Pergaulan modern berkembang cepat karena hadirnya teknologi digital yang membuat orang mudah berinteraksi. Perubahan ini menghadirkan peluang sekaligus tantangan, terutama terkait etika dalam komunikasi. Artikel ini membahas etika pergaulan modern melalui pandangan Al Qur’an dan hadis. Nilai yang dibahas meliputi sopan santun, menjaga batas pergaulan, menjaga lisan, serta menjaga kehormatan diri. Pembahasan diperkuat dengan ayat Al Qur’an dan hadis sahih dari Riyadhus Shalihin dan Bulughul Maram. Artikel ini juga menguraikan tantangan pergaulan digital, serta etika yang dapat diterapkan sesuai prinsip Islam. Pembahasan diakhiri dengan penegasan urgensi etika modern dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Kata Kunci: Etika pergaulan, Al Qur’an, hadis, Era digital, Akhlak modern
Pendahuluan
Pergaulan modern tumbuh pesat bersamaan dengan perkembangan teknologi. Media sosial dan ruang percakapan digital membuat orang mudah terhubung, bahkan tanpa harus bertemu langsung. Namun perubahan ini juga menggeser banyak kebiasaan dalam berinteraksi.
Kemudahan teknologi membuat seseorang dapat berbicara bebas. Tetapi kebebasan tanpa prinsip sering berujung pada salah paham. Kadang komentar yang dimaksudkan sebagai candaan justru dianggap merendahkan. Hal-hal seperti ini menjadi bukti bahwa etika pergaulan perlu diperhatikan ulang.
Al Qur’an dan hadis menyediakan pedoman yang tetap relevan. Ajarannya tidak terpaku pada bentuk zaman, tetapi pada prinsip moral yang universal. Nilai seperti menjaga ucapan, memperlakukan orang lain dengan hormat, dan menghindari fitnah tetap memiliki tempat di dunia yang serba digital.
Banyak orang, khususnya remaja, masih bingung menentukan batas pergaulan yang tepat. Mereka ingin dekat dengan banyak orang, tetapi belum tentu memahami mana yang layak dibagikan dan bagaimana bersikap sopan dalam komunikasi digital.
Karena itu, pembahasan mengenai etika pergaulan modern penting agar setiap orang punya pegangan jelas ketika berinteraksi. Bukan untuk mengekang, tetapi untuk membentuk hubungan yang sehat dan penuh kebaikan.
Pembahasan
Pertama, Al Qur’an menekankan larangan meremehkan orang lain. Allah berfirman dalam (QS. Al Hujurat ayat 11):
( يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ )
“Wahai orang yang beriman, janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain. Boleh jadi mereka lebih baik daripada mereka.”
Ayat ini relevan dalam percakapan digital seperti komentar, unggahan, atau candaan yang bisa melukai perasaan orang lain (Kementerian Agama RI, 2019)
Kedua, hadis mengingatkan pentingnya menjaga batas pergaulan dengan lawan jenis. Dalam Riyadhus Shalihin disebutkan:
( إِيَّاكُمْ وَالدُّخُولَ عَلَى النِّسَاءِ )
“Jauhilah masuk menemui perempuan (yang bukan mahram).”
Perawi: Umar bin Khaththab
Sanad: Shahih
Hadis ini mengajarkan prinsip kehati-hatian. Di era digital, batas tersebut bisa diterapkan dengan menghindari obrolan pribadi yang tidak perlu atau pesan yang membuka peluang fitnah (An-Nawawi, 2002).
Ketiga, Islam menekankan pentingnya menjaga lisan. Nabi bersabda dalam Bulughul Maram:
( مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ )
“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata yang baik atau diam.”
Perawi: Abu Hurairah
“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata yang baik atau diam.”
Perawi: Abu Hurairah
Sanad: Muttafaqun ‘Alaih
Prinsip ini berlaku pada setiap percakapan, unggahan, dan komentar (Ibnu Hajar Al-Asqalani, 1997).
Tantangan di Era Modern
Tantangan pertama adalah kecepatan informasi. Orang sering terburu-buru merespons tanpa berpikir panjang. Komentar spontan yang kurang bijak bisa memicu konflik. Etika “berkata baik atau diam” menjadi semakin penting diterapkan dalam situasi seperti ini (Hidayat, 2021).
Tantangan kedua adalah kebiasaan membagikan hal pribadi secara berlebihan. Tidak semua aspek hidup pantas dipublikasikan. Nilai Islam menekankan menjaga kehormatan diri. Dengan menjaga privasi, seseorang melindungi dirinya dari penilaian buruk dan fitnah (Sari, 2020).
Etika Pergaulan Modern Menurut Al Qur’an dan Hadis
Etika yang diajarkan Al Qur’an dapat diterapkan langsung dalam kehidupan sekarang. Misalnya menjaga pandangan. Allah berfirman dalam QS. An Nur ayat 30–31 agar laki-laki dan perempuan menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan. Prinsip ini bisa diterapkan dengan menghindari konten yang menggoda, menjaga interaksi digital, dan tidak mencari perhatian dengan cara yang tidak pantas (Kementerian Agama RI, 2019).
