Belakangan ini, istilah introvert semakin sering terdengar. Banyak orang, terutama generasi muda, dengan mudah mengidentifikasi diri sebagai introvert, baik di dunia nyata maupun media sosial. Nongkrong dianggap melelahkan, interaksi sosial dikuras baterainya, dan kesendirian terasa lebih nyaman. Fenomena ini memunculkan pertanyaan menarik: apakah manusia memang semakin introvert, atau lingkungan digital yang membentuk perilaku tersebut?
Introvert Bukan Fenomena Baru
Pada dasarnya, introvert bukanlah karakter baru. Dalam psikologi, introvert adalah individu yang cenderung mendapatkan energi dari waktu sendiri dan refleksi internal, bukan dari interaksi sosial intens. Artinya, menjadi introvert bukan masalah, apalagi gangguan.
Namun, meningkatnya jumlah orang yang merasa “lebih introvert dari sebelumnya” menandakan ada faktor eksternal yang turut berperan.
Dunia Digital Mengubah Cara Bersosialisasi
Lingkungan digital menawarkan cara bersosialisasi yang minim energi: chat tanpa tatap muka, meeting tanpa harus hadir fisik, hingga hiburan yang sepenuhnya individual. Interaksi bisa dilakukan kapan saja, tanpa harus menghadapi ekspresi langsung atau tuntutan respons cepat secara emosional.
Akibatnya, banyak orang mulai merasa interaksi langsung lebih melelahkan dibanding komunikasi digital. Ini bukan berarti mereka berubah kepribadian, melainkan beradaptasi dengan lingkungan yang memudahkan jarak sosial.
Nyaman Sendiri atau Menghindari Ketidaknyamanan?
Di satu sisi, meningkatnya preferensi untuk menyendiri bisa dibaca sebagai kesadaran batas diri. Orang lebih peka terhadap kebutuhan mentalnya dan tidak memaksakan diri untuk selalu sosial.
Namun di sisi lain, ada risiko bahwa “introvert” dijadikan label untuk menghindari ketidaknyamanan sosial. Padahal, kemampuan berinteraksi tetap penting untuk membangun relasi, empati, dan keterampilan hidup.
Kepribadian Tidak Sesederhana Label
Penting untuk diingat bahwa kepribadian bersifat spektrum, bukan kotak hitam-putih. Seseorang bisa menikmati waktu sendiri sekaligus mampu bersosialisasi dengan baik.
Lingkungan digital mungkin memperkuat kecenderungan introversi, tetapi bukan berarti mengubah sifat dasar manusia secara mutlak.
Kesimpulan
Fenomena semakin banyak orang merasa introvert adalah hasil pertemuan antara sifat alami manusia dan perubahan lingkungan sosial digital. Teknologi memberi ruang nyaman untuk menyendiri, sekaligus mengurangi intensitas interaksi langsung.
Menjadi introvert bukan masalah. Namun yang perlu dijaga adalah keseimbangan antara menikmati waktu sendiri dan tetap terhubung dengan dunia nyata. Karena pada akhirnya, manusia tetap makhluk sosial, meski caranya berinteraksi terus berevolusi.
Penulis: Enjelin Amanda Dewi
Sumber gambar: canva.com
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































