Keraton Kaibon merupakan salah satu situs bersejarah peninggalan Kesultanan Banten yang terletak di wilayah Kasemen, Kota Serang, Provinsi Banten. Keraton ini dibangun pada awal abad ke-19, sekitar tahun 1815 M, pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Syafiuddin, sultan terakhir Kesultanan Banten. Keraton Kaibon Didirikan sebagai kediaman Ratu Aisyah, ibu sultan, sehingga nama “Kaibon” berasal dari kata keibuan, yang menegaskan fungsinya sebagai tempat tinggal tokoh perempuan utama dalam struktur kerajaan Islam Banten.
Dari sisi arsitektur, Keraton Kaibon menampilkan bentuk bangunan yang sederhana namun sarat makna. Struktur bangunannya mencerminkan perpaduan antara tradisi arsitektur Islam dan lokal Banten, dengan penggunaan material batu bata merah dan batu karang. Tata ruang keraton terdiri atas gerbang, halaman, bangunan inti, serta kolam dan saluran air yang berfungsi sebagai penunjang kebersihan dan simbol kesucian. Penataan ruang yang simetris dan tertata menunjukkan nilai keseimbangan, keselarasan, dan ketenangan, sesuai dengan fungsi keraton sebagai tempat tinggal bangsawan perempuan.
Dalam konteks sejarah Islam Banten, Keraton Kaibon memiliki peran penting sebagai bagian dari lingkungan istana yang menopang kehidupan spiritual dan moral kesultanan. Keberadaan keraton ini mencerminkan penghormatan terhadap peran perempuan dalam tradisi Islam lokal, khususnya sebagai figur pendidik dan penjaga nilai-nilai keagamaan di lingkungan kerajaan. Keraton Kaibon menjadi simbol kuat keterpaduan antara Islam, adat, dan struktur sosial masyarakat Banten pada masa itu.
Keberadaan Keraton Kaibon tidak terlepas dari dinamika kolonialisme Belanda di Banten. Pada tahun 1832, setelah Kesultanan Banten dibubarkan oleh pemerintah kolonial, Keraton Kaibon dihancurkan sebagai bagian dari upaya penghapusan simbol kekuasaan dan identitas politik kesultanan. Saat ini, yang tersisa dari Keraton Kaibon hanyalah berupa tembok, gerbang, dan fondasi bangunan. Meskipun demikian, situs ini tetap memiliki nilai sejarah dan simbolik yang tinggi sebagai penanda berakhirnya Kesultanan Banten sekaligus sebagai pengingat akan perlawanan budaya lokal masyarakat terhadap dominasi kolonial.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer


































































