Pagi itu, ketika matahari masih sibuk malas-malasan di balik ufuk, aku sudah melaju ke sawah dengan motor supra. Motor tua, tapi setia. Yang nggak setia cuma mataku—minusnya kebangetan.
Di tengah jalan, samar-samar kulihat seorang pria paruh baya sedang asyik memungut keong di sawah. Dari postur tubuh, gaya berdiri, dan aura “warga kampung produktif”, aku langsung yakin.
“Ali… li… lagi luru keong tah!” teriakku penuh percaya diri.
Pria itu menoleh. Tatapannya kosong. Wajahnya asing. Bukan Ali. Bukan siapa-siapa yang kukenal.
Detik itu juga, jantungku copot setengah.
“Aduh… salah orang,” gumamku dalam hati, sambil pura-pura sok ramah.
Karena tidak ada tombol undo di dunia nyata, aku mengeluarkan jurus pamungkas: senyum tanpa dosa, lalu gas tipis sambil kabur terhormat.
Ya beginilah hidup orang bermata minus. Kacamata ketinggalan, dunia langsung berubah fungsi. Jangankan salah manggil orang, kotoran ayam di jalan pun bisa terlihat seperti kacang telur. Mau diambil, eh pas dideketin… astaghfirullah.
Derita ini makin lengkap karena mataku butuh metode ilmiah khusus: jurus 3D—Dilihat, Ditrawang, Diraba. Mirip orang neliti uang gto, bedanya ini neliti realita.
Tantangan terbesar datang saat malam hari dan hujan. Naik motor rasanya seperti main game level ekstrem. Pandangan cuma sebatas lampu merah di depan. Sisanya gelap, buram, dan penuh imajinasi. Berkendara bukan pakai mata lagi, tapi pakai feeling dan doa ibu.
Jadi mohon dimaklumi ya, gaes. Kalau ada cowok atau cewek berkacamata ketemu di jalan tapi nggak nyapa duluan, bukan sombong. Bisa jadi… dia cuma takut salah sapa lagi.
Dan satu pesan penting: kalau lagi dibonceng orang berkacamata di malam hujan, jangan pernah minta ngebut. Karena yang pegang setang itu lagi nyetir pakai firasat.
Beginilah sekelumit perjuanganku sebagai pria berkacamata.
Kalau bro n sist punya cerita konyol juga, ayo tuangkan dalam tulisan.
Karena menulis itu asyik… dan bisa jadi terapi mata minus juga 😜👓✍️
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































