Lumajang, Jawa Timur — Suasana pagi yang semula tenang berubah mencekam dalam sekejap. Pada pukul 07.42 WIB, Gunung Semeru — sang Mahameru yang selama berhari-hari menunjukkan gelisah — akhirnya meletus dengan kekuatan yang menggetarkan udara dan tanah di lerengnya. Dari puncaknya, kolom abu raksasa membubung tinggi, menghitamkan langit dan memaksa ribuan warga menoleh dengan rasa gentar yang sulit disembunyikan.
Dari kejauhan, suara gemuruh terdengar seperti tarikan napas panjang bumi sebelum melepaskan ledakan besar. Asap kelabu pekat menggulung, menutupi matahari hingga cahaya pagi meredup seolah memasuki malam kedua.
Langit Seperti Turun’, Cerita Warga yang Panik
Di Desa Supiturang, hujan abu turun begitu deras hingga dedaunan berubah menjadi putih keabu-abuan dalam hitungan menit.
“Langit seperti turun… gelap sekali. Anak-anak langsung kami masukkan ke dalam rumah,” tutur Sulastri, seorang warga yang kami temui dalam kondisi terburu-buru menutup ventilasi rumahnya.
Di sejumlah titik, warga memilih mengungsi mandiri ke balai desa setelah mendengar dentuman yang disebut “paling keras dalam beberapa bulan terakhir”.
PVMBG: Aktivitas Vulkanik Meningkat Drastis
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi mengonfirmasi bahwa aktivitas Semeru telah meningkat tajam sejak akhir pekan. Instrumen seismik mencatat tremor menerus, dan tekanan gas yang menumpuk akhirnya memicu erupsi eksplosif.
“Kami meminta warga untuk menjauhi radius 5 kilometer dari kawah Jonggring Seloko. Ada potensi guguran lava pijar dan awan panas yang dapat terjadi sewaktu-waktu,” ujar Kepala Pos Pengamatan Semeru dalam pernyataan tertulis yang dirilis beberapa saat setelah erupsi.
Tim pemantau menegaskan bahwa kondisi gunung masih belum stabil dan kemungkinan erupsi susulan cukup tinggi.
Evakuasi Siaga, Tim Gabungan Terjaga Semalam Suntuk
Personel BPBD, TNI, Polri, dan relawan telah ditempatkan di sejumlah pos siaga. Mobil bak terbuka hilir-mudik membawa masker, selimut, serta peralatan dasar untuk warga.
Generator disiapkan di posko pengungsian karena aliran listrik di beberapa titik sempat padam akibat hujan abu yang menebal.
“Kami siap bergerak kapan saja. Prioritas kami adalah jalur Pronojiwo–Candipuro karena itu yang paling rawan tertutup material guguran,” ujar Komandan Pos SAR setempat.
Semeru: Keagungan yang Selalu Punya Harga
Sebagai gunung tertinggi di Pulau Jawa, Semeru selalu memikat dengan keindahannya. Namun hari ini ia kembali menunjukkan sisi lain: kekuatan purba yang tidak bisa diprediksi manusia.
Walau belum ada laporan korban jiwa, kepulan abu yang terus membumbung dan getaran yang bertahan hingga sore hari membuat banyak warga memilih bertahan di tempat pengungsian. Anak-anak duduk memeluk tas sekolah mereka, sementara orang tua menatap ke arah gunung—seolah meminta jawaban yang takkan pernah diberikan alam.
Hingga malam tiba, Semeru masih mengepulkan asap. Lampu-lampu di pos pengungsian tetap menyala, dan para relawan berjaga, sadar bahwa gunung yang kini gelap di kejauhan bisa kembali menghembuskan amarahnya kapan saja.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”







































































