Menikmati sisi romantis Jakarta di kala senja
Di balik hiruk-pikuk kemacetan jalan raya kota metropolitan, Jakarta menyimpan sisi romantis yang kerap kali terlewatkan. Liburan akhir tahun ini akan menjadi momen tepat untuk menikmati wajah ibu kota yang tenang melalui narasi sejarah dan semilir angin sore dari atas dek bus terbuka. Pengalaman magis ini menyatukan masa lalu dan masa kini dalam sebuah perjalanan yang sulit dilupakan.
1. Keliling kota pakai teknologi silent headphones

- Tur ini dikelola oleh Transjakarta lewat OpenTop Tours dengan titik keberangkatan dari kawasan Pos Bloc, Jakarta.
- Wisatawan diajak menaiki bus tingkat dengan atap terbuka yang memberikan pemandangan luas 360 derajat.
- Daya tarik utamanya adalah penggunaan silent headphones yang membuat narasi sejarah terdengar jernih di telinga.
- Meski lalu lintas sedang ramai, penumpang tetap bisa fokus menyimak cerita tanpa gangguan bising klakson dari luar.
- Dengan harga Rp.50.000; Wisatawan akan mengelilingi ibukota jakarta selama 60 menit
- Tiket dapat dipesan melalui aplikasi Transjakarta yang tersedia di App Store/Play Store
2. Melewati deretan arsitektur ikonik yang bersejarah

- Perjalanan dimulai dengan melihat harmonisnya Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral yang berdiri berdampingan.
- Bus akan membawa kita menyusuri pusat kota, melewati Gereja Immanuel yang klasik dan gedung penting seperti Galeri Nasional serta Balai Kota.
- Rute ini juga menyapa kemegahan Istana Negara, Museum Nasional, Gedung Pancasila hingga suasana asri di sekitar Lapangan Banteng
3. Spot foto eksklusif tepat di depan Monas

- Puncak tur ini adalah saat armada bus berhenti sejenak tepat di depan Plaza Selatan Monas.
- Wisatawan tidak perlu turun, cukup tetap duduk nyaman di atap terbuka untuk menikmati pemandangan.
- Dari ketinggian dek bus, pengunjung bisa leluasa mengambil foto dengan latar Monas yang menjulang tinggi tanpa terhalang keramaian orang di bawah.
4. Apresiasi Wisatawan Luar Kota dan Nilai Ekonomis

- Seorang Wisatawan asal Bandung, Firgi, memberikan testimoni positif mengenai perbedaan nuansa tur ini dibandingkan bus wisata di kota asalnya
- ia sangat terkesan akan kejernihan suara dari headphone terutama saat melintasi kawasan Patung Kuda.
- Dengan harga tiket sebesar Rp 50.000, pengalaman ini menurutnya dinilai sangat sepadan karena fasilitas nyaman dan pengalaman eksklusif yang ditawarkan oleh transjakarta.
5. Menggabungkan Makna bagi Warga Asli Jakarta

- Eva, seorang warga asli Jakarta, merasakan tur ini membantunya untuk kembali “melihat” bangunan yang selama ini hanya ia lewati setiap hari.
- Momen yang paling menyentuh baginya adalah saat melintas di depan Masjid Istiqlal sambil mendengarkan detail sejarah dan nilai toleransi di balik bangunan tersebut.
- Pengalaman tersebut memberikan perasaan haru dan sudut pandang baru terhadap identitas kotanya sendiri
Tur “Jakarta Heritage” Kini Berhasil mematahkan sebuah anggapan bahwa tur sejarah itu membosankan dengan mengubah ibu kota menjadi sebuah museum raksasa. ini merupakan pengalaman yang luar biasa dimana masa lalu dan masa kini duduk bersaman dalam sebuah perjalanan selama 60 menit yang tidak dapat dilupakan
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”









































