Hadis juga memberi pedoman agar seseorang memuliakan saudaranya. Nabi bersabda:
( لَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَنَاجَشُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَدَابَرُوا )
“Jangan saling iri, jangan saling menipu, jangan saling membenci, dan jangan saling membelakangi.”
Perawi: Abu Hurairah
Sanad: Shahih Muslim
(Muslim, 2006)
Pesan ini sangat cocok diterapkan dalam pergaulan modern, terutama di media sosial yang sering memicu iri dan persaingan tidak sehat.
Urgensi
Etika pergaulan modern penting karena dunia digital tidak memiliki filter alami. Setiap kata dapat tersebar cepat dan berdampak besar. Tanpa pedoman yang kuat, hubungan bisa rusak, fitnah mudah muncul, dan citra diri dapat jatuh. Nilai Al Qur’an dan hadis menjadi pegangan agar interaksi tetap aman, bijak, dan saling menghargai (Rahmawati, 2022).
Studi Kasus: Etika Pergaulan Modern di Media Sosial dan Percakapan Digital
1. Kasus Komentar Kasar di Media Sosial
Seseorang mengunggah pendapat sederhana tentang pakaian yang menurutnya nyaman. Dalam hitungan menit, kolom komentar dipenuhi cemooh. Ada yang merendahkan penampilannya, ada yang menyindir, bahkan ada yang membandingkan fisiknya. Unggahan ini akhirnya membuat pemilik akun merasa tertekan dan menyesal telah membagikannya.
Jika dilihat dari pandangan Islam, perilaku para komentator bertentangan dengan (QS. Al Hujurat ayat 11) : ( لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ )
“Janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain.”
Ayat ini mengajarkan agar seseorang tidak meremehkan atau mempermalukan orang lain, termasuk melalui komentar digital. Kasus ini menunjukkan bagaimana etika pergaulan modern mudah dilanggar ketika seseorang tidak menjaga lisan atau dalam konteks digital, tidak menjaga tulisannya.
Hadis “Berkatalah baik atau diam” juga relevan. Banyak konflik di media sosial sebenarnya dapat dicegah jika orang memahami batas berbicara.
2. Kasus Chat Pribadi yang Menjadi Fitnah
Seorang mahasiswa laki-laki dan perempuan sering berkomunikasi lewat chat mengenai proyek kampus. Awalnya profesional, tetapi lama-lama percakapan mulai melebar ke hal personal. Intensitas pesan meningkat hingga lewat tengah malam. Beberapa teman mulai memperhatikan kedekatan mereka dan muncul gosip, padahal keduanya tidak memiliki hubungan yang jelas.
Kasus seperti ini menunjukkan pentingnya menjaga batas pergaulan sebagaimana diajarkan dalam hadis: ( إِيَّاكُمْ وَالدُّخُولَ عَلَى النِّسَاءِ )
“Jauhilah masuk menemui perempuan yang bukan mahram.”
Perawi: Umar bin Khaththab – Shahih
Dalam konteks modern, larangan ini bisa diterapkan dengan tidak membuka peluang fitnah melalui percakapan pribadi yang tidak perlu, tidak intens, atau terlalu personal.
Prinsip “menjaga kehormatan” sangat dibutuhkan agar hubungan tidak menimbulkan penilaian buruk dari lingkungan.
3. Kasus Oversharing yang Merugikan Diri Sendiri
Seorang remaja perempuan sering memposting foto, lokasi, dan kegiatan pribadinya setiap hari. Banyak orang yang tidak ia kenal ikut berkomentar dan mengirim pesan pribadi. Pada suatu waktu ia mengalami perundungan karena unggahannya dianggap berlebihan oleh beberapa orang. Ia menjadi stres dan menarik diri dari pergaulan.
Kasus ini berkaitan dengan pesan Al Qur’an dalam QS. An Nur ayat 30–31 tentang menjaga pandangan dan kehormatan diri. Ajaran ini tidak hanya untuk situasi tatap muka, tetapi juga untuk perilaku dalam ruang digital. Unggahan berlebihan bisa membuka pintu fitnah, iri, atau tindakan tidak etis dari orang lain.
Islam mendorong seseorang menjaga privasi dan tidak menampilkan hal yang dapat memancing pandangan buruk.
Kesimpulan
Etika pergaulan modern membantu menjaga hubungan dan kehormatan diri. Ajaran Al Qur’an dan hadis memberikan dasar yang kuat seperti menjaga lisan, menghormati orang lain, dan menahan diri dari hal yang membuka pintu fitnah. Jika nilai ini dipegang, hubungan menjadi lebih sehat dan suasana pergaulan lebih terjaga.
Dalam praktik sehari-hari, etika modern bisa diterapkan dengan hal sederhana. Misalnya berhati-hati saat berkomentar, meminta izin sebelum membagikan foto orang lain, menghindari percakapan yang tidak perlu, dan tidak membagikan hal pribadi berlebihan. Prinsip Islam seperti menundukkan pandangan, berkata baik, dan tidak meremehkan orang lain sudah cukup untuk membentuk sikap yang matang di era digital.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer































































