Di tengah kehidupan yang semakin dipenuhi teknologi, masyarakat Indonesia kini berada pada sebuah persimpangan penting. Platform digital berkembang tanpa henti—fitur baru hadir setiap bulan, aplikasi semakin cerdas, dan dunia kerja berubah cepat mengikuti arus teknologi. Namun, di balik gemerlap kemajuan itu, muncul satu pertanyaan besar: apakah keterampilan masyarakat ikut bergerak secepat teknologinya?
Banyak orang kini menghabiskan sebagian besar aktivitasnya di ruang digital. Belanja, belajar, bekerja, hingga berkomunikasi dilakukan melalui layar. Tetapi ketika fitur keamanan baru muncul atau aturan privasi berubah, tidak sedikit pengguna yang kebingungan. Berita mengenai penipuan digital dan penyebaran informasi palsu semakin sering bermunculan, menandakan bahwa kecakapan digital belum menjadi skill yang benar-benar dikuasai semua orang.
Sejumlah penelitian nasional menunjukkan bahwa sebagian besar pengguna internet di Indonesia belum memahami cara dasar melindungi data pribadi. Mereka menggunakan teknologi setiap hari, namun hanya sebagai pengguna pasif mengklik, mengunduh, atau membagikan tanpa benar-benar memahami cara kerja sistem di baliknya. Di sisi lain, dunia kini memasuki fase baru: era kecerdasan buatan, yang bukan hanya menawarkan kemudahan, tetapi juga menuntut kemampuan berpikir kritis, membaca informasi dengan cermat, dan memahami etika digital.
Di sebuah wawancara, peneliti literasi digital, Dina Utami, menyampaikan bahwa keterampilan utama di zaman ini bukan lagi sekadar “bisa pakai teknologi”. Lebih dari itu, masyarakat perlu mampu menilai informasi, menjaga jejak digital, dan memahami konsekuensi dari setiap tindakan di dunia maya. “Teknologi bergerak cepat, tapi edukasinya tertinggal. Tanpa literasi digital yang kuat, pengguna mudah menjadi korban,” ujarnya.
Di beberapa kota besar, perusahaan teknologi mulai menyelenggarakan pelatihan daring tentang coding dasar, penggunaan AI, dan keamanan digital. Sementara itu, sekolah-sekolah mulai memperkenalkan keterampilan abad 21 seperti komunikasi, kolaborasi, dan kreativitas. Namun, akses yang belum merata membuat sebagian masyarakat tertinggal, terutama mereka yang berada jauh dari pusat pendidikan.
Pada akhirnya, skill wajib di era sekarang bukan hanya kemampuan mengoperasikan perangkat, tetapi kemampuan memahami dunia digital secara menyeluruh. Keterampilan seperti berpikir kritis, literasi digital, kecakapan komunikasi, adaptasi, dan kesadaran keamanan siber kini menjadi fondasi penting agar masyarakat tidak sekadar ikut arus, tetapi mampu bertahan dan berkembang dalam era yang terus berubah.
Era ini memang membuka banyak peluang, tetapi hanya bagi mereka yang siap. Bagi yang tidak, laju teknologi bisa terasa terlalu cepat, seperti kereta yang terus melaju sementara sebagian penumpangnya masih berdiri di peron, menunggu dipanggil untuk ikut serta.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































