal sebagai musisi yang konsisten mengangkat isu sosial dan politik dalam karya-karyanya. Widhi, yang akrab disapa Yak Widhi, telah menekuni dunia musik sejak duduk di bangku SMP sebagai vokalis band sekolah. Saat menempuh pendidikan di FISIP Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya, ia mendirikan Metal Jowo Band yang cukup dikenal di Surabaya.
Namun, kesibukan masing-masing personel serta jarak kerja di luar kota membuat Metal Jowo Band vakum. Widhi pun memutuskan untuk kembali aktif bermusik dengan solo karier, demi kebebasan berekspresi dan harapannya agar karya-karyanya dapat lebih luas dikenal masyarakat.
Hingga saat ini, Widhi Lamong telah menciptakan sekitar 100 lagu. Beberapa album yang pernah dirilis di antaranya album “Jaman Edan” bersama Metal Jowo Band pada 1995, album solo “Beda Rasa Beda Telinga” (2005), serta album kaset dan VCD “Revolusi Indonesia” (2010). Setelah itu, Widhi lebih fokus merilis single.
Single terbaru “Kongkalikong” menggambarkan kerasnya kritik Widhi terhadap praktik persengkokolan antara penguasa, pengusaha, dan aktor politik demi kepentingan kelompok tertentu. Lagu ini juga menyoroti oligarki, dinasti kekuasaan, politik uang, serta pencitraan palsu pejabat yang mengabaikan kepentingan rakyat dan merusak demokrasi.
“Kongkalikong ini lahir dari kegelisahan saya melihat kondisi politik Indonesia hari ini. Banyak pejabat yang hanya omon-omon, pencitraan, dan melakukan kerja sama jahat demi kekuasaan,” ujar Widhi.
Inspirasi lagu-lagu Widhi banyak bersumber dari pengalamannya sebagai aktivis sejak masa kuliah, keterlibatannya dalam gerakan reformasi, serta aktivitasnya hingga kini sebagai aktivis sosial, politik, seni budaya, dan UMKM.
Dengan aliran pop rock, Widhi Lamong berharap karyanya dapat diterima lintas generasi. Meski usia tak lagi muda, ia optimistis dapat terus berkarya dan dikenal luas, terinspirasi dari sosok Mbah Surip yang sukses di usia matang.
Untuk memviralkan lagu “Kongkalikong”, Widhi Lamong aktif melakukan promosi radio di berbagai daerah di Indonesia serta tampil di sejumlah program televisi. Seluruh karya Widhi Lamong kini dapat dinikmati di berbagai platform musik digital dan YouTube dengan nama Widhi Lamong.
Widhi berharap karya-karyanya dapat ikut mewarnai musik Indonesia, menumbuhkan kecintaan masyarakat pada lagu anak negeri, serta membawa musik Indonesia semakin maju dan mendunia.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”








































































